Quality of Life

Fear Attracts Like Energy!

Saya yakin tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak pernah takut dan tidak merasakan ketakutan dalam dirinya. Semua orang tanpa terkecuali pasti pernah merasakan ketakutan dalam hidupnya. Takut dan ketakutan adalah bagian hidup tak terpisahkan dalam diri setiap manusia. Tepatnya tiada pikiran manusia yang tidak terisi oleh rasa takut dan ketakutan akan hal tertentu. Jadi rasa takut adalah sesuatu yang wajar ditemui dalam diri setiap manusia.

 

Ibarat mata uang logam, rasa takut itu itu memiliki dua sisi yang berbeda. Sisi pertama, rasa takut bisa melumpuhkan. Sisi kedua, rasa takut itu bisa membangkitkan.

Rasa takut itu melumpuhkan apabila perasaan ini menjadikan kita memiliki keyakinan yang membatasi. Ketakutan yang melumpuhkan juga bisa mendorong kita berperilaku dan bertindak negatif. Rasa takut ini bisa bermetamorfosis menjadi trauma dan phobia.

Sedangkan rasa takut yang membangkitkan itu akan membuat diri kita lebih berdaya. Kita bisa mempergunakan sedemikian rupa rasa takut akan hal tertentu untuk mendorong dan mendekatkan diri mencapai tujuan-tujuan kita.

Uniknya, rasa takut yang melumpuhkan maupun yang membangkitkan sesungguhnya merupakan upaya untuk menghindar. Kemampuan menghindar merupakan kemampuan alamiah manusia yang telah menjadi semacam naluri untuk bertahan hidup maupun mencapai sebuah tujuan.

 

Ketika kecil saya takut sekali mendapat nilai rendah dalam rapor karena dengan mendapat nilai jelek membuat saya tidak mendapatkan hadiah yang diiming-imingi orang tua saya. Rasa takut saya ini telah membuat saya berupaya belajar dengan baik agar terhindar dari mendapatkan nilai jelek. Berkaitan dengan penolakan, tidak ada manusia yang tidak pernah mendapatkan penolakan entah dari orang tua, saudara, atasan, calon pelanggan, dan lainnya.

 

Saya teringat ketika sewaktu kuliah dulu atau sekitar 15 tahun yang lalu saya pernah menjadi salesman sebuah café dan meeting facility. Saya tidak memiliki pengalaman sebagai salesman sebelumnya. Melalui learning by doing saya menjalaninya dengan fun saja. Begitu banyak penolakan dari calon pelanggan yang saya dapatkan ketika itu. Banyak hal yang menjadi pembelajaran saya ketika itu sehingga saya terus belajar kemudian praktek langsung. Namun situasi tidak juga berubah. Penolakan terus terjadi. Ada beberapa calon pelanggan yang membuka diri bahkan masuk ke tahap negosiasi lanjutan namun akhirnya kandas pula. Ketika itu saya berpikir sulit juga ya menjadi salesman. Mental saya menjadi down karena mengalami serangkaian penolakan. Hal yang tadinya saya anggap sebagai bagian dari pekerjaan kemudian menjadi hal serius dalam diri saya. Diri saya tidak menerima banyaknya penolakan yang saya alami. Diri saya tidak mengizinkan saya mengalami penolakan lagi. Ketidakinginan mengalami penolakan akhirnya menjadi rasa takut mengalami penolakan dan menjalani profesi sebagai salesman. Ibarat tsunami yang menghempas apa saja yang menghadangnya, rasa takut saya mengalahkan segala logika penjualan dan pemasaran yang ada maupun kesempatan yang terbuka dihadapan saya. Rasa takut akan penolakan telah melumpuhkan saya. Rasa takut ini telah membuat saya menghindar dari segala aktifitas maupun profesi yang ujung-ujungnya menjual. Bahkan saat itu dalam kehidupan sosial saya rasa takut akan penolakan juga menghantui pikiran saya. Sehingga lebih sering menahan diri untuk meminta bantuan teman karena takut ditolak. Luar biasa bukan efek dari rasa takut yang melumpuhkan diri kita.

 

Rasa takut yang memberdayakan diri kita bisa berwujud pada perilaku dan tindakan positif, seperti keinginan yang kuat, ulet, pantang menyerah, komitmen, konsisten, dan lainnya. Sedangkan rasa takut yang tidak memberdayakan bisa bewujud pada perilaku dan tidakan negatif, seperti merusak, menyakiti, menghancurkan, menyerang, melakukan kebohongan, dan lainnya. Tujuan Thomas Alfa Edison menemukan dan menciptakan bola lampu adalah karena ingin menerangi dunia. Bisa jadi Thomas Alfa Edison memiliki ketakutan apabila dunia gelap dan penerangan hanya mengandalkan api dan petromax. Wright bersaudara berupaya keras menciptakan alat transportasi lewat udara. Upaya mereka berhasil dengan ditemukannya pesawat terbang. Bisa jadi mereka takut apabila selamanya manusia hanya memiliki 2 (dua) pilihan alat transportasi saja untuk mencapai suatu tujuan dan itupun memakan waktu lama. Beberapa negara sepakat untuk mengadakan pertemuan tingkat dunia membahas pemanasan global dan perubahan iklim dunia. Pertemuan ini berupaya melahirkan peraturan yang mengikat negara-negara di dunia untuk mulai mengurangi pemakaian emisi, efek rumah kaca dan lainnya demi menyelamatkan bumi. Pertemuan ini intens dilakukan dan telah menjadi perhatian khusus di banyak sekali negara. Ketakutan akan rusaknya alam, pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem telah mendorong banyak Negara untuk bertindak menyelamatkan bumi.

 

Sebaliknya George W. Bush mantan Presiden Amerika Serikat ketika memimpin negara tersebut mengambil keputusan untuk menggulingkan rezim Saddam Hussein dan menguasai Irak dengan alasan menyelamatkan Irak dari rezim yang otoriter. Namun menurut laporan yang dirilis oleh media Amerika dan Inggris, bahwa sesungguhnya alasan utama Amerika Serikat menyerang Irak adalah minyak bumi. Amerika Serikat (AS) membutuhkan banyak energi untuk menumbuh perekonomian menyaingi China sehingga AS berupaya mengamankan persediaan minyaknya di Negara-negara Timur Tengah. Ketakutan Amerika Serikat akan kekurangan penguasaan minyak bumi sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dan hegemoni AS atas Timur Tengah telah mendorong negara tersebut tega untuk menguasai dan merusak suatu negara. Suatu ketakutan yang sangat merusak.

Adolf Hitler, Kanselir dan penguasa Jerman yang paling ditakuti di masanya juga dikendalikan oleh ketakutannya. Obsesinya “untuk mempertahankan hidup manusia harus bertarung” serta “perbaikan” ras manusia yang disebut ras arya telah mendorong Kanslir Jerman ini menyerang Negara-negara Eropa dan “memusnahkan” orang-orang berpenyakit dan cacat. Ketakutannya akan “ketidakmurnian” rakyat Jerman dan dikuasainya Jerman oleh ras non-Eropa yang ia sebut sebagai kera yang membuat Adolf Hitler tidak segan-segan menghabisi siapa saja yang bertentangan dengan konsep hidupnya dan Nazi.

Banyak koruptor di dunia apabila ditanya motif mereka melakukan korupsi, umumnya mereka mengatakan untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidupnya. Mereka takut tidak bisa memenuhi standar hidup yang mereka tetapkan. Bahkan menjalani hidup melebihi apa yang mampu mereka hasilkan. Ketakutan ini membuat mereka mengambil jalan pintas yaitu mengambil uang yang bukan haknya alias korupsi.

 

Rasa takut dan ketakutan akan sesuatu hal memiliki energi yang luar biasa. Energi yang mampu menarik sebuah pemikiran dan ide yang memberdayakan dan bermanfaat atau sebaliknya pemikiran dan ide yang merusak dan tidak bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Ketika pikiran dikuasai dan didominasi oleh sebuah ide dan pemikiran tertentu, maka cepat atau lambat akan tercermin dalam sikap, perilaku dan tindakan kita. Terlebih ketika sebuah perasaan takut begitu dominan dalam diri kita sehingga naluri menghindar juga terus menguat. Sikap, perilaku dan tindakan kita akan mengikuti naluri menghindar tadi, yaitu menghindar dari situasi dan kondisi yang kita takut untuk terjadi. Bahkan manusia bisa bersikap, berperilaku maupun bertindak apapun apabila ia sudah dikendalikan oleh ketakutannya sendiri.

 

Oleh karena itu, pergunakanlah ketakutan anda hanya untuk hal-hal yang memberdayakan diri anda dan orang lain. Bersikaplah bersahabat dengan ketakutan, karena rasa takut bisa sangat membantu dan mendorong kita meraih tujuan-tujuan yang bermanfaat baik!

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - April 29, 2010 at 6:37 am

Categories: Quality of Life   Tags:

Being In The Situation You Really Want Is Special Gift You Give For Yourself

Ketika saya masih kecil dan banyak anak kecil pada umumnya ketika merayakan ulang tahunnya bersama-sama dengan teman-teman dan keluarga lalu mendapat begitu banyak kado, maka tentu situasi seperti ini merupakan situasi yang menggembirakan dan ditunggu-tunggu. Ketika kita ingin memiliki atau mendapatkan sesuatu dan mengharapkan orang lain memberikannya kepada kita dan akhirnya kita benar-benar mendapatkannya maka situasi ini tentu sangat menggembirakan kita dan sangat kita tunggu-tunggu.

 

Apapun yang membuat kita gembira, senang dan bahagia ketika mendapat sesuatu yang merupakan pemberian orang lain atau orang terdekat kita maka situasi ini merupakan sesuatu yang kita inginkan. Namun situasi-situasi seperti ini amat bergantung dari pemberian dari orang lain kepada diri kita. Situasi-situasi yang tidak membutuhkan perjuangan untuk mencapainya. Situasi-situasi menyenangkan dan diinginkan namun proses mendapatkannya serta pencapaiannya belum menjadikan hidup kita lebih bermakna. Hidup yang bermakna adalah hidup yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang penuh arti, berharga dan memberdayakan.

 

Situasi-situasi yang menyenangkan, penuh kegembiraan dan kebahagiaan adalah ketika berhasil meraih apa yang kita inginkan. Apa yang kita inginkan tersebut begitu berharga tidak saja buat diri kita tetapi juga bagi orang banyak. Meraih apa yang kita inginkan melalui serangkaian proses yang penuh makna, sebagaimana pencapaian tersebut yang mampu memaknai lebih hidup kita. Memaknai hidup berarti menemukan hal-hal yang membuat hidup kita menjadi lebih berharga. Seseorang yang seringkali mengalami kegagalan dan kemudian bangkit dari kegagalan untuk mengejar apa yang diinginkannya, maka orang-orang seperti ini pasti akan memaknai lebih hidupnya.

 

Lain halnya dengan orang-orang yang mengalami kegagalan kemudian menyerah dan hanya puas mengimpikan apa yang sesungguhnya ia inginkan maka situasi ini bukan menjadikan hidupnya lebih bermakna. Mengalahkan mental blocks yang disebabkan karena kegagalan kemudian berjuang untuk mencapai apa yang diinginkan sesungguhnya hal inilah yang  memberikan makna luar biasa bagi sejarah kehidupan kita. Makna hidup terdalam tentu tidak bisa dilihat dari hasil akhir saja namun yang lebih penting adalah bagaimana proses kita meraihnya.

 

Proses yang penuh perjuangan tentunya menjadi diri kita menjadi kaya pengalaman dan kebijaksanaan sehingga akan lebih mudah memaknai kehidupan. Satu situasi lagi yang bisa membuat hidup kita menjadi lebih bermakna adalah hadir bagi kehidupan orang lain dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin orang. Dengan memberikan apa yang kita miliki – uang, ilmu, pengetahuan, tenaga, pikiran, waktu – kepada orang-orang yang membutuhkan akan membuat diri menjadi lebih bermakna. Kita bisa melihat bahwa hidup kita tidaklah sia-sia, tidak semata-mata melengkapi kebutuhan bagi diri sendiri tetapi juga membantu sebanyak mungkin orang yang membutuhkan. Dengan memuliakan orang lain sesungguhnya kita juga sedang memuliakan diri kita sendiri. Dengan melihat diri kita berarti bagi orang lain maka kita bisa melihat begitu berharganya diri kita dan kehidupan ini. Ada perasaan gembira, senang, bahagia dan bangga atas apa yang telah kita lakukan bagi kehidupan orang lain.

 

Berada di situasi yang paling anda inginkan adalah hadiah spesial yang anda berikan kepada diri anda sendiri terwujud melalui 2 situasi yang telah saya jelaskan di atas. Meraih apa yang kita inginkan melalui perjuangan dan memberi manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang adalah hadiah terbesar dan terbaik yang anda berikan bagi diri anda sendiri. Hadiah ini akan selalu kita kenang sampai kapanpun. Hadiah terbesar yang anda berikan kepada diri anda bisa mengundang berlipat-lipat hadiah terbesar lainnya bagi diri anda.

 

Mengapa? Karena sekali kita berhasil mencapai apa yang paling kita inginkan melalui suatu proses dan perjuangan dan kemudian berhasil maka hal ini bisa menimbulkan kepercayaan dan keyakinan diri, kebanggaan diri, kebahagiaan untuk mencapai hal-hal lain yang paling diinginkan. Sedangkan sekali kita merasa bahwa kita telah mampu memberi manfaat terbesar bagi banyak orang dan menjadi bagian dari kemajuan dan keberhasilan orang lain maka hal ini akan menimbulkan perasaan yang luar bisa menyenangkan dan kita akan cenderung untuk terus berbuat hal yang sama. Semakin banyak kita memberi hadiah spesial  bagi diri kita sendiri maka semakin bermakna hidup kita. Kita akan semakin puas dengan diri kita atas berjalannya kehidupan ini. Kita tidak lagi menyalahi diri sendiri dan kehidupan tapi lebih mencintai lagi kehidupan ini. Mulailah berikan kado terindah bagi diri anda sesering mungkin.

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - April 27, 2010 at 12:29 am

Categories: Quality of Life   Tags:

Balancing Your Life !

Suatu ketika saya pernah terlibat dalam sebuah diskusi menarik dengan seorang mahasiswa sehabis selesai memberikan kuliah. Saya katakan menarik karena saya tidak menyangka ia membahas sebuah topik menarik yang sering dihadapi oleh banyak orang. Uniknya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang menghadapi situasi yang kurang baik dan tanpa makna. Perbincangan saya dengan mahasiswa tersebut sesungguhnya sedang menambah daftar panjang pengalaman banyak orang ketika menghadapi situasi ini. Bahkan saya pun pernah beberapa kali mengalami situasi seperti ini.

 

Perbincangan saya dengan mahasiwa itu berawal ketika saya sedang memberikan mata kuliah leadership. Disetiap mata kuliah ini saya selalu menyisipkan bagaimana leadership bisa diaplikasikan dalam kehidupan bukan hanya pada pekerjaan dan karir kita. Bisa jadi ketika mahasiswa itu mendengar bagaimana aplikasi leadership dalam kehidupan, ia terinspirasi dan muncullah sebuah pertanyaan dalam dirinya. Ketika saya sedang membereskan komputer dan peralatan mengajar lainnya, mahasiswa tersebut menghampiri saya dan bertanya apakah dia bisa mendapatkan waktu saya sebentar. Saya tahu dia ingin berdiskusi dengan saya, karena biasanya mahasiswa yang ingin berdiskusi dengan saya selalu mengatakan hal serupa.  Saya senang berdiskusi dengan siapa saja oleh karena itu saya katakan kepadanya bahwa saya memiliki waktu untuknya.

 

Ia menceritakan dirinya bagaimana ia selalu berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik disetiap mata kuliah yang diikuti. Ketertarikannya dengan teknologi informasi telah mendorongnya untuk terus mencari pengetahuan dan wawasan seputar teknologi informasi dan aplikasinya. Ia menghabiskan waktunya hampir sehari penuh untuk belajar dan memahami apapun yang behubungan dengan bidang pendidikannya. Ilustrasinya seperti ini, pagi-pagi ia sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Hampir setiap hari ia mengikuti tiga mata kuliah yang berarti ia baru selesai kuliah sekitar pukul 2 siang atau 3 sore. Setelah itu terkadang ia masih berada di kampus untuk berdiskusi dengan teman-temannya seputar pelajaran atau berada di laboratorium komputer untuk bereksperimen. Apabila selepas kuliah ia langsung pulang ke rumah, maka ia kembali membuka pelajaran kuliah, membacanya, atau membaca buku-buku yang berhubungan dengan komputer dan terkadang ia mengutak-atik komputernya untuk mencari jawaban atas apa yang ingin ia tahu. Terkadang sesampainya dirumah ia tidur selama 1 jam saja.

 

Kemudian dari sore sampai malam bahkan terkadang sampai tengah malam ia belajar, membaca buku komputer dan apapun yang bisa memberinya pengetahuan. Hari-hari diluar kuliah seperti Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasanya. Hanya belajar, membaca dan utak atik komputer. Saya pun bertanya kepadanya berapa banyak waktu yang ia luangkan untuk kehidupan sosialnya. Jawabnya sangat sedikit. Ia tidak memiliki masalah dengan orang-orang sekitar dan teman-temannya, hanya saja ia tidak tertarik untuk bersosialisasi. Baginya hiburan, berkumpul dengan teman-teman, jalan-jalan bukanlah hal penting baginya. Belajar dan belajar menjadi sangat dominan dalam kehidupannya, sedangkan kehidupan sosial yang juga penting bagi kehidupan manusia menjadi sangat minim dilakukan.

 

Kisah mahasiswa ini mengingatkan pengalaman serupa yang pernah saya alami ketika remaja. Ketika itu saya senang sekali berkumpul dengan teman-teman dan jalan-jalan. Waktu saya banyak dihabiskan dengan bermain bersama teman-teman. Akivitas bermain ini  mendominasi waktu dan hari-hari saya ketimbang belajar. Bahkan seringkali saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman dibandingkan dengan keluarga. Akibatnya nilai-nilai saya menjadi kurang memuaskan bahkan diantaranya mendapat nilai merah. Pada saat itu bermain dan kumpul dengan teman-teman menjadi aktivitas yang dominan bagi saya, sedangkan belajar menjadi sangat minim saya lakukan. Di satu sisi kehidupan sosial saya begitu menyenangkan, kaya dan penuh pengalaman namun di sisi lain pencapaian hasil di sekolah kurang memuaskan.

 

Pengalaman mahasiswa tersebut dan diri saya sendiri sesungguhnya banyak dialami pula oleh banyak orang. Pengalaman banyak orang itu saya dapat dari melihat langsung, mendengar langsung serta membaca dan mendengar dari sumber tertentu. Suatu ketika saya mengenal seorang Manajer sukses yang bekerja disuatu perusahaan swasta asing. Karirnya cukup baik dengan penghasilan yang besar. Ia pun memiliki seorang isteri yang cantik dan dua orang anak yang pintar dan memiliki prestasi akademik yang cukup baik. Ia sudah memiliki rumah dan kendaraan pribadi. Bagi sebagian orang kehidupannya terlihat begitu ideal dan banyak orang yang mengimpikan kehidupan yang dijalaninya.

 

Namun apa yang terlihat oleh sebagian orang bukanlah realitas sesungguhnya. Untuk mencapai, mempertahankan dan meningkatkan prestasi kerja dan jabatannya, ia harus bekerja hingga 11 jam setiap harinya. Ia pun sering bepergian ke luar kota untuk kegiatan bisnis. Bahkan seringkali hari Sabtu dihabiskan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tunda dan yang harus segera diselesaikan. Ia begitu sibuk dan larut dengan pekerjaannya. Namun pencapaian karirnya ini harus dibayar mahal. Kuantitas bertemu dengan isteri dan dua anaknya menjadi sangat terbatas. Keterbatasan waktu untuk keluarga juga mempengaruhu kualitas hubungan antar anggota keluarga. Ia seringkali tidak mengetahui perkembangan yang terjadi pada anak-anaknya. Perhatiannya kepada keluarga menjadi sangat kecil. Pekerjaan dan karir telah menguras waktu dan perhatiannya, sedangkan kuantitas dan kualitas hubungan antar anggota keluarga menjadi sangat rendah.

 

Pengalaman-pengalaman diatas melengkapi berbagai pengalaman nyata lainnya yang kita temui atau alami dalam kehidupan, seperti seseorang yang setiap harinya makan banyak namun tidak pernah berolah raga sehingga mengalami obesitas.

Seseorang yang banyak duduk dalam bekerja, kurang bergerak, makan tidak terkontrol dan tidak pernah berolah raga sehingga kadar kolesterolnya naik dan mengalami hipertensi.

Seseorang yang hanya membaca majalah gosip dan menonton sinetron dan infotainment namun tidak pernah membaca pengetahuan dan wawasan yang berguna sehingga mengalami ketidaktahuan mengenai lingkungan dan perkembangan dunia yang terjadi.

Seseorang yang hanya fokus dan berkutat pada information technology atau finance namun sedikit mengetahui atau bahkan tidak mengetahui sama sekali tentang manajemen dan bisnis bisa jadi situasi ini akan mempengaruhi cara ia berpikir, menentukan strategi, mengambil keputusan dan bertindak.

Seorang anak yang sejak kecil sudah terbiasa menikmati berbagai fasilitas enak dan mendapatkan apapun yang ia minta tanpa diajarkan dan diminta untuk berusaha terlebih dahulu sebelum mendapatkan sesuatu dan diajarkan tentang kesederhanaan sehingga dalam pikirannya tertanam bahwa hidup itu tidak perlu upaya dan perjuangan.

Selain itu  bisa jadi ia akan selalu bergantung pada orang lain. Seseorang yang selalu melihat dirinya selalu benar dan menganggap orang lain pada sisi yang salah sehingga ia sulit mengenal siapa diri dia sebenarnya dan tidak pernah belajar sesuatu yang berharga.

 

Contoh-contoh diatas adalah tentang ketidakseimbangan hidup. Contoh-contoh yang bisa ditemui disekitar kita atau mungkin sesuatu yang kita pernah atau sedang alami di suatu waktu. Hidup membutuhkan keseimbangan. Hidup dalam keseimbangan bisa berarti hidup di garis tengah. Hidup menyediakan dua pilihan jalur yaitu jalur yang memajukan dan jalur yang memundurkan.

 

Uniknya jalur yang memajukan seringkali kurang atau bahkan tidak menarik untuk dilakukan. Walaupun setelah dilakukan berulangkali akan terasa manfaat positifnya. Sedangkan jalur yang memundurkan seringkali begitu enak dan menyenangkan untuk dilakukan, namun apabila mendominasi atau menjadi prioritas utama untuk terus menerus dilakukan maka dampak ke depan tidak memberi manfaat positif, tidak menyenangkan, tidak memberdayakan, tidak menyehatkan, dan lainnya. Karena jalur yang memundurkan seringkali terasa begitu nikmat untuk dilakukan maka manusia baik disadari maupun tanpa disadari memiliki potensi untuk berada di jalur ini. Namun seringkali manusia tidak mengimbanginya dengan melakukan berbagai perilaku dan tindakan pada jalur memajukan. Oleh sebab itu terjadilah ketidakseimbangan hidup.

 

Keseimbangan hidup juga berarti melakukan hal-hal yang menjadi lawan dari hal lainnya. Apabila kita selalu bergembira, maka kita boleh merasakan kesedihan namun kemudian bangkit dan lepas dari kesedihan.

Apabila kita tidak pernah menunjukkan kemarahan, maka pada saat yang tepat kita boleh menunjukkan kemarahan kita dengan cara yang pantas tanpa menyakiti perasaan orang lain.

Apabila kita selalu memiliki kesabaran, maka pada saat yang tepat kita boleh menunjukkan ketergesaan dengan cara yang baik.

Apabila kita selalu berhasil mencapai apa yang kita inginkan, maka suatu saat kita perlu mengalami kegagalan, kesalahan dan menghadapi hambatan sehingga membuat kita belajar menjadi lebih baik lagi.

 

Keseimbangan hidup yang penuh makna adalah ketika apapun yang kita lakukan hanya akan mengarah kepada hal-hal yang positif dan memberdayakan, seperti kesehatan, kemakmuran, kebaikan, prestasi, tujuan tertinggi, dan lainnya. Apabila apapun yang kita lakukan untuk menyeimbangkan hidup kita tidak menyehatkan, memakmurkan, mendekatkan pada tujuan tertinggi, dan lainnya maka apa yang kita lakukan bukanlah untuk menyeimbangkan hidup. Melakukan hal-hal untuk menyeimbangkan hidup berarti membawa kehidupan kita ke tingkat tertinggi dan penuh makna. Hidup menjadi begitu berarti karena begitu banyak pengalaman yang telah dilalui dan seluruh pengalaman itu hanya akan membawa kita ke satu tujuan, hidup yang tidak sia-sia!

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - February 13, 2010 at 3:11 pm

Categories: Quality of Life   Tags:

Sudahkah Anda Memberi Makan Pikiran & Jiwa Anda Hari Ini ?

Banyak diantara kita yang makan 2-3 kali sehari. Ada individu yang makan karena ia merasa lapar, ada juga individu yang walaupun tidak merasa lapar namun tetap mengisi perutnya dengan makanan. Karena kita rutin mengisi perut kita dengan makanan, maka makan sudah menjadi kebiasaan kita untuk memuaskan rasa lapar dan ingin.

 

Namun apakah kita memperlakukan pikiran dan jiwa kita sama halnya ketika kita rutin mengisi perut kita dengan makanan? Pikiran dan jiwa sama pentingnya dengan perut kita. Bahkan untuk situasi tertentu, mengoptimalkan pikiran dan jiwa lebih penting dari perut kita. Apabila kekuatan emosi, mental dan kemampuan anda ingin berkembang dan bertumbuh maka anda harus konsisten untuk memberi makan dan asupan bergizi bagi pikiran dan jiwa anda.

 

Memberi makan pikiran anda

 

Salah satu kunci kesuksesan dan keberhasilan saya selama ini adalah kebiasaan memberi makan pikiran saya setiap harinya. Kebiasaan ini telah saya jalani sejak saya duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kala itu saya suka sekali membaca ensiklopedia, komik dan surat kabar. Dari surat kabarlah saya tahu banyak tentang ibukota negara-negara didunia dan kepala negaranya. Tidak heran ketika SD saya sering menjawab pertanyaan guru saya seputar ibukota Negara didunia berikut kepala negaranya.

 

Sampai kini kebiasaan saya ini terus saya pertahankan. Rutin saya membaca buku-buku seputar kesuksesan, bisnis, manajemen, leadership, NLP, sales, marketing, entrepreneurship, dan lainnya. Beberapa tahun terakhir ini saya suka membaca biography tokoh-tokoh terkenal dan sukses. Melalui biography ini saya bisa belajar bagaimana kiat-kiat sukses mereka dan bilamana mungkin me-model apa yang mereka lakukan dalam upaya saya mencapai tujuan. Ketika saya membaca biography Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple), Howard Schultz (Starbucks), Richard Branson (Virgin), Warren Buffet, dan lainnya saya seperti sedang mengambil dan mengekstrak puluhan tahun pengetahuan, pengalaman, wawasan, kebijaksanaan, dan pengambilan keputusan mereka ke dalam pikiran saya.

 

Salah satu hal yang saya suka ketika membaca biography tokoh-tokoh sukses yaitu saya bisa mempelajari kesalahan, kekeliruan dan kegagalan yang pernah dilakukan dan dialami mereka dan kemudian saya berupaya untuk tidak melakukan hal keliru dan salah yang pernah dilakukan para tokoh sukses tersebut. Saya percaya bahwa pelajaran terbaik tidak selalu berasal dari kekeliruan, kesalahan dan kegagalan yang pernah kita alami, namun juga dari kekeliruan dan kesalahan yang pernah diperbuat oleh orang-orang yang telah lebih dahulu sukses. Sehingga walaupun umur saya saat ini hanya 36 tahun, namun saya bisa dan mampu membuat keputusan besar karena saya merasakan puluhan tahun pengalaman tokoh-tokoh sukses dalam pikiran saya. Saya mengkombinasikan pengalaman pribadi saya dengan pengalaman para tokoh sukses ke dalam strategi, cara dan action saya dalam upaya saya mencapai kesuksesan dan keberhasilan.

 

Saya selalu dan berupaya mencari kesempatan untuk bisa membaca. Saya berusaha untuk membawa buku setiap kali saya bepergian. Seringkali saya membawa buku ketika berangkat ke kantor dan membacanya disaat istirahat atau saat-saat dimana kebiasaan membaca saya tdak menggangu pekerjaan. Ketika berada dirumah, saya selalu menyisihkan waktu untuk membaca buku. Saat menunggu sesuatu, saya pun mengisinya dengan membaca buku. Ada beberapa orang yang menyebut saya kutu buku, namun saya melihatnya dari sudut pandang berbeda. Saya melihat diri saya dan orang-orang yang selalu membaca adalah orang-orang yang terus menerus memberi makan pikirannya karena pikiran pun membutuhkan makanan sama halnya dengan tubuh kita.

 

Perlu diingat bahwa memberi makan pikiran kita juga perlu memperhatikan kualitas makanan yang kita berikan. Makanan seperti apa yang kita berikan kepada pikiran, karena tidak semua makanan berguna dan baik bagi pikiran kita. Ketika anda memakan makanan yang kotor, tidak higienis, atau junk food maka makanan tersebut akan cepat atau lambat akan membawa dampak kurang baik bagi tubuh anda. Kita perlu pastikan bahwa apa yang kita baca akan berguna bagi pikiran dan diri kita. Buku dan majalah seperti apa yang anda baca setiap harinya? Hal-hal apa yang menarik perhatian anda disetiap majalah atau buku yang anda baca? 6 Buku atau majalah seperti apa yang anda baca akhir-akhir ini?

 

Seringkali saya mendengar orang-orang ingin berhasil dan sukses namun tidak pernah membaca informasi dan pengetahuan yang tepat dan berguna bagi pikirannya agar ia bisa mencapai keberhasilan yang diinginkannya. Beberapa mahasiswa saya mengatakan bahwa mereka ingin mendapatkan nilai A dalam mata kuliah yang saya ajar, namun mereka mengatakan jarang membaca materi kuliahnya. Beberapa pemilik usaha mengatakan ingin agar usahanya bisa dikelola dengan baik dan profit meningkat, namun mereka tidak membaca buku-buku manajemen, bisnis dan entrepreunership.

 

Ketika orang mengatakan ingin kaya raya, mereka tidak pernah membaca majalah-majalah seputar investasi, perencanaan keuangan, uang, dan lainnya, bahkan mereka tidak mengikuti program televisi seperti CNN, CNBC, atau website seperti moneycentral.com, cnn.com/money, dan lainnya. Sebaliknya mereka lebih senang membaca tema atau topik-topik yang tidak berhubungan dengan tujuan yang ingin diraih, seperti pos kota, popular, FHM, bola, dan lainnya. Anda boleh-boleh saja membaca majalah seperti ini, tidak ada yang salah dengan itu. Namun membaca hal-hal tersebut tidak akan memberi makan pikiran anda untuk menjadi orang yang kaya raya atau berhasil mengelola bisnis dengan baik. Bacaan seperti itu hanya akan menghibur anda.

 

Memberi makan jiwa anda

 

Agar kita dapat terus menerus termotivasi, terinspirasi, terpenuhkan dan terisi, kita harus selalu memberi makan dan merawat jiwa kita dengan baik. Jiwa kita juga berperan penting bagi tubuh dan pikiran kita. Jiwa yang stabil dan penuh semangat mampu mendorong kita melangkah dengan pasti, penuh kekuatan, dan percaya diri. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam memberi makan bagi jiwa. Sebagian orang berdo’a, ada juga yang bermeditasi, ada yang menulis, membantu sesama, dan lainnya.

 

Bagi saya memberi makan jiwa bisa dilakukan dengan menghabiskan waktu bersama keluarga, membaca buku-buku inspiratif, menulis, berdo’a, dan meluangkan waktu untuk sendiri. Memberi makan pada jiwa setiap hari bisa menghindarkan diri kita dari stress, frustrasi, dan tidak bermakna. Memiliki mental yang kuat serta kekuatan emosi tidak bisa dipisahkan dengan kebiasaan kita memberi makan dan merawat jiwa kita sebaik mungkin setiap harinya.

Apabila anda belum memberi makan pikran dan jiwa anda hari ini, lakukanlah. Sama halnya ketika perut anda kosong dan merasakan lapar yang begitu kuat, maka agar anda kembali bugar dan mampu melakukan aktivitas tentu perut anda harus terisi secukupnya. Sama halnya dengan pikiran dan jiwa anda. Apabila anda tidak memberi pikiran dan jiwa makanan yang dibutuhkannya, maka apapun strategi dan action anda tidak akan pernah efektif dan bernilai tambah.

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - February 9, 2010 at 1:47 pm

Categories: Quality of Life   Tags:

Filosofi Pohon Bambu Dalam Kehidupan

kdo_tedBambooTrees[1]Menarik sekali apabila kita mencermati kehidupan kita dan banyak orang. Saya sendiri memiliki kebiasaan untuk selalu mencermati kehidupan saya dan belajar serta memahami apa yang dilakukan orang lain dalam kehidupannya sehingga saya bisa belajar dan melakukan hal yang sama yang dilakukan orang lain ketika mereka menghadapi masalah dan ketika mereka melakukan upaya untuk mencapai keberhasilan.

 

Atas pengamatan saya selama ini terhadap kehidupan pribadi dan banyak orang maka saya berada pada suatu pengertian bahwa kehidupan itu selalu berputar ibarat roda. Suatu ketika manusia berada pada situasi yang menyenangkan dan menggembirakan, suatu ketika pula manusia berada pada situasi yang menuntut keprihatinan. Suatu ketika manusia mengalami kemajuan, suatu ketika pula manusia mengalami kemunduran. Suatu ketika manusia mendapatkan kemudahan dan kelancaran, suatu ketika pula manusia mengalami masalah dan hambatan.

 

Inilah siklus hidup manusia tanpa terkecuali akan mengalami pasang surut seperti ini. Manusia bisa mengalami kegembiraan dan kekecewaan atau kemajuan dan kemunduran pada saat yang sama. Mungkin saja seseorang mengalami keberlimpahan harta sehingga membuatnya bahagia namun bisa jadi ia mengalami kemunduran atau kekecewaan pada suatu hal tertentu. Mungkin saja seorang pria atau wanita ditolak cintanya oleh  seseorang yang ia cintai sehingga mengalami kekecewaan dan kesedihan, namun bisa jadi ia bisa terhibur karena adanya kehangatan dan keakraban antar angota keluarganya.

 

Dengan menggunakan variabel sebab akibat, ketika manusia mengalami kesuksesan dan keberhasilan maka dua hal ini adalah sebab yang bisa saja berakibat bertambahnya materi, mendapatkan kenaikan jabatan, bertambahnya kekuasaan, mendapat banyak pujian, dan lainnya. Semakin banyak kita mendapatkan kesuksesan dan keberhasilan maka sangat mungkin kita akan diterpa dengan begitu banyak kesenangan dan kegembiraan yang luar biasa. Namun terpaan kebahagiaan yang terus menerus dalam suatu jangka waktu tertentu akan membuat kita roboh. Tanda-tandanya bisa dilihat ketika kita mulai lengah, takabur, mengabaikan sesuatu yang seharusnya ditindaklanjuti, malas, mengganggap remeh. Tanda-tanda tersebut adalah sebab yang bisa berakibat pada cara-cara yang tidak efektif, kualitas yang buruk, hasil yang mengecewakan, kegagalan, dan lainnya.

 

Masih menggunakan variabel sebab akibat, ketika manusia dihadapkan pada suatu masalah, kegagalan maupun hambatan maka dua hal ini bisa berakibat pada hilangnya kesempatan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, hilang atau berkurangnya kualitas, outcomes atau kinerja menjadi buruk, muncul ketidakpercayaan dari orang lain dan lainnya. Semakin banyak masalah, hambatan dan kegagalan yang kita hadapi maka terbuka kemungkinan kita akan diterpa dengan kesedihan, kekecewaan, dan ketidakbahagiaan. Terpaan kesedihan dan kekecewaan ini apabila berlangsung terus menerus akan membuat kita roboh. Tanda-tandanya bisa dilihat ketika kita mulai putus asa, takut untuk mencoba dan memulai lagi, hilangnya kepercayaan diri, tidak ingin memiliki impian, dan memiliki keyakinan diri yang tidak memberdayakan.

 

Setiap kesuksesan dan kegagalan atau setiap kebahagiaan dan kesedihan memiliki konsekuensi. Kesuksesan dan kebahagiaan konsekuensinya akan menyenangkan namun situasi-situasi menyenangkan berpotensi memajukan dan juga mematikan kita. Kegagalan dan kesedihan konsekuensinya akan mengecewakan dan marah namun situasi-situasi mengecewakan berpotensi memajukan dan juga mematikan diri kita. Ketika kita berhasil, sukses, gagal, menghadapi masalah, kita selalu mendapat terpaan situasi yang bisa mendorong keberhasilan dan kegagalan kita. Terpaan itu bisa mendorongkan kita ke arah kemajuan atau kemunduran.

 

Ibarat sebuah pohon yang tegak lurus yang apabila di terpa angin yang sangat kencang maka pohon itu pun akan roboh atau tumbang. Ketika kita sukses dan mencapai keberhasilan, kegembiraan dan kesenangan yang ada dalam diri kita bisa mendorong kita ke arah kemajuan atau justru membawa kita ke arah kemunduran. Ketika kita terlena dengan kegembiraan dan kesenangan disaat sukses dan mencapai keberhasilan yang kemudian membuat kita mengalami kemunduran, maka kita ibarat pohon yang diterpa oleh angin yang kemudian roboh atau tumbang karena tidak kuat menahan kerasnya angin. Kebahagiaan dan kesenangan membuat diri kita lengah, berpuas diri, dan menganggap remeh segala sesuatunya sehingga kita malas merespon dan mengabaikan situasi-situasi eksternal yang perlu direspon dengan baik dan efektif.

 

Sebaliknya ketika kita tetap fokus dan terus melangkah maka terpaan kegembiraan dan kebahagiaan karena mencapai keberhasilan justru membuat kita semakin maju dan bernilai. Ibarat sebuah pohon bambu yang lentur dan selalu bergerak mengikuti terpaan angin. Seberapapun besarnya kegembiraan dan kebahagiaan yang menghinggapi akan tetap membuat kita bergerak lincah untuk terus fokus dan bergerak maju mencapai keberhasilan lainnya atau tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. INILAH FILOSOFI POHON BAMBU. Kegembiraan, kebahagiaan dan kebanggaan tidak membuat diri kita menjadi diam namun sebaliknya kita tetap terjaga dan bergerak mengikuti perubahan yang sedang dan akan terjadi.

 

Sama halnya ketika kita menghadapi kegagalan dan kesedihan, apabila kita larut dengan kegagalan dan kesedihan maka situasi tersebut bisa membuat kita diam dan berjalan ditempat. Sekuat-kuatnya kita bertahan dan berdiam diri karena kegagalan, kesedihan dan ketidakbahagiaan yang dialami akan mendorong kita untuk disorientasi dan terpisah dengan lingkungan serta situasi-situasi eksternal yang terjadi. Ketika hal ini terjadi maka berjalan ditempat, kemunduran dan semakin banyak kegagalan akan menghinggapi kita. Kita sedang menjadi pohon yang terus berdiam diri menghadapi terpaan angin. Ketika angin begitu kencang terus menerpa pohon maka suatu saat pohon ini pun akan roboh. Ketika kita hanya diam, lemah, malas, trauma, dan takut dan disaat bersamaan situasi terus berkembang dan perubahan pun terus terjadi maka kita pun tidak akan pernah mendapatkan apapun yang kita inginkan dan hidup pun menjadi tidak bermakna.

 

Situasi akan menjadi lebih baik ketika kita tetap fokus untuk mencapai tujuan, bergerak ke arah keberhasilan, dan mencari jalan untuk memecahkan atau menghindari hambatan di saat kita mengalami kegagalan, kesedihan, dan menghadapi masalah. Alih-alih berdiam diri dan larut dengan kegagalan, kesedihan dan masalah yang dihadapi, dengan tetap fokus dan bergerak mencari strategi dan action yang tepat merupakan upaya yang tepat untuk menghindarkan diri kita dari kemunduran dan kerugian yang berkepanjangan. Inilah filosofi pohon bambu dalam menghadapi kegagalan dan hambatan, begitu luwes, fleksibel dan terus bergerak mengikuti arah angin yang berembus ke arah pohon bambu tersebut.

 

Saya pun pada akhirnya menjadi paham bahwa apapun yang terjadi di kala senang dan susah, bahagia dan sedih, berhasil dan gagal, percaya diri dan rendah diri, tidaklah membawa perbedaan apapun. Saat senang dan bahagia bisa menjatuhkan diri kita dan bisa pula memajukan diri kita. Saat penuh masalah dan mengalami kegagalan bisa menjatuhkan dan menenggelamkan diri kita lebih dalam lagi namun bisa pula menjadi pendorong bagi kita untuk keluar dari situasi tidak memberdayakan dan tetap pada jalur keberhasilan.

Jadi bagi saya tidaklah penting senang, gembira, susah, gagal, bahagia, menderita, dan sedih, karena yang jauh lebih penting adalah bagaimana menjadi pohon bambu di setiap tarikan nafas kita dalam menjalani apapun situasi yang dihadapi. BAGAIMANA DENGAN ANDA?

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - January 30, 2010 at 1:00 am

Categories: Quality of Life   Tags:

Selamat Tinggal Buku Kehidupan 2009!

The Years Gone By - Something You Know Nothing About [2009][1]Menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari dan bulan berganti bulan, tidak terasa tahun 2009 akan segera berlalu. Sebentar lagi tahun 2009 akan genap 365 hari. Apabila tahun bisa kita ibaratkan sebagai buku dan setiap halaman dari buku ini adalah hari, maka dua hari lagi kita akan menyelesaikan buku kehidupan 2009 sebanyak 365 halaman.

 

Buku kehidupan 2009 layaknya buku kehidupan setiap tahun dimana pada awalnya merupakan sebuah buku kehidupan yang kosong. Maksudnya pada awalnya setiap halaman dari buku ini adalah kosong, tidak ada sama sekali tulisan maupun gambar apapun. Kitalah yang mengisi setiap halaman buku kehidupan itu, sesuai yang kebutuhan, keinginan dan harapan kita masing-masing. Oleh karena itu buku kehidupan setiap orang tentu berlainan isinya karena setiap orang mengisinya dengan cara yang berbeda-beda. Kita semua tentu sudah mengisi buku kehidupan 2009 dan tinggal menyisakan 2 halaman untuk kita isi sebelum kita menamatkan 365 halaman buku kehidupan 2009.

 

Bagaimana buku kehidupan anda? Apakah setiap halaman telah diisi dengan tulisan dan gambar yang indah dan bagus? Atau mungkin ada halaman-halaman yang isinya terkesan biasa-biasa saja? Bahkan mungkin ada halaman-halaman yang isinya sungguh diluar keinginan dan harapan anda sehingga anda pun tidak ingin mengingat ataupun melihat lagi halaman itu. Setiap isi halaman dalam buku kehidupan kita mencerminkan siapa diri kita sesungguhnya.

 

Apakah kita seorang achiever? Apakah kita under achiever? Apakah kita seorang pribadi penuh komitmen? Apakah kita pribadi yang pantang menyerah? Banyak tipe dan karakteristik pribadi yang bisa kita ketahui pada diri kita selama kita mengisi 365 halaman buku kehidupan 2009. Bahkan menjelang tutup buku kehidupan ini, kita bisa kembali lagi ke belakang ke awal tahun buku kehidupan dan mulai melihat setiap halaman buku untuk mengetahui seperti apa sesungguhnya tipe dan karakteristik pribadi kita.

 

Menjelang tahun 2010 ini selain kita mempersiapkan diri untuk meraih apapun tujuan kita di tahun depan, kita perlu juga kembali ke belakang selama 12 bulan yang telah di lalui di tahun 2009. Ketika melihat ke belakang saya jadi teringat pepatah yang mengatakan, “past only remain just that, the past”. Sesuatu yang telah menjadi masa lalu tidak akan pernah bisa diubah lagi. Manusia tidak akan pernah memiliki mesin waktu di mana ia bisa mengulang segala sesuatunya persis sama namun kali ini dengan cara yang lebih baik tentunya. Yang kita miliki dan berada di bawah kontrol kita hanyalah masa kini.

 

Segala hal di masa lalu yang berada diluar keinginan dan harapan baik itu cara berpikir, perilaku, tindakan dan apapun itu akan menjadi input yang luar biasa berguna untuk menghidari kita dari kesalahan maupun kegagalan yang sama. Itulah mengapa saya tidak pernah setuju atas pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa masa lalu harus dilupakan, jangan pernah mengingat lagi masa lalu.

 

Masa lalu jelas penting untuk kita lihat kembali. Kita bisa memeriksa kembali masa-masa indah dan sesuai keinginan dan harapan serta juga memeriksa masa-masa penuh kekecewaan dan diluar keinginan dan harapan kita. Kedua masa itulah bisa luar biasa memberdayakan kita. Kita tentu setuju apabila masa-masa indah dan penuh keberhasilan dimasa lalu bisa menjadi pendorong dan pemberi keyakinan bahwa kita bisa dan akan meraih sukses seperti sebelumnya. Namun kegagalan dan kesalahan yang di lakukan di masa lalu seringkali membuat sebagian orang menghindar dari mengingat maupun memeriksa kembali masa lalunya itu.

 

Menjelang tutup buku kehidupan 2009 ini, kita bisa melihat dan memeriksa kembali halaman per halaman atau masa-masa dimana kita mengalami kegagalan atau berbuat kesalahan. Bukan untuk mendapatkan belief system yang negatif atau tidak memberdayakan, namun menemukan letak kesalahan atau penyebab dari kegagalan. Menemukan letak kesalahan dan penyebab dari kegagalan adalah penting karena dengan begitu kita bisa mengetahui dan memahami apa yang persisnya perlu kita lakukan dan yang perlu dihindari agar kesalahan dan kegagalan di masa lalu tidak terulang kembali. Setelah itu kita bisa menyusun serangkaian tindakan agar di buku kehidupan 2010 nanti kesalahan dan kegagalan yang pernah dialami di buku kehidupan 2009 tidak terulang.

 

Agar kita bisa dengan mudah menemukan titik waktu penting yang ingin dihindari untuk terjadi di buku kehidupan 2010, kita bisa membuat garis waktu (time-line). Garis waktu (time-line) tidak hanya berguna bagi masa depan namun juga bagi masa lalu terutama dalam menemukan titik waktu terpenting yang ingin kita hindari untuk terulang kembali. Tentu anda harus memunculkan sebuah garis dalam pikiran anda. Kembalilah ke masa lalu atau 12 bulan ke belakang. Mulai dari bulan Januari sampai Desember. Periksa dengan seksama situasi-situasi apa yang membuat anda bahagia dan yang membuat anda kecewa. Taruh setiap situasi yang anda temui pada garis waktu anda.

 

Ketika garis waktu anda sudah terisi oleh titik waktu terpenting maka angkat garis waktu itu dan taruh di hadapan anda selayaknya anda sedang menaruh sesuatu dihadapan anda. Kemudian lihat kembali garis waktu di hadapan tersebut dengan seksama, begitu jelas dan kuat. Rasakan kegembiraan di titik waktu penuh bahagia dan rasakan kekecewaan pada titik waktu kegagalan dan kesalahan. Katakan dihadapan garis waktu anda bahwa gambaran, perasaan, dan suara penuh kegembiraan akan terulang lagi di tahun depan dan anda akan memelihara cara-cara yang berhasil membuat anda berhasil untuk diimplementasikan di buku kehidupan 2010.

 

Katakan pula bahwa gambaran, perasaan, dan suara kekecewaan dan ketidakbahagiaan tidak akan terulang lagi karena setelah anda kembali ke masa itu gambaran, rasa, dan suaranya bukan yang anda inginkan dan harapkan untuk terjadi lagi di buku kehidupan 2010. Anda mencari tahu penyebab dari kegagalan dan kesalahan di titik waktu tersebut, ketahui cara-cara yang harus dihindari dan cara-cara yang harus dilakukan, dan bawa cara-cara yang harus dilakukan tersebut ke masa kini dan masa depan. Perlakukan garis waktu di hadapan anda dengan penuh hati-hati karena bagaimanapun garis waktu itu mencerminkan kehidupan masa lalu anda. Bagaimanapun itulah hidup dan kehidupan kita, dengan menghargainya berarti kita telah menaruh landasan memberdayakan untuk mencapai tujuan masa depan. SELAMAT TINGGAL BUKU KEHIDUPAN 2009! SEMOGA KEHIDUPAN MASA LALU MERUPAKAN AWAL BAGI KITA UNTUK MERAIH APAPUN YANG KITA INGINKAN DAN ITU 1000% AKAN TERJADI DENGAN SUMBER DAYA, STRATEGI DAN ACTION YANG TEPAT TENTUNYA!

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - December 31, 2009 at 2:33 am

Categories: Quality of Life   Tags:

Mengaktifkan “Not-Knowing” State Untuk Kehidupan

rman4716l[1]Suatu ketika di suatu kelas training yang saya ikuti seorang peserta menjawab pertanyaan trainer. Sang trainer bertanya kepada seluruh peserta bagaimana mereka memahami materi dan praktek yang akan diajarkan di kelas training itu. Saat itu kelas training yang saya ikuti merupakan kelanjutan dan pendalaman dari kelas training sebelumnya.

 

Dari sekian peserta yang menjawab pertanyaan sang trainer, ada jawaban dari salah satu peserta yang menarik perhatian saya. Peserta itu menjawab bahwa cara ia mengerti dan memahami pengetahuan dan skills yang akan diajarkan di kelas itu adalah dengan berada kondisi “tidak tahu” atau “not-knowingstate.

 

Jawabannya sungguh membuat saya tertarik, seperti apa persisnya ia berada pada “not-knowingstate? Ketika itu sepertinya saya pernah berada pada situasi “not-knowingstate ini namun saya lupa kapan persisnya saya mengalami itu. Saya perlu waktu untk mengingat kembali pengalaman tersebut selama 36 tahun hidup saya ini. Kelas training yang kita ikuti saat itu adalah kelanjutan dari kelas training sebelumnya sehingga sebagian materi yang disampaikan pada kelas training ini berhubungan dengan materi pada kelas terdahulu. Tentu teman saya itu memiliki pemahaman tentang materi yang akan disampaikan di kelas itu karena ia telah mengikuti kelas sebelumnya pikir saya kala itu. Lalu mengapa teman saya itu berada pada “not-knowingstate di kelas ini? Apakah ia benar-benar tidak memahami apa yang disampaikan di kelas terdahulu sehingga ia berada “not-knowingstate di kelas saat ini?

 

Pertanyaan dalam diri ini akhirnya terjawab setelah saya berdiskusi dengannya. Ia menjelaskan bahwa “not-knowingstate merupakan kondisi yang sengaja ia ciptakan. Ia beranggapan bahwa “not-knowingstate akan memudahkannya menyerap dan memahami berbagai hal baru seperti pengetahuan, cara berpikir,  dan skills tertentu. Ia pun meyakini bahwa banyak hal diluar diri kita yang berguna dan memberikan wawasan baru bagi pengembangan diri kita. Oleh karena itu ia sering dengan sengaja berada pada “not-knowingstate agar ia bisa dengan mudah menyerap berbagai hal positif bagi kemajuan dirinya.

 

Satu hal yang membuat saya kagum dengan teman saya ini adalah usianya yang sudah dipertengahan 50-an tahun. Artinya diusianya yang lebih dari setengah abad, ia begitu mudah mengosongkan segala pengalaman dan pencapaiannya selama ini selama beberapa waktu untuk meyerap sebanyak mungkin pengetahuan dan wawasan yang ia terima dari lingkungannya.

 

Inilah inti dari “not-knowingstate yaitu berada pada kondisi pikiran dimana kita bisa dengan mudah menyerap berbagai pengetahuan, wawasan maupun skills tertentu dalam pikiran kita tanpa kita menahan dan mempertentangkannya di kesempatan pertama. Menahan disini berarti kita dengan sengaja mem-block pengetahuan, wawasan dan skills tertentu yang kita terima hanya karena pengalaman kita yang mencangkup pengetahuan dan wawasan yang dimiliki saat ini lebih baik atau lebih berkualitas. Dengan menahan setiap informasi, pengetahuan dan wawasan yang kita baca, dengar dan lihat maka kita sedang menahan suatu informasi, pengetahuan dan wawasan yang bisa jadi berguna bagi kita saat ini atau di masa mendatang.

 

Sama halnya dengan menahan informasi dan pengetahuan yang ada disekitar kita, mempertentangkan berarti menyanggah setiap infomasi dan pengetahuan yang kita dapat dengan pengetahuan dan wawasan yang kita miliki sekarang ini. Seringkali seseorang mempertentangkan suatu pengetahuan dan wawasan yang ada disekitarnya disebabkan karena ia membandingkan antara pengetahuan dan wawasan dari hasil pengalamannya selama ini dengan pengetahuan dan wawasan yang yang ia baca, dengar dan lihat saat ini. Ia mengganggap bawa pengetahuan dan wawasannya selama ini sudah begitu baik karena mampu memecahkan atau menghindarkan ia dari masalah maka ia menempatkan setiap informasi dan pengetahuan yang ia baca, dengar dan lihat  di tingkatan terbawah dari pengetahuan dan wawasan yang dimilikinya saat ini.

 

Ia berpendapat bahwa pengetahuan dan wawasan yang ia miliki selama ini sudah teruji dan yang paling tepat sehingga apapun pengetahuan dan wawasan yang ia dengar, baca dan lihat saat ini akan ditentang dan diargumentasikan berdasarkan pengetahuan dan wawasan yang dimilikinya. Walau pengetahuan dan wawasan yang ia baca, dengar dan lihat saat ini berkualitas dan efektif namun setelah diargumentasikan dan dibandingkan dengan pengetahuan dan wawasan yang teruji miliknya   maka pengetahuan dan wawasan yang ia dengar, baca dan lihat tersebut menjadi tidak berkualitas dan tidak efektif. Subyektifitas ini terbentuk karena kita mengagungkan pengalaman terbaik di masa lalu, pengetahuan dan wawasan yang kita miliki dan track record selama ini. Kita terlalu mengandalkan dan meyakini bahwa pengetahuan dan wawasan yang didapat di masa lalu adalah yang terbaik dibandingkan dengan pengetahuan dan wawasan yang di baca, didengar dan dilihat saat ini.

 

Hidup dan kehidupan ini sesungguhnya menawarkan beragam informasi, pengetahuan, dan kesempatan kepada kita. Kita yang bisa mengambil, memanfatkan dan mengoptimalkannya akan menjadi manusia yang berkelimpahan. Memanfaatkan dan mengoptimalkan kelimpahan yang ada dalam diri kita dan kelimpahan di luar diri kita akan menjadi kita manusia yang luar biasa berkelimpahan. Hidup dan kehidupan pun selalu berubah, bergerak ke berbagai arah. Itulah sebabnya mengapa informasi, pengetahuan dan peristiwa selalu berganti.

 

Ketika segalanya berubah maka cara-cara dan tindakan pun akan berubah mengikutinya. Pengetahuan dan wawasan masa lalu yang membentuk cara dan tindakan di masa lalu bisa sangat tepat pada situasi di masa lalu. Namun ketika situasi berubah sehingga pengetahuan dan wawasan pun ikut berubah, apakah cara dan tindakan kita masih tetap sama? Tentu akan lebih baik dan lebih tepat tentunya, apabila cara dan tindakan kita berubah ketika informasi, pengetahuan, situasi dan tingkat masalah berubah. Seberapapun hebatnya pengetahuan, wawasan, dan cara kita dimasa lalu hanya akan terlihat hebat dimasa lalu. Ketika segala sesuatunya berubah, belum ada jaminan yang pasti bahwa yang tepat di masa lalu akan tepat pula di masa kini.

 

Dengan mengaktifkan “not-knowingstate kita menempatkan pikiran kita dalam kondisi “menerima” dengan mudah segala informasi, pengetahuan, wawasan, dan skills dan kemudian mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna bagi diri kita.  Dengan berada pada “not-knowingstate kita tidak lagi berupaya menahan atau mempertentangkan segala informasi, pengetahuan, dan skills yang kita dapatkan. Setiap informasi, pengetahuan dan skills yang baca, dengar dan lihat akan dengan mudah mengalir dari seluruh panca indera kita ke dalam pikiran kita. Biarkan informasi, pengetahuan, dan skills yang baru kita dapatkan menjadi satu dengan pengetahuan, wawasan dan skills yang lebih dahulu ada dalam diri kita. Biarkan keduanya – pengetahuan dan wawasan lama dan baru – berintegasi menjadi suatu kekuatan dan sumber daya berharga pada diri kita.

 

Bagaimana mengaktifkan “not-knowingstate setiap saat dimanapun kita berada? Cara mudah dan sederhana adalah dengan memiliki belief system bahwa “not-knowingstate itu menyenangkan. Mengapa menyenangkan? Anda bisa menciptakan 1001 alasan menyenangkan dan memberdayakan menurut anda ketika mengaktifkan “not-knowingstate. Akan lebih baik lagi apabila begitu menyenangkannya mengaktifkan “not-knowingstate bisa anda gambarkan, rasakan dan dengarkan dengan begitu jelas dan kuat di pikiran anda. Selamat mencoba dan gunakan “not-knowingstate untuk mencapai keberhasilan di 2010 nanti !

  • Share/Bookmark

1 comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - December 28, 2009 at 7:56 am

Categories: Quality of Life   Tags:

Next Page »