Career Coach

Me Incorporation!

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk memberikan pelatihan dihadapan para trainers tentang personal branding. Pada training ini saya menekankan pada paradigma baru dalam membangun kepercayaan tanpa batas kepada sebanyak mungkin orang-orang dan pihak-pihak dimana kita melakukan interaksi dengannya. Trainers, sama halnya dengan profesi lainnya seperti arsitek, ahli keuangan, IT programmer, marketer, guru, terapis, konsultan, pengacara, penulis, pemain film, dan banyak lainnya perlu membangun kepercayaan kepada orang-orang yang menerima jasa mereka atau customer mereka dan pihak-pihak yang dapat memberikan kita kesempatan yang kita butuhkan.

 

Para pihak inilah yang harus percaya dan yakin akan pengetahuan, kemampuan, kualitas, dan kinerja anda sehingga mereka akan terus menerus mempercayakan kebutuhan, keinginan, dan harapannya kepada diri anda. Disinilah aktivitas personal branding mampu berperan bagi pencapaian tujuan dan keberhasilan anda dengan membangun dan memiliki samudera kepercayaan tanpa batas dari customer serta pihak-pihak yang bisa memberikan anda kesempatan yang anda inginkan.

 

Salah satu presentasi saya dalam training tersebut adalah bagaimana kita harus memandang diri kita jauh lebih berharga dari apa yang kita pikirkan saat ini. Dengan kita memandang diri kita luar biasa berharga maka kita akan cenderung mengelola potensi dan sumber daya dalam diri kita lebih baik dan efektif. Melalui potensi dan sumber daya yang dimiliki, kita bisa menciptakan proses yang menghasilkan pengalaman yang menyenangkan serta outcomes atau kinerja yang dibutuhkan, diinginkan dan diharapkan oleh customer kita.

 

Pengalaman yang menyenangkan dan outcomes yang dihasilkan adalah bagian dari produk yang kita hasilkan bahkan keseluruhan diri kita adalah produk. Layaknya produk yang kita temui dan konsumsi dalam keseharian kita. Oleh karena itu mengelola diri kita yang luar biasa berharga ini bisa ibaratkan seperti mengelola sebuah perusahaan. Inilah yang saya tekankan kepada para trainers dalam pelatihan saya beberapa waktu yang lalu.

 

Ketika diri kita adalah sebuah produk yang harus dikelola dengan baik dan efektif, lalu siapa yang seharusnya mengendalikan dan mengoptimalkan produk ini agar bisa memberikan manfaat optimal kepada customer?  Jawabannya jelas kita sendiri, bukan orang-orang diluar diri kita.

 

Ibaratkan diri kita sebagai sebuah perusahaan yang mengelola produknya sebaik dan seefektif mungkin agar bisa diterima dan dipercaya oleh customer sehingga sehingga akan selalu mempercayakan pemenuhan kebutuhan, keinginan dan harapannya pada diri kita. Kita adalah perusahaan bagi diri kita sendiri. Kita semua memiliki perusahaan yaitu PT. diri saya sendiri atau me incorporation.

 

Apapun profesi yang kita jalani, apapun jabatan yang kita sandang, apapun yang kita hasilkan dan apapun situasi yang kita hadapi, sesungguhnya kita adalah pemimpin PT. diri saya sendiri atau me incorporation. Berulangkali saya menekankan hal ini kepada para peserta agar mereka mengubah cara berpikir mereka akan diri mereka sendiri.

 

Saya pun menjelaskan kepada mereka bahwa sebagai pemimpin me incorporation, mereka juga memiliki peran ganda sebagai manajer. Siapa pemimpin me incorporation? Anda! Siapa marketing manager dari me incorporation? Anda! Siapa operational manager dari me incorporation? Anda! Siapa business development manager dari me incorporation? Anda! Dan seterusnya. Menariknya hal ini mendapat respon yang bagus dari peserta. Seakan-akan mereka mendapatkan paradigma baru bagaimana cara memandang dan mengelola diri mereka sebaik dan seefektif mungkin. Pada kesempatan berikutnya, saya akan membuat tulisan tentang bagaimana kita memainkan peran kita sebagai pemimpin sekaligus manager bagi me incorporation. Nantikan tulisan saya berikutnya!

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - January 30, 2010 at 1:13 am

Categories: Career Coach   Tags:

Menjadi Pribadi Yang Lebih Persuasif & Mampu Mempengaruhi Orang Lain

manajemen[1]Kita tidak mungkin mampu hidup seorang diri karena pada hakekatnya manusia adalah mahluk yang interdependensi. Ia merupakan mahkluk yang mandiri tapi sekaligus juga membutuhkan bantuan orang lain dalam berbagai aktivitas dalam kehidupannya. Dalam kehidupan sosial maupun kehidupan karir kita sama-sama membutuhkan keterlibatan orang lain dalam hal-hal yang kita lakukan. Bahkan pencapaian tujuan kita juga amat dipengaruhi oleh bagaimana kita bisa mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari orang lain.

 

Kinerja seorang Manajer amat dipengaruhi oleh bagaimana ia bisa memotivasi, mempengaruhi dan membujuk anak buahnya untuk bekerja dengan baik dan optimal. Target penjualan seorang salesman amat ditentukan oleh bagaimana ia mampu membujuk dan mempengaruhi calon pelanggannya untuk membeli atau menggunakan produk yang ditawarkannya. Reputasi seorang guru sedikit banyak ditentukan oleh prestasi anak didiknya dimana ia mampu mempengaruhi dan memotivasi anak didiknya untuk mempelajari dan memahami dengan baik materi yang telah diajarkan. Keberhasilan orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya ditentukan oleh seberapa baik mereka mampu mempengaruhi dan membujuk anak-anaknya untuk berprestasi, menjadi diri sendiri, patuh terhadap perintah orang tua dan taat menjalankan ibadah.

 

Dalam kehidupan ini tidak semua orang langsung menyetujui apa yang kita katakan, apa yang kita tawarkan, apa yang kita perintahkan dan apa yang kita jual. Agar orang lain mau menerima apa yang kita perintahkan atau tawarkan maka kita harus memperhatikan cara-cara bagaimana kita mampu membujuk, memotivasi, mempengaruhi, dan menjual diri kita dengan dengan baik. Kita harus mampu menciptakan suatu gambaran dalam pikiran orang lain – anak buah, atasan, pelanggan, orang tua, teman – untuk merangsang imajinasi mereka.

 

Sebuah cerita bisa membosankan dan tidak menarik sama sekali atau bisa jadi menjadi suatu kenyataan. Berikut adalah beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebelum kita mulai mempresentasikan hal-hal tertentu yang mampu membujuk orang lain untuk menerima apa yang kita tawarkan, antara lain :

 

Pertama, Apa yang bisa dijadikan sebagai pernyataan yang menyentuh hati dari suatu tujuan dan situasi yang dicapai, maupun feature serta benefit dari suatu produk?

 

Kedua, Apa yang bisa menjadi daya tarik visual dari presentasi atau penjelasan kita yang berkaitan dengan feature dan benefit yang dapat mengarahkan pikiran orang lain sesuai yang kita inginkan?

 

Tiga, Pertanyaan penting apakah yang dapat saya tanyakan mengenai presentasi saya yang mampu mengarahkan pikiran orang lain sesuai dengan yang saya inginkan?

 

Empat, Kisah-kisah atau pengalaman sukses apakah yang mampu menarik perhatian orang lain yang dapat saya berikan yang mampu menjawab klaim saya atas apa yang saya tawarkan atau perintahkan?

 

Lima, Testimoni terbaik dan menarik manakah yang bisa saya jelaskan yang mampu menarik perhatian baik karena orang yang memberikan testimoni tersebut atau isi dari testimoni tersebut?

 

Enam, Tindakan dan aksi yang menarik dan dramatis apakah yang dapat saya tunjukkan untuk mengesankan orang lain berkaitan dengan apa yang saya tawarkan atau perintahkan?

 

Tujuh,  Apa yang menjadi logika  pendorong yang dapat saya temukan untuk menghubungkan antara feature dan benefit dari apa yang saya tawarkan atau apa yang saya perintah dengan situasi atau apa yang diinginkan oleh orang lain?

 

Delapan, Demo atau pembuktian seperti apa yang bisa saya lakukan berkaitan dengan apa yang saya tawarkan atau perintahkan?

 

Sembilan,  Partisipasi seperti apakah yang orang lain bisa terlibat berkaitan dengan apa yang saya tawarkan atau apa yang saya perintahkan sehingga mereka bisa menjadi bagian dari situasi tersebut?

 

Sepuluh,  Hal-hal apa yang bisa saya rekomendasikan kepada orang lain untuk dicoba terlebih dahulu atas apa yang saya tawarkan atau minta?

 

Ingat, seringkali kita hanya memiliki satu kali kesempatan untuk membuat orang lain terkesan. Oleh karena itu persiapkan dengan sebaik-baiknya ketika anda ingin mempengaruhi orang lain dan jangan pernah membuang kesempatan berharga ini.

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - December 13, 2009 at 1:18 pm

Categories: Career Coach   Tags:

Bekerja Atau Berkarir ?

Banyak diantara kita yang mengganggap bekerja sama dengan berkarir. Saya pernah beberapa kali menemukan orang-orang yang beranggapan seperti ini. Kekeliruan dalam membedakan 2 (dua) hal ini bisa mempengaruhi cara pandang kita dalam bekerja dan menjalani karir.

 

Bekerja mengarah pada pengertian serangkaian tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Bagaimana suatu tugas dan tanggung jawab di selesaikan sesuai tujuan dan saran yang ditetapkan. Umumnya orang yang fokus pada pekerjaannya hanya memusatkan perhatiannya kepada proses penyelesaian tugas.

 

Mereka lebih suka bekerja berdasarkan suatu standard operating procedure atau tata cara yang telah ditentukan oleh organisasi. Orang-orang yang fokus pada pekerjaan biasanya larut dalam pekerjaannya. Mereka dikuasai oleh pekerjaannya. Mereka membiarkan dirinya dikendalikan oleh deadline dan day to day activities yang itu-itu saja.

 

Mereka hanya bekerja dan bekerja, namun tidak memperhatikan hal-hal seperti attitude, skills, melayani sesama, berorientasi solusi, memperhatikan etika kerja maupun profesi, dan lainnya. Bagi mereka pindah bidang pekerjaan adalah hal yang biasa ketika ada bidang pekerjaan tertentu yang lebih menarik. Lama waktu menggeluti suatu bidang pekerjaan tidak selalu membuat mereka berkembang dan sangat memahami bidang tersebut. Selintas inilah sekelumit gambaran mengenai karakteristik individu yang berorientasi pada pekerjaan.

 

Pekerjaan yang kita jalani bukanlah karir kita. Bisa dikatakan karir merupakan serangkaian pekerjaan yang kita jalani dalam periode waktu. Lalu apa bedanya kita bekerja dengan kita berkarir? Sepintas memang sama, namun apabila kita telaah lebih dalam maka jelas ada perbedaan diantara keduanya.

 

Individu yang fokus pada pekerjaannya memiliki ciri-ciri yang telah dijelaskan diatas. Sedangkan indvidu yang fokus dan berorientasi pada karir memiliki cara pandang dan action yang lebih baik. Ketika seseorang memutuskan untuk berkarir pada suatu bidang profesi seperti pemasaran, public relation, hukum, arsitektur, desain grafis dan banyak lainnya, maka mereka memiliki ketertarikan luar biasa pada bidang tersebut. Ketertarikan luar biasa tersebut tercipta karena kecintaan mereka pada bidang profesi tersebut.

 

Mereka memiliki passion yang mendalam akan profesi dan bidang karirnya. Mereka tidak hanya bekerja namun lebih dari itu mereka selalu berupaya mengeluarkan segala potensi yang dimiliki untuk secara optimal menghasilkan kinerja terbaik pada bidang profesinya tersebut. Mereka tidak terperangkap dalam rutinitas pekerjaan, namun mereka selalu berupaya mengeksplorasi setiap tugas dan tanggung jawabnya untuk menciptakan nilai tambah.

 

Individu yang fokus untuk berkarir pada suatu bidang tertentu apabila mendapat kesempatan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab yang baru  akan memilih untuk mengeksplorasi tugas dan tanggung jawab yang masih berhubungan dengan bidang yang menjadi ketertarikannya. Mereka umumnya tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh pekerjaan. Sebaliknya mereka selalu bisa membagi waktu antara karir dengan kehidupan pribadinya namun tetap menghasilkan kinerja terbaik. Tolak ukur keberhasilan mereka tidak selalu diukur dengan jumlah materi, jabatan dan kekuasaan yang mampu mereka raih, namun lebih dari itu apakah mereka telah menghasilkan suatu perubahan dan kinerja terbaik pada bidang karirnya tersebut.

 

Mulailah untuk menjalani profesi kita saat ini sebagai bagian dari karir bukan semata sebagai sebuah pekerjaan.

Milikilah cara pandang bahwa pekerjaan saat ini adalah bagian dari sebuah perjalanan karir bulan suatu media untuk mengeruk sebanyak mungkin materi dan mendapatkan setinggi mungkin kekuasaan dan jabatan.

Yakinlah mulai saat ini bahwa materi, jabatan dan kekuasaan hanyalah akibat dari kecintaan anda pada profesi dan bidang karir anda saat ini dan serangkaian kinerja dan nilai tambah yang anda ciptakan pada periode karir anda.

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - October 29, 2009 at 4:36 am

Categories: Career Coach   Tags:

Mengembangkan Kualitas Soft Skill

Sejak awal kita bersekolah sampai dengan menjadi mahasiswa, kita sudah kenyang mempelajari begitu banyak pengetahuan dan keahlian yang sifatnya know-how dan tehnis. Bagi yang berlatar belakang pendidikan di bidang kedokteran, mereka sudah diajari a-z mengenai tehnis dan know-how kedokteran berikut spesialisasi yang dipilih. Bagi yang bersekolah di bidang hukum, mereka sudah mendapatkan a-z mengenai seluk beluk dunia dan praktek hukum. Bagi yang berlatar belakang pendidikan di bidang perhotelan, mereka sudah mendapatkan a-z pengetahuan dan keahlian hospitality industry. Bagi mereka yang bersekolah di bidang perbankan, mereka sudah mendapatkan a-z pengetahuan dan keahlian menjadi bangkir berkualitas baik.

 

Hampir seluruh pendidikan yang kita dapatkan ketika bersekolah adalah cara melakukan, mengoperasikan, mengimplementasikan, penanganan, dan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan tehnis dan hal utama dari disiplin ilmu. Semua yang kita pelajari ketika bersekolah terutama ketika di kampus hampir seluruhnya tergolong sebagai hard skill.

 

Suatu keahlian atau kemampuan untuk menghasilkan, mengubah, mengoperasikan, mengimplementasikan, dan mempergunakan suatu hal tertentu. Hard skill biasanya mudah terlihat ketika kita sedang melakukan atau mengerjakan suatu aktivitas atau pekerjaan. Keahlian atau kemampuan utama yang dibutuhkan seseorang untuk bisa bekerja dengan baik dan sesuai standar yang telah ditentukan.

 

Kecenderungan sekolah atau universitas lebih mengutamakan hard skill dalam setiap materi pengajarannya karena memang dunia pendidikan sejak awal lebih fokus mengajarkan siswanya dengan hard skill. Dunia bisnis maupun perusahaan-perusahaan lebih mengutamakan hard skill sehingga dunia pendidikan berupaya untuk memfokuskan materi pengajarannya kepada hard skills. Namun sesungguhnya ada yang terlewat dari situasi ini.

 

Setiap kesuksesan, setiap keberhasilan selalu memiliki beberapa variabel yang saling melengkapi satu sama lain. Tidak ada kesuksesan maupun keberhasilan dalam mencapai tujuan hanya ditentukan oleh satu variabel saja. Mencapai kesuksesan merupakan hasil dari proses optimalisasi berbagai variabel yang dibutuhkan untuk mencapai sukses. Selama ini kita terlalu fokus kepada hard skill saja, padahal memfokuskan semata-mata pada hard skill saja tidak akan cukup untuk membawa kita mencapai keberhasilan.

 

Apabila kita lebih jeli lagi melihat berbagai kasus yang terjadi, orang-orang yang berhasil mencapai tujuannya selalu melengkapi dirinya dengan hard skill dan soft skill.  Soft skill adalah salah satu bentuk kemampuan atau keahlian yang tidak mudah untuk dilihat atau diidentifikasi dengan kasat mata. Soft skill sangat mendukung implementasi dari hard skill. Orang akan sulit mencapai keberhasilan apabila hanya mengandalkan soft skill, dan begitu juga sebaliknya apabila seseorang tidak dilengkapi dengan soft skill yang memadai maka kesuksesan akan sulit dicapai. Banyak orang yang  hard skill-nya bagus dan tapi amburadul dalam berkomunikasi sehingga mampu menimbulkan konflik. Orang yang hard skill-nya hebat tapi tidak pernah mau belajar karena merasa dirinya paling hebat. Orang seperti ini sesungguhnya sedang berjalan ditempat.

 

Sudah saatnya kita memperhatikan soft skill yang amat berperan dalam karir kita. Banyak individu yang meremehkan soft skill karena memang sejak dini mereka tidak pernah difokuskan untuk mendalami berbagai soft skill yang dibutuhkan dalam menjalani hidup maupun dalam berkarir.

 

Oleh karena itu banyak orang terhambat promosinya ketika berkarir, terjebak dalam konflik yang tidak kunjung selesai, tidak dipercaya oleh banyak orang, dan banyak hal lainnya karena semata-mata mereka hanya mengandalkan hard skill saja.

 

Yang perlu diingat bahwa sudah semakin banyak orang yang memiliki hard skill yang bagus sehingga persaingan antar individu yang hanya mengandalkan hard skill semata berlangsung sangat ketat. Terlebih saat ini kita bisa dengan mudah mengembangkan hard skill kita baik melalui internet maupun melalui media cetak maupun tulis.

 

Agar kita tetap kompetitif dan berbeda dengan individu lain yang hanya mengandalkan hard skill, kita perlu melengkapi hard skill kita dengan serangkaian soft skill yang menunjang karir kita.

 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila kita ingin mengakuisisi beberapa soft skill yang dibutuhkan dalam aktivitas yang kita lakukan. Pertama mempraktekkannya dalam dunia nyata. Individu harus berada pada situasi “belajar sambil melakukan”, karena dengan begitu kita tahu bagaimana soft skill tersebut digunakan atau di pacu dengan kecepatan penuh atau cukup pada tingkatan sedang sesuai situasi yang kita hadapi serta tugas dan tanggung jawab yang di emban. “Practice make perfect”. Setiap peningkatan hard skill yang anda miliki, tidak memiliki nilai tambah tanpa disertai soft skill yang menajamkan hard skill tersebut.

 

Kedua, cari, pilih dan tetapkan individu sebagai pembanding atau temukan role model anda. Tetaplah menjadi diri sendiri karena setiap individu memiliki keunikan masing-masing. Role model hanya sebagai benchmark anda untuk menjadi sukses. Role model haruslah orang-orang yang telah diakui kredibilitasnya oleh lingkungan sekitar. Perhatikan dan pelajari faktor-faktor hard skill maupun soft skill yang dimiliki role model. Fokuskan dulu pada faktor-faktor yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dari lingkungan kerja maupun sosial anda. Berikut adalah beberapa soft skill yang dibutuhkan baik dalam berkarir maupun dalam menjalani kehidupan, antara lain :

 

1.      Kemampuan berkomunikasi.

         Katakanlah apa yang perlu dikatakan dengan cara yang mudah dan jelas, baik secara lisan maupun tulisan. Buatlah segala sesuatunya secara pendek dan sederhana. Pada hakekatnya komunikasi adalah mengenai sesuatu hal yang mampu dimengerti oleh orang lain. Oleh karena itu pesan yang ingin disampaikan harus pendek, mudah, dan jelas. Selain itu dengan berkomunikasi secara efektif akan menimbulkan kepercayaan orang lain kepada kita. Dalam komunikasi lisan pahami dan perhatikan lawan bicara kita, gunakan kata-kata yang sesuai dengan latar belakang lawan bicara kita. Usahakan fokus pada pembicaraan dan sesekali gunakan gerak tubuh dalam menjelaskan sesuatu. Hindari mendominasi dan memotong pembicaraan. Tumbuhkan kepercayaan diri dan hindari perasaan bahwa kita lebih tinggi atau rendah dengan lawan bicara kita, karena hal tersebut akan mempengaruhi cara kita berkomunikasi. Ingat bahwa kemampuan berkomunikasi diperlukan  di semua pekerjaan dan jenjang jabatan. Praktekkanlah!

 

2.      Kemampuan belajar.

         Belajar adalah “pekerjaan seumur hidup”. Ada sesuatu yang baru dalam hidup ini walau sekecil apapun. Belajar tidak berhenti pada jenjang sekolah, sarjana ataupun pasca sarjana saja. Belajar dapat dilakukan kapan dan dimana saja tidak mengenal batas waktu. Pelajari hal-hal baru untuk merangsang otak serta menjaga pikiran agar terus berkembang. Waktu akan berlalu begitupun situasi dan kondisi yang akan berganti pula, maka teruslah belajar agar dapat mengikuti perkembangan di dunia kerja. Jangan jadikan belajar sebagai sesuatu yang berat, anda hanya perlu mengetahui apa yang anda tidak ketahui, simpan dalam ingatan atau apabila perlu simpan dalam bentuk tulisan atau kliping, lalu gunakan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan anda.

Aplikasi pengetahuan yang anda pelajari, berbagilah dengan rekan kerja lainnya. Berilah kesan yang mendalam terhadap rekan kerja, anak buah dan tentu saja atasan anda.

 

3.      Kemampuan beradaptasi dengan perubahan.

         Tidak ada satu pun di dunia ini yang ajeg, semua pasti berubah. Perubahan kadang datang secara tiba-tiba, menuntut kita untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang baru, yang tidak kita kenali dan duga sebelumnya. Bersikaplah fleksibel terhadap perubahan. Jangan berjalan berlawanan arah, berjalanlah mengikuti arah yang dibawa perubahan itu. Hilangkan resistensi menghadapi perubahan. Resistensi timbul ketika zona kenyamanan yang kita miliki terenggut oleh perubahan. Pertanyaan mendasar sebelum menghilangkan resistensi adalah apakah saya ingin bergerak maju? dan apakah saya  mampu meninggalkan kenyamanan yang saya miliki demi perubahan? Bila jawabannya negatif, maka anda tidak perlu meluangkan waktu berjalan beriringan dengan perubahan. Yang perlu anda lakukan ketika perubahan datang adalah biarkan dia datang, ketahuilah maksud dan tujuannya, yakinkan diri bahwa disetiap situasi baru selalu ada cahaya dan kebahagian baru, berjalanlah dalam jalan perubahan dengan santai tanpa beban dan anggap bahwa anda berjalan seperti biasa. Sedikit demi sedikit perlakukan perubahan sebagai teman. Ingatlah selalu bahwa orang yang maju adalah orang yang mampu melihat perubahan yang akan datang dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Bagi yang mempertahankan cara lama dalam perubahan yang dinamis akan tertinggal di belakang.  

 

4.      Kemampuan untuk bekerja sama.

         Suka atau tidak suka kita harus mengakui bahwa banyak hal yang kita lakukan dalam hidup ini bergantung pada orang lain. Begitu pun dalam dunia kerja. Apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan kita adalah hasil dari pekerjaan rekan kita, begitupun hasil pekerjaan kita merupakan masukan bagi rekan kita untuk menyelesaikan pekerjaannya. Itulah proses dan agar proses berjalan baik dibutuhkan kerja sama satu sama lain. Berikanlah selalu apa yang dapat anda berikan, dan bila suatu saat anda tidak mendapat apa yang anda butuhkan maka paling tidak anda telah menyelesaikan tanggung jawab yang seharusnya.

Binalah hubungan yang saling terbuka. Hilangkan perasaan lebih unggul dibanding rekan lainnya. Dahulukan kepentingan organisasi dibanding kepentingan pribadi, karena kita bekerja dan menerima upah untuk dan dari organisasi.

  • Share/Bookmark

1 comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - September 30, 2009 at 7:19 am

Categories: Career Coach   Tags:

Perhatikan Pula Packaging

Tulisan ini terinspirasi atas suatu pernyataan seorang dosen dalam suatu rapat dosen di salah satu sekolah tinggi di Jakarta beberapa bulan yang lalu dimana saya berada pada rapat tersebut. Seperti biasa rapat jurusan diadakan setiap suatu semester telah selesai dijalankan yang tujuannya untuk me-review aktivitas belajar-menjagar yang telah dilakukan berikut masukan-masukan yang bisa diimplementasikan pada jurusan tersebut.

 

Yang menarik dari rapat itu adalah cerita seorang dosen mengenai pengalaman rekan kerjanya ketika melakukan proses recruitment atas beberapa lulusan dari sekolah tinggi tersebut di sebuah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) terkenal di Indonesia. Dosen senior itu bercerita bahwa beberapa waktu yang lalu BUMN terkenal tersebut membutuhkan beberapa karyawan baru untuk ditempatkan di beberapa tempat. Kebetulan lowongan pekerjaan tersebut tidak membutuhkan pengalaman kerja, sehingga para fresh graduates bisa melamar dan bekerja di BUMN tersebut.

 

Sudah bisa ditebak tentunya, banyak sekali para fresh graduates yang mengajukan lamaran. Setelah dilakukan screening atau penyaringan surat lamaran, ditentukanlah sejumlah pelamar yang harus mengikuti tahap selanjutnya. Dosen senior itu tidak menjelaskan seperti apa tahapan selanjutnya yang harus dilalui oleh para pelamar tersebut. Ia langsung menjelaskan peristiwa yang terjadi pada tahap wawancara atau interview.

 

Ketika para pelamar mengikuti tahap interview, interviewer (pewawancara) melihat beberapa pelamar – yang beberapa diantaranya adalah lulusan dari sekolah tinggi tersebut – mengikuti tahapan tersebut dengan penampilan yang “mengejutkan”. Alih-alih berpakaian rapih dan bersih, justru beberapa pelamar tersebut berpenampilan layaknya seorang anak muda yang sedang bermain dengan temannya.

 

Dosen tersebut bercerita bahwa pada saat itu para pelamar tersebut mengenakan celana jins yang lututnya bersobek-sobek, baju yang kurang rapih dan rambut yang acak-acakan. Tentu saja situasi ini mengejutkan interviewer. Padahal seorang pelamar yang sudah memasuki tahap interview biasanya dipandang layak untuk mengikuti tahap interview karena kualifikasinya. Besar kemungkinan seorang fresh graduate mampu lolos ke tahap interview karena memiliki pencapaian akademis yang baik, memiliki skills tambahan yang diperolehnya melalui kursus, prestasi diluar akademik yang menunjang suatu pekerjaan dan karirnya kelak, dan program magang yang pernah diikuti.

 

Dengan kata lain prestasi, track record, skills dan values memang menjadi pertimbangan penting bagi seseorang untuk dapat bekerja dengan baik namun penampilan atau “kemasan luar” kita juga harus diperhatikan. Pertanyaannya, seberapa pentingkah packaging itu dalam karir kita? Apakah packaging itu mempengaruhi keputusan perusahaan untuk menerima lamaran pekerjaan kita? Apakah packaging mempengaruhi kesuksesan kita dalam karir dan bisnis?

 

Untuk kasus pelamar berpenampilan “mengejutkan”, besar kemungkinan interviewer akan memberi “tanda” kepada para pelamar tersebut dan memberi “tanda” lainnya untuk memberi prioritas kepada para pelamar lain untuk maju ke proses selanjutnya. Hal ini didasari oleh pengalaman saya dalam menjalani proses employee recruitment dan selection dan pengalaman banyak recruiter dalam menjaring kandidat yang benar-benar layak untuk bekerja disuatu perusahaan.

 

Penampilan luar sesungguhnya adalah pelengkap bagi kualitas internal diri kita, pengalaman kerja, track record. dan values. Namun ketika perusahaan diharuskan memilih 2 orang yang kualitas internal diri, pengalaman kerja, track record dan values yang sama-sama excellent namun salah satu diantaranya berpenampilan kurang baik maka tentu perusahaan lebih memiliki individu yang memiliki keduanya, kualitas diri dengan penampilan luarnya.

 

Lain halnya ketika anda sebagai seorang yang memiliki skills yang begitu baik, track  record yang excellent, memiliki pengalaman yang panjang dan berbobot dengan penampilan yang sangat buruk namun tidak ada individu lain yang mampu menyaing skills, track record dan pengalaman anda, maka bisa jadi andalah yang menjadi pilihan perusahaan.

 

Jadi penampilan luar atau packaging anda bisa menyingkirkan anda jika orang lain memiliki kualitas diri yang sama bagusnya dengan anda namun memiliki packaging yang bagus.

 

Mengapa packaging bisa menjadi faktor penentu bagi pencapaian tujuan kita? Penampilan luar dari diri seseorang tidak sekedar tampilan luarnya saja, seperti bagaimana ia berpakaian, bagaimana ia terlihat bersih dan rapih, bagaimana ia bisa menjaga penampilannya, dan lainnya. Namun lebih dari itu, penampilan luar bisa mencerminkan siapa diri kita. Penampilan luar bisa mereprentasikan sikap profesionalisme individu bersangkutan serta organisasi dimana ia berkarir.

 

Apabila kita lebih menghargai diri kita lebih baik lagi maka kita pun akan lebih mudah untuk menghargai orang lain lebih baik lagi. Tampil baik merupakan wujud dari menghargai diri kita dengan sebaik-baiknya. Penampilan yang baik, sopan, bersih dan rapih sesungguhnya juga wujud dari menghormati lawan bicara dan orang-orang disekitar kita. Bagaimana kita mengharapkan untuk dihargai dan dihormati orang lain apabila kita sendiri tidak menghargai dan menghormati orang lain.

 

Selain itu packaging kita juga merupakan daya tarik awal luar biasa yang mampu mempengaruhi persepsi orang terhadap diri kita pada kesempatan pertama. Banyak sekali individu dan produk yang memiliki tampilan luar atau kemasan yang begitu menarik perhatian orang. Seakan-akan tampilan luar benar-benar mewakili kualitas dan manfaat terbaik yang bisa dihasilkan dari seorang individu. Hal ini memang didesain sedemikian rupa untuk memberi daya tarik yang mampu mengesankan orang lain.

 

Mengingat begitu banyaknya individu yang memiliki kualitas diri, track record, pengalaman dan values yang sama baiknya dengan yang kita miliki dan agar orang lain mau membuka diri kepada kita dan nyaman untuk berinteraksi dengan kita maka daya tarik penampilan menjadi faktor yang mempengaruhi orang lain pada kesempatan pertama. Jadi jangan pernah meremehkan penampilan !

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - September 29, 2009 at 1:47 am

Categories: Career Coach   Tags: