Me,Motorcycle & Philosophy of Life

Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan memulai kebiasaan baru berkaitan dengan pemakaian alat transportasi menuju ke tempat kerja. Kebiasaan baru saya adalah mengendarai sepeda motor menuju tempat kerja. Kecuali apabila ada meeting atau mengadakan training di suatu tempat barulah saya menggunakan mobil pribadi. Kebiasaan baru ini sekaligus sebagai pengalaman baru dan menarik bagi saya.

 

Tiga minggu yang lalu saya memutuskan membeli sepeda motor sebagai alat transportasi menuju tempat kerja. Sejak saya dan isteri pindah ke rumah pribadi kami di Tangerang Selatan, jarak antara rumah dengan tempat kerja menjadi jauh. Sepuluh tahun lebih saya terbiasa tinggal dekat dengan tempat kerja. Biasanya dulu saya hanya membutuhkan waktu antara 15 sampai dengan 20 menit agar bisa sampai ke tempat kerja dan biasanya menggunakan mobil atau kendaraan umum. Namun sekarang apabila saya menggunakan mobil pribadi ataupun kendaraan umum, lama perjalanan dari rumah menuju tempat kerja bisa mencapai 2 (dua) jam karena kemacetan. Dua jam perjalanan karena kemacetan ini memang telah membuat saya mengalami kelelahan fisik karena saya mengalaminya setiap hari.

 

Selain pertimbangan kemacetan, ada pertimbangan lainnya mengapa kami memutuskan membeli kendaraan bermotor. Sungguh menyenangkan bisa berjalan-jalan disekitar tempat tinggal kami yang masih banyak kebun dan jalan-jalan kecil yang berbukit dengan menggunakan sepeda motor. Akan sangat kurang efektif dan menyenagkan apabila kami harus melakukannya dengan menggunakan mobil pribadi. Pertimbangan terakhir adalah efektifitas alat transportasi apabila kami menggunakan sepeda motor jika ingin membeli sesuatu ke toko atau mengambil uang di ATM yang dekat rumah kami. Sungguh tidak praktis dan terkadang agak merepotkan apabila harus menggunakan mobil pribadi apabila harus bepergian untuk jarak yang sangat dekat.

 

Tiga pertimbangan inilah yang telah membulatkan tekad saya untuk membeli sebuah sepeda motor. Bagai mimpi yang terwujud, keinginan saya memiliki motor akhirnya tercapai juga. Sejak duduk di bangku kuliah saya memiliki keinginan untuk mengendarai sendiri sepeda motor. Bagi saya mengendarai sepeda motor memberi kesenangan tersendiri. Namun ibu saya melarang saya mengendarai sepeda motor karena saat itu saya seringkali mengalami bronchitis. Selain itu ibu saya khawatir saya jatuh ketika mengendarai sepeda motor. Maklum saya telah dua kali jatuh dari sepeda motor, tetapi keduanya saya duduk dibelakang pengendara motor alias diboncengi. Inilah yang ibu saya khawatirkan apabila saya mengendarai sepeda motor. Namun itu dulu, sekarang saya bisa meyakinkan keluarga saya bahwa kekhawatiran itu akan saya tampung melalui cara saya berkendara dan menggunakan berbagai pelindung untuk melindungi saya dari sakit bronchitis. Saya pun membuktikan janji saya sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk merasa khawatir.

 

Ketika mulai mengendarai sepeda motor, saya merasa seperti mendapat kesempatan untuk membuktikan bahwa cara saya mengendarai sepeda motor tidak seperti sebagian orang mengendarai sepeda motornya. Selama ini saya seringkali merasa kesal dan terganggu ketika cara mereka mengendarai sepeda motornya mengganggu ketertiban dan membahayakan kendaraan lain, orang-orang disekitar, dan keselamatan diri mereka sendiri. Walaupun kekesalan saya bisa dengan cepat saya atasi dengan tehnik-tehnik tertentu yang bisa anda pelajari juga, namun etika berkendara dan etika lalu lintas jelas harus menjadi perhatian khusus bagi mereka.

Ketika mereka memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi diantara kendaraan lain, saya berpikir apakah mereka memiliki “2 nyawa”?

Ketika mereka mengendarai sepeda motor di jalan raya tanpa menggunakan helm, apakah mereka tidak ingat dengan keluarga mereka dirumah?

Ketika mereka memotong jalan seenaknya tanpa mempedulikan situasi di jalan, apakah hal ini dikendalikan oleh perasaan tidak sabar ingin segera sampai di tempat tujuan?

Ketika mereka mengendarai sepeda motornya dengan pelan namun berada di tengah jalan atau mereka memacu sepeda motornya ke arah sebaliknya, apakah hal ini dikendalikan oleh egoisme pribadi saja?

 

Suatu ketika saya berkata kepada diri sendiri, apabila suatu saat saya berkesempatan untuk mengendarai sepeda motor maka saya akan mengendarainya dengan cara yang berbeda dari banyak pengendara sepeda motor yang saya lihat selama ini. Saya bahkan mendesain cara saya berkendara sepeda motor nantinya. Saya akan menjaga kecepatan sepeda motor ketika berkendara ditengah-tengah kepadatan kendaraan lain. Saya akan menggunakan helm ketika berkendara di jalan raya atau di jalan yang padat kendaraan. Saya akan memotong jalan pada ketika situasinya pas dan tidak membahayakan kendaraan atau orang lain. Saya akan mengendarai sepeda motor lebih kepinggir untuk memberi kesempatan pada kendaraan roda empat berjalan di bagian tengah jalan.

 

Tibanya saatnya bagi untuk membuktikkan bahwa cara berkendara saya berbeda dengan sebagian pengendara sepeda motor yang saya lihat selama ini. Saya ingin membuktikkan bahwa apa yang selama ini saya kritik adalah sesuatu yang saya hindari untuk saya lakukan. Saya ingin “walk the talk”, melakukan apa yang saya katakan, tidak melakukan apa yang saya tidak suka orang lain lakukan. Dalam melakukan “walk the talk” ini memang membutuhkan jiwa besar dan kebesaran hati untuk menilai secara objektif apakah kita sudah melakukannya atau belum. Jiwa besar dan kebesaran hati dalam menilai dibutuhkan karena saya mengendarai sepeda motor saya sendiri, tidak ada orang lain mengetahui apakah cara saya berkendara sudah sesuai dengan desain cara berkendara yang telah saya buat sebelumnya.

 

Setelah beberapa waktu mengendarai sepeda motor, dengan jiwa besar dan kebesaran hati saya mengakui bahwa desain cara berkendara yang saya buat telah dapat saya implementasikan dengan baik. Walaupun ada sedikit hal yang saya lakukan persis sama dengan apa yang dilakukan oleh sebagian pengendara yang kurang beretika, seperti pernah suatu ketika saya memacu dengan kecepatan tinggi diantara kendaraan lain atau mengendarai sepeda motor disisi tengah jalan sehingga menghalangi kendaraan roda empat dibelakang saya untuk jalan. Namun kemudian saya sadar dan mulai kembali ke desain cara berkendara yang saya buat. Memang godaan untuk melakukan cara-cara diluar desain berkendara yang saya buat selalu saja ada. Namun saya berkomitmen untuk tetap tidak melakukan hal-hal yang saya tidak ingin orang lain melakukannya.

 

Sebelum memiliki sepeda motor, saya sering melihat sebagian besar pengendara sepeda motor ketika berada di kemacetan atau ketika laju sepeda motor mereka terhambat karena kepadatan lalu lintas, mereka berusaha mencari celah atau jalan agar bisa tetap melaju. Dulu saya pernah bertanya dalam diri, “daripada mencari jalan diantara celah-celah sempit di kemacetan atau dikepadatan lalu lintas, mengapa mereka tidak berhenti saja dan berjalan ketika kendaraan didepannya mulai berjalan?”. Namun ketika saya mengalaminya langsung dimana laju sepeda motor saya terhenti karena kendaraan didepan juga terhenti, saya mulai menyadari mengapa banyak pengendara sepeda motor melakukan “selap-selip” ketika lalu lintas macet atau padat merayap.

 

Jawabannya saya dapatkan seketika itu juga. Salah satu keunggulan sepeda motor dibandingkan mobil adalah mampu tetap berjalan ketika mobil disekitar terjebak dalam kemacetan. Akan terlihat aneh dan melawan kodratnya apabila sepeda motor berhenti ketika ada jalan didepan maupun disamping kiri dan kanan yang bisa dilalui agar sepeda motor tetap bisa berjalan. Seakan-akan ketika sedang melaju mencapai suatu tujuan, ada sesuatu didepan kita atau disamping kiri dan kanan yang menghambat langkah kita. Karena tujuan tersebut begitu penting, berharga, dan menyenangkan maka kita akan tergerak untuk mencari jalan keluar dari hambatan dan tantangan yang menghadang ini. Seperti ketika kita mengendarai sepeda motor yang berusaha mencari celah sekecil mungkin yang paling memungkinkan kita untuk lewat dan tetap melaju menuju tempat yang dituju. Ketika proses pencapaian suatu tujuan menghadapi tantangan dan hambatan, kita bisa mencari jalan keluar yang paling mungkin dan tidak merugikan orang lain. Setiap jalan keluar memang mengandung konsekuensi tersendiri, pilihlah yang paling efektif dan bisa jadi paling efisien.

 

Sesungguhnya kita memiliki naluri dan potensi untuk mencari berbagai kemungkinan sebagai solusi ketika proses pencapain tujuan mengalami hambatan dan tantangan. Memang ada sebagian orang yang memiliki tujuan namun ketika menghadapi tantangan dan hambatan yang menghadang proses pencapaiannya, mereka justru tidak berusaha apapun, menyerah dan melupakan tujuannya. Mereka adalah contoh individu yang memiliki tujuan namun tujuan mereka tidak cukup berharga dan penting untuk diperjuangkan. Mulailah menggunakan filosofi para pengendara motor ketika laju sepeda motornya terhenti di tengah kepadatan atau kemacetan lalu lintas ibu kota. Terus mencari celah yang paling mungkin untuk keluar dari setiap hambatan dan tantangan yang menghadang kita untuk mencapai tujuan yang berharga.

  • Share/Bookmark