Memisahkan Keuangan Pribadi & Keluarga Dengan Keuangan Usaha

Tulisan ini saya buat bagi semua individu yang ingin menjalani profesi sebagai entrepreuner. Bagi yang ingin menjadi pengusaha UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha/bisnis amatlah penting. Seringkali saya memperhatikan banyak pengusaha UMKM yang harus putar otak atau mencari hutang untuk modal untuk bisnis yang sedang berjalan. Bisnis mereka sudah berjalan namun dalam berjalannya usaha modal yang dibutuhkan untuk menjalani usaha berkurang atau bahkan habis. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah bisnis mereka merugi sehingga modal usahanya menjadi berkurang dan kemudian habis? Atau ada hal lain yang menyebabkan modal usaha menjadi berkurang atau habis?

 

Usaha merugi apabila pengeluaran lebih besar dari pemasukan atau dalam hal ini penjualan. Usaha akan berjalan dengan baik dan dapat bertahan lama apabila uang yang masuk dari penjualan lebih banyak dibandingkan uang yang keluar sebagai biaya. Apabila dalam jangka waktu tertentu suatu usaha tidak mengalami pertumbuhan atau lebih besar pengeluaran daripada pemasukan, maka lambat laun modal usaha akan terpakai. Ketika modal usaha terus terpakai sedangkan pemasukan belum bisa menutupi pengeluaran maka suatu saat modal akan habis dan usaha akan bangkrut. Pemasukan kecil sedangkan pengeluaran besar yang terus menerus terjadi tentu akan menghabiskan modal usaha dan hal ini jelas konsekuensi logis dari situasi yang tidak berimbang ini.

 

Ada hal lain yang seringkali saya temui ketika seorang pengusaha UMKM harus kehilangan modal usaha bukan karena usahanya merugi. Justru usahanya membukukan keuntungan, dalam arti kata uang yang masuk bisa menutupi seluruh biaya-biaya dan sisanya merupakan keuntungan bersih. Sampai disini mungkin kita berpikir seharusnya situasi dimana seorang pengusaha kekurangan atau kehabisan modal usaha tentu tidak terjadi. Namun kenyataannya hal seperti ini banyak terjadi terutama bagi pengusaha UMKM.

 

Suatu ketika dalam perjalanan pulang menuju rumah, saya menyempatkan diri untuk membeli martabak untuk keluarga di rumah. Saya belum mengenal si penjual martabak tersebut, namun kami terlibat pembicaraan yang menyenangkan. Sampai akhirnya dia bercerita bahwa pernah suatu ketika ia tidak bisa berjualan martabak sama sekali karena kehabisan modal untuk berjualan. Lalu saya bertanya apakah ketika itu pembelinya sepi sehingga merugi atau mungkin gerobak martabaknya terkena penertiban kamtib dan gerobak beserta peralatan membuat martabak disita sehingga ia tidak bisa berjualan. Ternyata jawabannya tidak dua-duanya. Lalu saya bertanya,”lantas apa yang membuat bapak kehabisan modal untuk berdagang?”

 

Jawaban mengejutkan kemudian keluar dari mulutnya, tetapi saya akan menjelaskan terlebih dahulu latar belakang kehidupannya. Ia pun hanya tamatan SMA. Sebelum menjadi penjual martabak ia pernah bekerja apa saja dari kuli bangunan sampai pemulung. Namun kemudian ia berkenalan dengan seorang penjual martabak yang memiliki beberapa cabang dan ia diajak untuk bekerja mengelola gerobak martabak di suatu tempat. Kala itu dengan seorang istri dan dua orang anak hidupnya masih prihatin. Membiayai anak sekolah menjadi prioritas utama. Hal-hal lain selain pendidikan anak dan makan tidak menjadi perhatian sama sekali. Setelah beberapa lama ia bekerja dengan pengusaha martabak, ia berkeinginan untuk berwirausaha dan menjual martabak menjadi pilihannya. Ia mencari pinjaman uang sebagai modal ia berjualan martabak. Akhirnya ia mendapat pinjaman uang dari seorang kawan dan mulailah ia berjualan martabak. Setelah berjalan beberapa lama usaha martabaknya sangat laris. Lambat laun kualitas kehidupan keluarganya membaik bahkan cenderung meningkat.

 

Ketika pendapatan keluarga meningkat, situasi klasik selalu terjadi. Alih-alih pendapatan yang didapat bisa memenuhi kebutuhan keluarga, justru yang terjadi adalah kenaikan pendapatan mendorong terjadinya kenaikan pengeluaran. Sesuatu yang dulu tidak bisa ia nikmati sekarang bisa ia miliki dan nikmati, seperti memiliki kulkas, pemutar vcd, pemutar musik, handphone, sepeda motor, dan lainnya. Namun lama-lama mereka kecanduan membeli barang-barang konsumtif untuk memenuhi kebutuhan sekunder keluarga. Uang yang didapat dari penjualan martabak seringkali dipakai untuk membeli barang-barang konsumtif tadi. Hal terus dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Sampai akhirnya modal usaha si penjual martabak terus berkurang sehingga jumlah martabak yang biasanya bisa menyampai 30 kotak sehari hanya bisa 15 kotak sehari. Padahal pembelinya banyak namun ia hanya bisa melayani 15 kotak sehari. Bahkan suatu saat modal usahanya hanya tinggal 10% saja dari kebutuhan modal untuk berjualan martabak. Akhirnya pernah ia tidak berjualan sampai berminggu-minggu karena tidak ada modal usaha.

 

Kisah diatas banyak terjadi di kalangan pengusaha terutama pengusaha UMKM. Ada seorang pedagang baju yang berjualan di salah satu pasar di Jakarta Selatan yang harus mencari pinjaman uang untuk modal usaha karena modal usahanya berkurang karena terpakai untuk memenuhi kebutuhan sekunder keluarganya yang masih bisa ditunda. Seorang mahasiswa yang memberanikan diri berbisnis dengan membuka warnet harus putar otak mencari uang untuk membayar sewa tempat. Walaupun warnetnya diminati oleh para mahasiswa karena letaknya di dekat kampus, namun setiap pendapatan yang ia peroleh dari warnetnya digunakan untuk berlibur, membeli sepeda motor dan berfoya-foya. Seorang pengusaha handphone, asesoris dan voucher pulsa harus mencari pinjaman uang untuk modal usaha karena modal usahanya tinggal tersisa sedikit karena terpakai untuk membangun rumahnya menjadi dua tingkat.

 

Inilah contoh bagaimana seorang pengusaha UMKM yang mencampur-adukkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha. Pendapatan yang didapat dari hasil usaha seyogyanya digunakan untuk kepentingan usaha terlebih dahulu. Pada awal-awal usaha, keuntungan bersih yang didapat dari selisih antara pendapatan dengan biaya-biaya ditambah modal usaha bisa digunakan untuk meningkatkan produksi dan inovasi produk. Selain itu sebagian keuntungan bersih bisa dipergunakan sebagai cadangan usaha. Cadangan ini digunakan apabila suatu saat ada hal-hal yang tidak diharapkan terjadi, seperti penjualan menurun, pesanan bertambah namun modal kurang, cash flow terganggu karena banyak piutang yang belum terbayar, pindah tempat usaha, terkena bencana alam, dan sebagainya. Yang seringkali terjadi adalah keuntungan bersih dari hasil usaha digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga diluar kebutuhan primer.

 

Bagi para entrepreuner yang baru membangun suatu usaha, sebaiknya dipisahkan antara keuangan pribadi dengan keuangan usaha. Ketika baru memulai usaha kita harus mempersiapkan sejumlah uang untuk menghidupi keluarga minimal selama 6 (enam) bulan ke depan. Uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti bahan makanan, listrik, gas, air, pulsa telepon, minyak tanah, bensin, uang sekolah. Hal ini dilakukan agar pemenuhan kebutuhan keluarga tidak menggunakan hasil pendapatan usaha sehingga tidak mengganggu jalannya usaha.

 

Kebutuhan keluarga harus dapat dipenuhi dengan keuangan keluarga. Keuntungan yang didapat dari hasil usaha seyogyanya diputar kembali menjadi modal usaha sehingga kapasitas produksi meningkat, inovasi produk tercipta, pengembangan usaha bisa dilakukan dan cadangan modal bisa di dapat. Apabila terjadi sesuatu dengan usaha sehingga berdampak merugikan, kita bisa menggunakan cadangan modal untuk melakukan sesuatu agar usaha kita kembali berjalan normal dan berkembang.

 

Apabila kita ingin tetap mengambil bagian dari keuntungan yang didapat dari hasil usaha untuk kebutuhan keluarga maka ambillah dalam jumlah yang sangat sedikit. Selalu utamakan bisnis terlebih dahulu, walaupun kebutuhan keluarga juga penting. Oleh karena itu sebelum kita berbisnis, persiapkanlah terlebih dahulu cash flow keluarga yang tidak menganggu cash flow usaha. Apabila usaha sudah stabil dan berkembang serta cadangan modal sudah mencukupi, kita bisa menggunakan sistem upah bagi pendiri. Sebagai pemilik sekaligus pengelola usaha, anda bisa mendapatkan gaji dari usaha anda. Gaji yang diperoleh olen pemilik dan pendiri usaha akan dianggap sebagai biaya. Dari gaji tersebut kita bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

 

Memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha merupakan bagian dari strategi pengelolaan keuangan. Bagaimanapun strategi akan berjalan baik apabila diimplementasikan dengan baik dan efektif pula. Menariknya, strategi pemisahan keuangan ini sudah diketahui dan diakui sebagai cara yang tepat dan efektif oleh sebagian orang namun kenyataannya mereka begitu sulit untuk mempraktekkannya. Pertanyaannya mengapa? Karena tindakan yang tepat dan efektif untuk menjalankan strategi ini tidak dilakukan. Hal ini terjadi karena belief system atau mental system dalam diri mereka yang menghambat mereka untuk menerapkan strategi ini. Misanya sifat konsumtif, hari ini lebih penting dibandingkan hari esok, mengikuti tren, dan lainnya akan mempengaruhi tindakan mereka dan tentunya strategi pemisahan keuangan ini menjadi sulit untuk diterapkan. Pada akhirnya bila anda kesulitan untuk memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha bisa jadi belief system anda yang perlu diubah. Dengan teknologi dan bahasa pikiran anda bisa mengatasi cara berpikir yang tidak memberdayakan ini.

  • Share/Bookmark