Setelah melewati hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, akhirnya buku pertama saya berjudul “Sukses Jual Diri : Re-Thinking Personal Branding Through 12 Elements of Personal Competitive Advantage” sedang dalam proses cetak. Lega rasanya penantian saya selama ini. Setahun lebih saya berusaha menyelesaikan naskahnya dan kemudian sekitar empat bulan lebih naskah buku ini berada di pihak penerbit untuk di proses. Diharapkan akhir bulan Maret 2010 ini atau sekitar tanggal 22 Maret 2010 buku “Sukses Jual Diri” sudah bisa dibeli di toko-toko buku.
Ketika naskah buku ini sedang dalam proses cetak maka selesai sudah saya dan tim penerbit berupaya untuk membuat buku ini enak di baca dan mudah dipahami. Hampir berbulan-bulan kami meng-edit dan memeriksa ulang setiap bagian dari naskah ini sebelum mencapai “babak final”. Ketika mencapai “final” kami tidak lagi bisa “mengutak-atik” kata-kata, ide dan desain dalam naskah buku ini. Pada akhirnya kami harus melepaskan naskah ini untuk dicetak dan disebarkan kepada khalayak luas agar bermanfaat bagi kehidupan banyak orang. Sehinga kami harus yakin bahwa apa yang kami lakukan selama ini adalah yang terbaik yang bisa kami lakukan bagi para pembaca buku ini.
Buku ini tentang bagaimana setiap orang memiliki tanggung jawab untuk “menjual dirinya” dihadapan sebanyak mungkin orang atau pihak-pihak yang bisa memberikan kesempatan untuk meraih sukses. Dalam buku ini dijelaskan bahwa sukses dan keberhasilan adalah sebuah kesempatan yang membutuhkan serangkaian upaya, strategi dan taktik yang tepat, efektif dan bernilai tambah untuk meraihnya. “Menjual diri” disini adalah bagaimana kita dipercaya dan mendapatkan loyalitas dari sebanyak mungkin orang dan pihak-pihak, seperti atasan kita, anak buah kita, pelanggan kita, mitra usaha kita, investor, teman-teman, keluarga, dan lainnya melalui model segitiga daya saing individu. Model ini menjadi landasan utama aktivitas personal branding. Sedangkan facebook, twitter, grup milis, youtube, buku, artikel, talkshow radio dan TV, dan lainnya hanyalah alat semata untuk menyebarkan model segitiga daya saing individu serta strategi dan taktik personal branding kita. Inilah praktek-praktek yang membawa kita memikir ulang (Re-Thinking) personal branding.
Besar harapan saya buku bisa memberikan sebuah pemahaman, wawasan dan praktek-praktek yang mampu membawa setiap orang mencapai tujuan-tujuannya dan sukses. Sebuah alternatif untuk memastikan bahwa setiap proses perjalanan menuju keberhasilan sama pentingnya ketika kita berhasil mencapai tujuan perjalanan tersebut. Sehingga menghargai dan fokus pada proses pencapaian akan semakin mendekatkan kita mencapai kesuksesan. Inilah inti dari buku ini. Semoga nantinya para pembaca tidak hanya membaca dan sekedar mengetahui namun juga memahami dan mengimplementasikannya dalam setiap aspek kehidupan.
Selama proses cetak ini saya memberikan penawaran khusus bagi 100 orang pemesan pertama untuk mendapatkan buku “Sukses Jual Diri : Re-Thinking Personal Branding Through 12 Elements of Personal Competitive Advantage” berikut BONUS 1 CD audio berjudul “New Paradigm of Success : build everlasting trust to your 2CID through personal branding” serta tanda tangan asli penulis. Bagi yang berminat silahkan menghubungi Retno di moi.retno@gmail.com.
Sukses tanpa batas!
Tulisan ini saya buat bagi semua individu yang ingin menjalani profesi sebagai entrepreuner. Bagi yang ingin menjadi pengusaha UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha/bisnis amatlah penting. Seringkali saya memperhatikan banyak pengusaha UMKM yang harus putar otak atau mencari hutang untuk modal untuk bisnis yang sedang berjalan. Bisnis mereka sudah berjalan namun dalam berjalannya usaha modal yang dibutuhkan untuk menjalani usaha berkurang atau bahkan habis. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah bisnis mereka merugi sehingga modal usahanya menjadi berkurang dan kemudian habis? Atau ada hal lain yang menyebabkan modal usaha menjadi berkurang atau habis?
Usaha merugi apabila pengeluaran lebih besar dari pemasukan atau dalam hal ini penjualan. Usaha akan berjalan dengan baik dan dapat bertahan lama apabila uang yang masuk dari penjualan lebih banyak dibandingkan uang yang keluar sebagai biaya. Apabila dalam jangka waktu tertentu suatu usaha tidak mengalami pertumbuhan atau lebih besar pengeluaran daripada pemasukan, maka lambat laun modal usaha akan terpakai. Ketika modal usaha terus terpakai sedangkan pemasukan belum bisa menutupi pengeluaran maka suatu saat modal akan habis dan usaha akan bangkrut. Pemasukan kecil sedangkan pengeluaran besar yang terus menerus terjadi tentu akan menghabiskan modal usaha dan hal ini jelas konsekuensi logis dari situasi yang tidak berimbang ini.
Ada hal lain yang seringkali saya temui ketika seorang pengusaha UMKM harus kehilangan modal usaha bukan karena usahanya merugi. Justru usahanya membukukan keuntungan, dalam arti kata uang yang masuk bisa menutupi seluruh biaya-biaya dan sisanya merupakan keuntungan bersih. Sampai disini mungkin kita berpikir seharusnya situasi dimana seorang pengusaha kekurangan atau kehabisan modal usaha tentu tidak terjadi. Namun kenyataannya hal seperti ini banyak terjadi terutama bagi pengusaha UMKM.
Suatu ketika dalam perjalanan pulang menuju rumah, saya menyempatkan diri untuk membeli martabak untuk keluarga di rumah. Saya belum mengenal si penjual martabak tersebut, namun kami terlibat pembicaraan yang menyenangkan. Sampai akhirnya dia bercerita bahwa pernah suatu ketika ia tidak bisa berjualan martabak sama sekali karena kehabisan modal untuk berjualan. Lalu saya bertanya apakah ketika itu pembelinya sepi sehingga merugi atau mungkin gerobak martabaknya terkena penertiban kamtib dan gerobak beserta peralatan membuat martabak disita sehingga ia tidak bisa berjualan. Ternyata jawabannya tidak dua-duanya. Lalu saya bertanya,”lantas apa yang membuat bapak kehabisan modal untuk berdagang?”
Jawaban mengejutkan kemudian keluar dari mulutnya, tetapi saya akan menjelaskan terlebih dahulu latar belakang kehidupannya. Ia pun hanya tamatan SMA. Sebelum menjadi penjual martabak ia pernah bekerja apa saja dari kuli bangunan sampai pemulung. Namun kemudian ia berkenalan dengan seorang penjual martabak yang memiliki beberapa cabang dan ia diajak untuk bekerja mengelola gerobak martabak di suatu tempat. Kala itu dengan seorang istri dan dua orang anak hidupnya masih prihatin. Membiayai anak sekolah menjadi prioritas utama. Hal-hal lain selain pendidikan anak dan makan tidak menjadi perhatian sama sekali. Setelah beberapa lama ia bekerja dengan pengusaha martabak, ia berkeinginan untuk berwirausaha dan menjual martabak menjadi pilihannya. Ia mencari pinjaman uang sebagai modal ia berjualan martabak. Akhirnya ia mendapat pinjaman uang dari seorang kawan dan mulailah ia berjualan martabak. Setelah berjalan beberapa lama usaha martabaknya sangat laris. Lambat laun kualitas kehidupan keluarganya membaik bahkan cenderung meningkat.
Ketika pendapatan keluarga meningkat, situasi klasik selalu terjadi. Alih-alih pendapatan yang didapat bisa memenuhi kebutuhan keluarga, justru yang terjadi adalah kenaikan pendapatan mendorong terjadinya kenaikan pengeluaran. Sesuatu yang dulu tidak bisa ia nikmati sekarang bisa ia miliki dan nikmati, seperti memiliki kulkas, pemutar vcd, pemutar musik, handphone, sepeda motor, dan lainnya. Namun lama-lama mereka kecanduan membeli barang-barang konsumtif untuk memenuhi kebutuhan sekunder keluarga. Uang yang didapat dari penjualan martabak seringkali dipakai untuk membeli barang-barang konsumtif tadi. Hal terus dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Sampai akhirnya modal usaha si penjual martabak terus berkurang sehingga jumlah martabak yang biasanya bisa menyampai 30 kotak sehari hanya bisa 15 kotak sehari. Padahal pembelinya banyak namun ia hanya bisa melayani 15 kotak sehari. Bahkan suatu saat modal usahanya hanya tinggal 10% saja dari kebutuhan modal untuk berjualan martabak. Akhirnya pernah ia tidak berjualan sampai berminggu-minggu karena tidak ada modal usaha.
Kisah diatas banyak terjadi di kalangan pengusaha terutama pengusaha UMKM. Ada seorang pedagang baju yang berjualan di salah satu pasar di Jakarta Selatan yang harus mencari pinjaman uang untuk modal usaha karena modal usahanya berkurang karena terpakai untuk memenuhi kebutuhan sekunder keluarganya yang masih bisa ditunda. Seorang mahasiswa yang memberanikan diri berbisnis dengan membuka warnet harus putar otak mencari uang untuk membayar sewa tempat. Walaupun warnetnya diminati oleh para mahasiswa karena letaknya di dekat kampus, namun setiap pendapatan yang ia peroleh dari warnetnya digunakan untuk berlibur, membeli sepeda motor dan berfoya-foya. Seorang pengusaha handphone, asesoris dan voucher pulsa harus mencari pinjaman uang untuk modal usaha karena modal usahanya tinggal tersisa sedikit karena terpakai untuk membangun rumahnya menjadi dua tingkat.
Inilah contoh bagaimana seorang pengusaha UMKM yang mencampur-adukkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha. Pendapatan yang didapat dari hasil usaha seyogyanya digunakan untuk kepentingan usaha terlebih dahulu. Pada awal-awal usaha, keuntungan bersih yang didapat dari selisih antara pendapatan dengan biaya-biaya ditambah modal usaha bisa digunakan untuk meningkatkan produksi dan inovasi produk. Selain itu sebagian keuntungan bersih bisa dipergunakan sebagai cadangan usaha. Cadangan ini digunakan apabila suatu saat ada hal-hal yang tidak diharapkan terjadi, seperti penjualan menurun, pesanan bertambah namun modal kurang, cash flow terganggu karena banyak piutang yang belum terbayar, pindah tempat usaha, terkena bencana alam, dan sebagainya. Yang seringkali terjadi adalah keuntungan bersih dari hasil usaha digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga diluar kebutuhan primer.
Bagi para entrepreuner yang baru membangun suatu usaha, sebaiknya dipisahkan antara keuangan pribadi dengan keuangan usaha. Ketika baru memulai usaha kita harus mempersiapkan sejumlah uang untuk menghidupi keluarga minimal selama 6 (enam) bulan ke depan. Uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti bahan makanan, listrik, gas, air, pulsa telepon, minyak tanah, bensin, uang sekolah. Hal ini dilakukan agar pemenuhan kebutuhan keluarga tidak menggunakan hasil pendapatan usaha sehingga tidak mengganggu jalannya usaha.
Kebutuhan keluarga harus dapat dipenuhi dengan keuangan keluarga. Keuntungan yang didapat dari hasil usaha seyogyanya diputar kembali menjadi modal usaha sehingga kapasitas produksi meningkat, inovasi produk tercipta, pengembangan usaha bisa dilakukan dan cadangan modal bisa di dapat. Apabila terjadi sesuatu dengan usaha sehingga berdampak merugikan, kita bisa menggunakan cadangan modal untuk melakukan sesuatu agar usaha kita kembali berjalan normal dan berkembang.
Apabila kita ingin tetap mengambil bagian dari keuntungan yang didapat dari hasil usaha untuk kebutuhan keluarga maka ambillah dalam jumlah yang sangat sedikit. Selalu utamakan bisnis terlebih dahulu, walaupun kebutuhan keluarga juga penting. Oleh karena itu sebelum kita berbisnis, persiapkanlah terlebih dahulu cash flow keluarga yang tidak menganggu cash flow usaha. Apabila usaha sudah stabil dan berkembang serta cadangan modal sudah mencukupi, kita bisa menggunakan sistem upah bagi pendiri. Sebagai pemilik sekaligus pengelola usaha, anda bisa mendapatkan gaji dari usaha anda. Gaji yang diperoleh olen pemilik dan pendiri usaha akan dianggap sebagai biaya. Dari gaji tersebut kita bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha merupakan bagian dari strategi pengelolaan keuangan. Bagaimanapun strategi akan berjalan baik apabila diimplementasikan dengan baik dan efektif pula. Menariknya, strategi pemisahan keuangan ini sudah diketahui dan diakui sebagai cara yang tepat dan efektif oleh sebagian orang namun kenyataannya mereka begitu sulit untuk mempraktekkannya. Pertanyaannya mengapa? Karena tindakan yang tepat dan efektif untuk menjalankan strategi ini tidak dilakukan. Hal ini terjadi karena belief system atau mental system dalam diri mereka yang menghambat mereka untuk menerapkan strategi ini. Misanya sifat konsumtif, hari ini lebih penting dibandingkan hari esok, mengikuti tren, dan lainnya akan mempengaruhi tindakan mereka dan tentunya strategi pemisahan keuangan ini menjadi sulit untuk diterapkan. Pada akhirnya bila anda kesulitan untuk memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha bisa jadi belief system anda yang perlu diubah. Dengan teknologi dan bahasa pikiran anda bisa mengatasi cara berpikir yang tidak memberdayakan ini.
Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan memulai kebiasaan baru berkaitan dengan pemakaian alat transportasi menuju ke tempat kerja. Kebiasaan baru saya adalah mengendarai sepeda motor menuju tempat kerja. Kecuali apabila ada meeting atau mengadakan training di suatu tempat barulah saya menggunakan mobil pribadi. Kebiasaan baru ini sekaligus sebagai pengalaman baru dan menarik bagi saya.
Tiga minggu yang lalu saya memutuskan membeli sepeda motor sebagai alat transportasi menuju tempat kerja. Sejak saya dan isteri pindah ke rumah pribadi kami di Tangerang Selatan, jarak antara rumah dengan tempat kerja menjadi jauh. Sepuluh tahun lebih saya terbiasa tinggal dekat dengan tempat kerja. Biasanya dulu saya hanya membutuhkan waktu antara 15 sampai dengan 20 menit agar bisa sampai ke tempat kerja dan biasanya menggunakan mobil atau kendaraan umum. Namun sekarang apabila saya menggunakan mobil pribadi ataupun kendaraan umum, lama perjalanan dari rumah menuju tempat kerja bisa mencapai 2 (dua) jam karena kemacetan. Dua jam perjalanan karena kemacetan ini memang telah membuat saya mengalami kelelahan fisik karena saya mengalaminya setiap hari.
Selain pertimbangan kemacetan, ada pertimbangan lainnya mengapa kami memutuskan membeli kendaraan bermotor. Sungguh menyenangkan bisa berjalan-jalan disekitar tempat tinggal kami yang masih banyak kebun dan jalan-jalan kecil yang berbukit dengan menggunakan sepeda motor. Akan sangat kurang efektif dan menyenagkan apabila kami harus melakukannya dengan menggunakan mobil pribadi. Pertimbangan terakhir adalah efektifitas alat transportasi apabila kami menggunakan sepeda motor jika ingin membeli sesuatu ke toko atau mengambil uang di ATM yang dekat rumah kami. Sungguh tidak praktis dan terkadang agak merepotkan apabila harus menggunakan mobil pribadi apabila harus bepergian untuk jarak yang sangat dekat.
Tiga pertimbangan inilah yang telah membulatkan tekad saya untuk membeli sebuah sepeda motor. Bagai mimpi yang terwujud, keinginan saya memiliki motor akhirnya tercapai juga. Sejak duduk di bangku kuliah saya memiliki keinginan untuk mengendarai sendiri sepeda motor. Bagi saya mengendarai sepeda motor memberi kesenangan tersendiri. Namun ibu saya melarang saya mengendarai sepeda motor karena saat itu saya seringkali mengalami bronchitis. Selain itu ibu saya khawatir saya jatuh ketika mengendarai sepeda motor. Maklum saya telah dua kali jatuh dari sepeda motor, tetapi keduanya saya duduk dibelakang pengendara motor alias diboncengi. Inilah yang ibu saya khawatirkan apabila saya mengendarai sepeda motor. Namun itu dulu, sekarang saya bisa meyakinkan keluarga saya bahwa kekhawatiran itu akan saya tampung melalui cara saya berkendara dan menggunakan berbagai pelindung untuk melindungi saya dari sakit bronchitis. Saya pun membuktikan janji saya sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk merasa khawatir.
Ketika mulai mengendarai sepeda motor, saya merasa seperti mendapat kesempatan untuk membuktikan bahwa cara saya mengendarai sepeda motor tidak seperti sebagian orang mengendarai sepeda motornya. Selama ini saya seringkali merasa kesal dan terganggu ketika cara mereka mengendarai sepeda motornya mengganggu ketertiban dan membahayakan kendaraan lain, orang-orang disekitar, dan keselamatan diri mereka sendiri. Walaupun kekesalan saya bisa dengan cepat saya atasi dengan tehnik-tehnik tertentu yang bisa anda pelajari juga, namun etika berkendara dan etika lalu lintas jelas harus menjadi perhatian khusus bagi mereka.
Ketika mereka memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi diantara kendaraan lain, saya berpikir apakah mereka memiliki “2 nyawa”?
Ketika mereka mengendarai sepeda motor di jalan raya tanpa menggunakan helm, apakah mereka tidak ingat dengan keluarga mereka dirumah?
Ketika mereka memotong jalan seenaknya tanpa mempedulikan situasi di jalan, apakah hal ini dikendalikan oleh perasaan tidak sabar ingin segera sampai di tempat tujuan?
Ketika mereka mengendarai sepeda motornya dengan pelan namun berada di tengah jalan atau mereka memacu sepeda motornya ke arah sebaliknya, apakah hal ini dikendalikan oleh egoisme pribadi saja?
Suatu ketika saya berkata kepada diri sendiri, apabila suatu saat saya berkesempatan untuk mengendarai sepeda motor maka saya akan mengendarainya dengan cara yang berbeda dari banyak pengendara sepeda motor yang saya lihat selama ini. Saya bahkan mendesain cara saya berkendara sepeda motor nantinya. Saya akan menjaga kecepatan sepeda motor ketika berkendara ditengah-tengah kepadatan kendaraan lain. Saya akan menggunakan helm ketika berkendara di jalan raya atau di jalan yang padat kendaraan. Saya akan memotong jalan pada ketika situasinya pas dan tidak membahayakan kendaraan atau orang lain. Saya akan mengendarai sepeda motor lebih kepinggir untuk memberi kesempatan pada kendaraan roda empat berjalan di bagian tengah jalan.
Tibanya saatnya bagi untuk membuktikkan bahwa cara berkendara saya berbeda dengan sebagian pengendara sepeda motor yang saya lihat selama ini. Saya ingin membuktikkan bahwa apa yang selama ini saya kritik adalah sesuatu yang saya hindari untuk saya lakukan. Saya ingin “walk the talk”, melakukan apa yang saya katakan, tidak melakukan apa yang saya tidak suka orang lain lakukan. Dalam melakukan “walk the talk” ini memang membutuhkan jiwa besar dan kebesaran hati untuk menilai secara objektif apakah kita sudah melakukannya atau belum. Jiwa besar dan kebesaran hati dalam menilai dibutuhkan karena saya mengendarai sepeda motor saya sendiri, tidak ada orang lain mengetahui apakah cara saya berkendara sudah sesuai dengan desain cara berkendara yang telah saya buat sebelumnya.
Setelah beberapa waktu mengendarai sepeda motor, dengan jiwa besar dan kebesaran hati saya mengakui bahwa desain cara berkendara yang saya buat telah dapat saya implementasikan dengan baik. Walaupun ada sedikit hal yang saya lakukan persis sama dengan apa yang dilakukan oleh sebagian pengendara yang kurang beretika, seperti pernah suatu ketika saya memacu dengan kecepatan tinggi diantara kendaraan lain atau mengendarai sepeda motor disisi tengah jalan sehingga menghalangi kendaraan roda empat dibelakang saya untuk jalan. Namun kemudian saya sadar dan mulai kembali ke desain cara berkendara yang saya buat. Memang godaan untuk melakukan cara-cara diluar desain berkendara yang saya buat selalu saja ada. Namun saya berkomitmen untuk tetap tidak melakukan hal-hal yang saya tidak ingin orang lain melakukannya.
Sebelum memiliki sepeda motor, saya sering melihat sebagian besar pengendara sepeda motor ketika berada di kemacetan atau ketika laju sepeda motor mereka terhambat karena kepadatan lalu lintas, mereka berusaha mencari celah atau jalan agar bisa tetap melaju. Dulu saya pernah bertanya dalam diri, “daripada mencari jalan diantara celah-celah sempit di kemacetan atau dikepadatan lalu lintas, mengapa mereka tidak berhenti saja dan berjalan ketika kendaraan didepannya mulai berjalan?”. Namun ketika saya mengalaminya langsung dimana laju sepeda motor saya terhenti karena kendaraan didepan juga terhenti, saya mulai menyadari mengapa banyak pengendara sepeda motor melakukan “selap-selip” ketika lalu lintas macet atau padat merayap.
Jawabannya saya dapatkan seketika itu juga. Salah satu keunggulan sepeda motor dibandingkan mobil adalah mampu tetap berjalan ketika mobil disekitar terjebak dalam kemacetan. Akan terlihat aneh dan melawan kodratnya apabila sepeda motor berhenti ketika ada jalan didepan maupun disamping kiri dan kanan yang bisa dilalui agar sepeda motor tetap bisa berjalan. Seakan-akan ketika sedang melaju mencapai suatu tujuan, ada sesuatu didepan kita atau disamping kiri dan kanan yang menghambat langkah kita. Karena tujuan tersebut begitu penting, berharga, dan menyenangkan maka kita akan tergerak untuk mencari jalan keluar dari hambatan dan tantangan yang menghadang ini. Seperti ketika kita mengendarai sepeda motor yang berusaha mencari celah sekecil mungkin yang paling memungkinkan kita untuk lewat dan tetap melaju menuju tempat yang dituju. Ketika proses pencapaian suatu tujuan menghadapi tantangan dan hambatan, kita bisa mencari jalan keluar yang paling mungkin dan tidak merugikan orang lain. Setiap jalan keluar memang mengandung konsekuensi tersendiri, pilihlah yang paling efektif dan bisa jadi paling efisien.
Sesungguhnya kita memiliki naluri dan potensi untuk mencari berbagai kemungkinan sebagai solusi ketika proses pencapain tujuan mengalami hambatan dan tantangan. Memang ada sebagian orang yang memiliki tujuan namun ketika menghadapi tantangan dan hambatan yang menghadang proses pencapaiannya, mereka justru tidak berusaha apapun, menyerah dan melupakan tujuannya. Mereka adalah contoh individu yang memiliki tujuan namun tujuan mereka tidak cukup berharga dan penting untuk diperjuangkan. Mulailah menggunakan filosofi para pengendara motor ketika laju sepeda motornya terhenti di tengah kepadatan atau kemacetan lalu lintas ibu kota. Terus mencari celah yang paling mungkin untuk keluar dari setiap hambatan dan tantangan yang menghadang kita untuk mencapai tujuan yang berharga.
Suatu ketika saya pernah terlibat dalam sebuah diskusi menarik dengan seorang mahasiswa sehabis selesai memberikan kuliah. Saya katakan menarik karena saya tidak menyangka ia membahas sebuah topik menarik yang sering dihadapi oleh banyak orang. Uniknya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang menghadapi situasi yang kurang baik dan tanpa makna. Perbincangan saya dengan mahasiswa tersebut sesungguhnya sedang menambah daftar panjang pengalaman banyak orang ketika menghadapi situasi ini. Bahkan saya pun pernah beberapa kali mengalami situasi seperti ini.
Perbincangan saya dengan mahasiwa itu berawal ketika saya sedang memberikan mata kuliah leadership. Disetiap mata kuliah ini saya selalu menyisipkan bagaimana leadership bisa diaplikasikan dalam kehidupan bukan hanya pada pekerjaan dan karir kita. Bisa jadi ketika mahasiswa itu mendengar bagaimana aplikasi leadership dalam kehidupan, ia terinspirasi dan muncullah sebuah pertanyaan dalam dirinya. Ketika saya sedang membereskan komputer dan peralatan mengajar lainnya, mahasiswa tersebut menghampiri saya dan bertanya apakah dia bisa mendapatkan waktu saya sebentar. Saya tahu dia ingin berdiskusi dengan saya, karena biasanya mahasiswa yang ingin berdiskusi dengan saya selalu mengatakan hal serupa. Saya senang berdiskusi dengan siapa saja oleh karena itu saya katakan kepadanya bahwa saya memiliki waktu untuknya.
Ia menceritakan dirinya bagaimana ia selalu berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik disetiap mata kuliah yang diikuti. Ketertarikannya dengan teknologi informasi telah mendorongnya untuk terus mencari pengetahuan dan wawasan seputar teknologi informasi dan aplikasinya. Ia menghabiskan waktunya hampir sehari penuh untuk belajar dan memahami apapun yang behubungan dengan bidang pendidikannya. Ilustrasinya seperti ini, pagi-pagi ia sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Hampir setiap hari ia mengikuti tiga mata kuliah yang berarti ia baru selesai kuliah sekitar pukul 2 siang atau 3 sore. Setelah itu terkadang ia masih berada di kampus untuk berdiskusi dengan teman-temannya seputar pelajaran atau berada di laboratorium komputer untuk bereksperimen. Apabila selepas kuliah ia langsung pulang ke rumah, maka ia kembali membuka pelajaran kuliah, membacanya, atau membaca buku-buku yang berhubungan dengan komputer dan terkadang ia mengutak-atik komputernya untuk mencari jawaban atas apa yang ingin ia tahu. Terkadang sesampainya dirumah ia tidur selama 1 jam saja.
Kemudian dari sore sampai malam bahkan terkadang sampai tengah malam ia belajar, membaca buku komputer dan apapun yang bisa memberinya pengetahuan. Hari-hari diluar kuliah seperti Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasanya. Hanya belajar, membaca dan utak atik komputer. Saya pun bertanya kepadanya berapa banyak waktu yang ia luangkan untuk kehidupan sosialnya. Jawabnya sangat sedikit. Ia tidak memiliki masalah dengan orang-orang sekitar dan teman-temannya, hanya saja ia tidak tertarik untuk bersosialisasi. Baginya hiburan, berkumpul dengan teman-teman, jalan-jalan bukanlah hal penting baginya. Belajar dan belajar menjadi sangat dominan dalam kehidupannya, sedangkan kehidupan sosial yang juga penting bagi kehidupan manusia menjadi sangat minim dilakukan.
Kisah mahasiswa ini mengingatkan pengalaman serupa yang pernah saya alami ketika remaja. Ketika itu saya senang sekali berkumpul dengan teman-teman dan jalan-jalan. Waktu saya banyak dihabiskan dengan bermain bersama teman-teman. Akivitas bermain ini mendominasi waktu dan hari-hari saya ketimbang belajar. Bahkan seringkali saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman dibandingkan dengan keluarga. Akibatnya nilai-nilai saya menjadi kurang memuaskan bahkan diantaranya mendapat nilai merah. Pada saat itu bermain dan kumpul dengan teman-teman menjadi aktivitas yang dominan bagi saya, sedangkan belajar menjadi sangat minim saya lakukan. Di satu sisi kehidupan sosial saya begitu menyenangkan, kaya dan penuh pengalaman namun di sisi lain pencapaian hasil di sekolah kurang memuaskan.
Pengalaman mahasiswa tersebut dan diri saya sendiri sesungguhnya banyak dialami pula oleh banyak orang. Pengalaman banyak orang itu saya dapat dari melihat langsung, mendengar langsung serta membaca dan mendengar dari sumber tertentu. Suatu ketika saya mengenal seorang Manajer sukses yang bekerja disuatu perusahaan swasta asing. Karirnya cukup baik dengan penghasilan yang besar. Ia pun memiliki seorang isteri yang cantik dan dua orang anak yang pintar dan memiliki prestasi akademik yang cukup baik. Ia sudah memiliki rumah dan kendaraan pribadi. Bagi sebagian orang kehidupannya terlihat begitu ideal dan banyak orang yang mengimpikan kehidupan yang dijalaninya.
Namun apa yang terlihat oleh sebagian orang bukanlah realitas sesungguhnya. Untuk mencapai, mempertahankan dan meningkatkan prestasi kerja dan jabatannya, ia harus bekerja hingga 11 jam setiap harinya. Ia pun sering bepergian ke luar kota untuk kegiatan bisnis. Bahkan seringkali hari Sabtu dihabiskan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tunda dan yang harus segera diselesaikan. Ia begitu sibuk dan larut dengan pekerjaannya. Namun pencapaian karirnya ini harus dibayar mahal. Kuantitas bertemu dengan isteri dan dua anaknya menjadi sangat terbatas. Keterbatasan waktu untuk keluarga juga mempengaruhu kualitas hubungan antar anggota keluarga. Ia seringkali tidak mengetahui perkembangan yang terjadi pada anak-anaknya. Perhatiannya kepada keluarga menjadi sangat kecil. Pekerjaan dan karir telah menguras waktu dan perhatiannya, sedangkan kuantitas dan kualitas hubungan antar anggota keluarga menjadi sangat rendah.
Pengalaman-pengalaman diatas melengkapi berbagai pengalaman nyata lainnya yang kita temui atau alami dalam kehidupan, seperti seseorang yang setiap harinya makan banyak namun tidak pernah berolah raga sehingga mengalami obesitas.
Seseorang yang banyak duduk dalam bekerja, kurang bergerak, makan tidak terkontrol dan tidak pernah berolah raga sehingga kadar kolesterolnya naik dan mengalami hipertensi.
Seseorang yang hanya membaca majalah gosip dan menonton sinetron dan infotainment namun tidak pernah membaca pengetahuan dan wawasan yang berguna sehingga mengalami ketidaktahuan mengenai lingkungan dan perkembangan dunia yang terjadi.
Seseorang yang hanya fokus dan berkutat pada information technology atau finance namun sedikit mengetahui atau bahkan tidak mengetahui sama sekali tentang manajemen dan bisnis bisa jadi situasi ini akan mempengaruhi cara ia berpikir, menentukan strategi, mengambil keputusan dan bertindak.
Seorang anak yang sejak kecil sudah terbiasa menikmati berbagai fasilitas enak dan mendapatkan apapun yang ia minta tanpa diajarkan dan diminta untuk berusaha terlebih dahulu sebelum mendapatkan sesuatu dan diajarkan tentang kesederhanaan sehingga dalam pikirannya tertanam bahwa hidup itu tidak perlu upaya dan perjuangan.
Selain itu bisa jadi ia akan selalu bergantung pada orang lain. Seseorang yang selalu melihat dirinya selalu benar dan menganggap orang lain pada sisi yang salah sehingga ia sulit mengenal siapa diri dia sebenarnya dan tidak pernah belajar sesuatu yang berharga.
Contoh-contoh diatas adalah tentang ketidakseimbangan hidup. Contoh-contoh yang bisa ditemui disekitar kita atau mungkin sesuatu yang kita pernah atau sedang alami di suatu waktu. Hidup membutuhkan keseimbangan. Hidup dalam keseimbangan bisa berarti hidup di garis tengah. Hidup menyediakan dua pilihan jalur yaitu jalur yang memajukan dan jalur yang memundurkan.
Uniknya jalur yang memajukan seringkali kurang atau bahkan tidak menarik untuk dilakukan. Walaupun setelah dilakukan berulangkali akan terasa manfaat positifnya. Sedangkan jalur yang memundurkan seringkali begitu enak dan menyenangkan untuk dilakukan, namun apabila mendominasi atau menjadi prioritas utama untuk terus menerus dilakukan maka dampak ke depan tidak memberi manfaat positif, tidak menyenangkan, tidak memberdayakan, tidak menyehatkan, dan lainnya. Karena jalur yang memundurkan seringkali terasa begitu nikmat untuk dilakukan maka manusia baik disadari maupun tanpa disadari memiliki potensi untuk berada di jalur ini. Namun seringkali manusia tidak mengimbanginya dengan melakukan berbagai perilaku dan tindakan pada jalur memajukan. Oleh sebab itu terjadilah ketidakseimbangan hidup.
Keseimbangan hidup juga berarti melakukan hal-hal yang menjadi lawan dari hal lainnya. Apabila kita selalu bergembira, maka kita boleh merasakan kesedihan namun kemudian bangkit dan lepas dari kesedihan.
Apabila kita tidak pernah menunjukkan kemarahan, maka pada saat yang tepat kita boleh menunjukkan kemarahan kita dengan cara yang pantas tanpa menyakiti perasaan orang lain.
Apabila kita selalu memiliki kesabaran, maka pada saat yang tepat kita boleh menunjukkan ketergesaan dengan cara yang baik.
Apabila kita selalu berhasil mencapai apa yang kita inginkan, maka suatu saat kita perlu mengalami kegagalan, kesalahan dan menghadapi hambatan sehingga membuat kita belajar menjadi lebih baik lagi.
Keseimbangan hidup yang penuh makna adalah ketika apapun yang kita lakukan hanya akan mengarah kepada hal-hal yang positif dan memberdayakan, seperti kesehatan, kemakmuran, kebaikan, prestasi, tujuan tertinggi, dan lainnya. Apabila apapun yang kita lakukan untuk menyeimbangkan hidup kita tidak menyehatkan, memakmurkan, mendekatkan pada tujuan tertinggi, dan lainnya maka apa yang kita lakukan bukanlah untuk menyeimbangkan hidup. Melakukan hal-hal untuk menyeimbangkan hidup berarti membawa kehidupan kita ke tingkat tertinggi dan penuh makna. Hidup menjadi begitu berarti karena begitu banyak pengalaman yang telah dilalui dan seluruh pengalaman itu hanya akan membawa kita ke satu tujuan, hidup yang tidak sia-sia!
Banyak diantara kita yang makan 2-3 kali sehari. Ada individu yang makan karena ia merasa lapar, ada juga individu yang walaupun tidak merasa lapar namun tetap mengisi perutnya dengan makanan. Karena kita rutin mengisi perut kita dengan makanan, maka makan sudah menjadi kebiasaan kita untuk memuaskan rasa lapar dan ingin.
Namun apakah kita memperlakukan pikiran dan jiwa kita sama halnya ketika kita rutin mengisi perut kita dengan makanan? Pikiran dan jiwa sama pentingnya dengan perut kita. Bahkan untuk situasi tertentu, mengoptimalkan pikiran dan jiwa lebih penting dari perut kita. Apabila kekuatan emosi, mental dan kemampuan anda ingin berkembang dan bertumbuh maka anda harus konsisten untuk memberi makan dan asupan bergizi bagi pikiran dan jiwa anda.
Memberi makan pikiran anda
Salah satu kunci kesuksesan dan keberhasilan saya selama ini adalah kebiasaan memberi makan pikiran saya setiap harinya. Kebiasaan ini telah saya jalani sejak saya duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kala itu saya suka sekali membaca ensiklopedia, komik dan surat kabar. Dari surat kabarlah saya tahu banyak tentang ibukota negara-negara didunia dan kepala negaranya. Tidak heran ketika SD saya sering menjawab pertanyaan guru saya seputar ibukota Negara didunia berikut kepala negaranya.
Sampai kini kebiasaan saya ini terus saya pertahankan. Rutin saya membaca buku-buku seputar kesuksesan, bisnis, manajemen, leadership, NLP, sales, marketing, entrepreneurship, dan lainnya. Beberapa tahun terakhir ini saya suka membaca biography tokoh-tokoh terkenal dan sukses. Melalui biography ini saya bisa belajar bagaimana kiat-kiat sukses mereka dan bilamana mungkin me-model apa yang mereka lakukan dalam upaya saya mencapai tujuan. Ketika saya membaca biography Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple), Howard Schultz (Starbucks), Richard Branson (Virgin), Warren Buffet, dan lainnya saya seperti sedang mengambil dan mengekstrak puluhan tahun pengetahuan, pengalaman, wawasan, kebijaksanaan, dan pengambilan keputusan mereka ke dalam pikiran saya.
Salah satu hal yang saya suka ketika membaca biography tokoh-tokoh sukses yaitu saya bisa mempelajari kesalahan, kekeliruan dan kegagalan yang pernah dilakukan dan dialami mereka dan kemudian saya berupaya untuk tidak melakukan hal keliru dan salah yang pernah dilakukan para tokoh sukses tersebut. Saya percaya bahwa pelajaran terbaik tidak selalu berasal dari kekeliruan, kesalahan dan kegagalan yang pernah kita alami, namun juga dari kekeliruan dan kesalahan yang pernah diperbuat oleh orang-orang yang telah lebih dahulu sukses. Sehingga walaupun umur saya saat ini hanya 36 tahun, namun saya bisa dan mampu membuat keputusan besar karena saya merasakan puluhan tahun pengalaman tokoh-tokoh sukses dalam pikiran saya. Saya mengkombinasikan pengalaman pribadi saya dengan pengalaman para tokoh sukses ke dalam strategi, cara dan action saya dalam upaya saya mencapai kesuksesan dan keberhasilan.
Saya selalu dan berupaya mencari kesempatan untuk bisa membaca. Saya berusaha untuk membawa buku setiap kali saya bepergian. Seringkali saya membawa buku ketika berangkat ke kantor dan membacanya disaat istirahat atau saat-saat dimana kebiasaan membaca saya tdak menggangu pekerjaan. Ketika berada dirumah, saya selalu menyisihkan waktu untuk membaca buku. Saat menunggu sesuatu, saya pun mengisinya dengan membaca buku. Ada beberapa orang yang menyebut saya kutu buku, namun saya melihatnya dari sudut pandang berbeda. Saya melihat diri saya dan orang-orang yang selalu membaca adalah orang-orang yang terus menerus memberi makan pikirannya karena pikiran pun membutuhkan makanan sama halnya dengan tubuh kita.
Perlu diingat bahwa memberi makan pikiran kita juga perlu memperhatikan kualitas makanan yang kita berikan. Makanan seperti apa yang kita berikan kepada pikiran, karena tidak semua makanan berguna dan baik bagi pikiran kita. Ketika anda memakan makanan yang kotor, tidak higienis, atau junk food maka makanan tersebut akan cepat atau lambat akan membawa dampak kurang baik bagi tubuh anda. Kita perlu pastikan bahwa apa yang kita baca akan berguna bagi pikiran dan diri kita. Buku dan majalah seperti apa yang anda baca setiap harinya? Hal-hal apa yang menarik perhatian anda disetiap majalah atau buku yang anda baca? 6 Buku atau majalah seperti apa yang anda baca akhir-akhir ini?
Seringkali saya mendengar orang-orang ingin berhasil dan sukses namun tidak pernah membaca informasi dan pengetahuan yang tepat dan berguna bagi pikirannya agar ia bisa mencapai keberhasilan yang diinginkannya. Beberapa mahasiswa saya mengatakan bahwa mereka ingin mendapatkan nilai A dalam mata kuliah yang saya ajar, namun mereka mengatakan jarang membaca materi kuliahnya. Beberapa pemilik usaha mengatakan ingin agar usahanya bisa dikelola dengan baik dan profit meningkat, namun mereka tidak membaca buku-buku manajemen, bisnis dan entrepreunership.
Ketika orang mengatakan ingin kaya raya, mereka tidak pernah membaca majalah-majalah seputar investasi, perencanaan keuangan, uang, dan lainnya, bahkan mereka tidak mengikuti program televisi seperti CNN, CNBC, atau website seperti moneycentral.com, cnn.com/money, dan lainnya. Sebaliknya mereka lebih senang membaca tema atau topik-topik yang tidak berhubungan dengan tujuan yang ingin diraih, seperti pos kota, popular, FHM, bola, dan lainnya. Anda boleh-boleh saja membaca majalah seperti ini, tidak ada yang salah dengan itu. Namun membaca hal-hal tersebut tidak akan memberi makan pikiran anda untuk menjadi orang yang kaya raya atau berhasil mengelola bisnis dengan baik. Bacaan seperti itu hanya akan menghibur anda.
Memberi makan jiwa anda
Agar kita dapat terus menerus termotivasi, terinspirasi, terpenuhkan dan terisi, kita harus selalu memberi makan dan merawat jiwa kita dengan baik. Jiwa kita juga berperan penting bagi tubuh dan pikiran kita. Jiwa yang stabil dan penuh semangat mampu mendorong kita melangkah dengan pasti, penuh kekuatan, dan percaya diri. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam memberi makan bagi jiwa. Sebagian orang berdo’a, ada juga yang bermeditasi, ada yang menulis, membantu sesama, dan lainnya.
Bagi saya memberi makan jiwa bisa dilakukan dengan menghabiskan waktu bersama keluarga, membaca buku-buku inspiratif, menulis, berdo’a, dan meluangkan waktu untuk sendiri. Memberi makan pada jiwa setiap hari bisa menghindarkan diri kita dari stress, frustrasi, dan tidak bermakna. Memiliki mental yang kuat serta kekuatan emosi tidak bisa dipisahkan dengan kebiasaan kita memberi makan dan merawat jiwa kita sebaik mungkin setiap harinya.
Apabila anda belum memberi makan pikran dan jiwa anda hari ini, lakukanlah. Sama halnya ketika perut anda kosong dan merasakan lapar yang begitu kuat, maka agar anda kembali bugar dan mampu melakukan aktivitas tentu perut anda harus terisi secukupnya. Sama halnya dengan pikiran dan jiwa anda. Apabila anda tidak memberi pikiran dan jiwa makanan yang dibutuhkannya, maka apapun strategi dan action anda tidak akan pernah efektif dan bernilai tambah.
Hari Sabtu tanggal 30 Januari 2010 lalu merupakan hari luar biasa bagi saya. Bukan karena mendapat hadiah, bukan pula karena m
emberi training, bahkan pula pergi ke suatu tempat dan menghabiskan seluru hari dengan rekreasi, makanan enak, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Hari sabtu lalu menjadi sangat luar biasa bagi saya karena bisa bertemu dengan teman-teman sewaktu di SMAN 28 Pasar Minggu Jakarta Selatan. Saya hadir di acara reuni jurusan sosial SMAN 28 lulusan angkatan 92 yang diadakan di restoran Padzzi Cilandak. Sebanyak 59 kawan datang pada acara ini.
Acara yang diselengarakan selama 3,5 jam ini berlangsung begitu meriah dengan pembawa acara yang juga kawan saya peserta reuni. Saya sangat terkesan dengan Arif sang pembawa acara. Melalui celetukannya, improvisasi cara dia membaca situasi, dan bagaimana dia bisa menguasai audiensnya merupakan nilai tambah tersendiri untuk menghadirkan kemeriahan dari acara reuni ini. Semua yang hadir diwajibkan memakai atasan berwarna putih sebagai dress code, walau ada beberapa yang tidak mengenakan dress code. Acara dimeriahkan pula dengan nyanyian, beberapa kawan dengan senang hati bernyayi diiringi sebuah keyboard. Kawan saya Felix yang khusus membawa keyboard kesayangannya berikut sound system untuk mengiringi siapa saja yang ingin bernyanyi dihadapan audiens.
Acara pun semakin bertambah meriah, menyenangkan dan penuh harap ketika panitia telah menyiapkan banyak doorprize untuk kawan-kawan yang hadir. Setiap yang hadir harus melengkapi nama dan data lainnya di daftar hadir yang diberikan nomor urut. Dari nomor urut inilah nanti panitia akan meminta beberapa kawan untuk mengambil kertas yang digulung yang berisi nomor urut pada daftar hadir. Doorprize yang tersedia cukup lengkap dari bungkus kado kecil sampai bungkus kado ukuran agak besar, tersedia doorprize voucher belanja, kipas angin sampai handphone CDMA. Sayang sekali saya tidak mendapat salah satu dari sekian banyak doorprize yang tersedia.
Reuni ini pun bukan hanya menjadi ajang tempat berkumpul namun menjadi sarana untuk memberikan berbagai masukan dan ide-ide bagi para alumni khususnya jurusan sosial. Saya mengancungi dua jempol kepada para panitia seperti Agung, Udhi dan lainnya yang tidak hanya mampu mengemas acara dengan baik tetapi juga memberikan kesempatan kepada kawan-kawan untuk memberikan masukan dan idenya. Bahkan para panitia memiliki ide-ide sangat baik untuk dipresentasikan kepada kawan-kawan.
Panitia mengusulkan untuk disusun kepengurusan komunitas jurusan sosial SMAN 28 yang ketuanya dipercayakan kepada Agung. Lalu panitia tengah mempersiapkan sebuah website khusus alumni jurusan sosial SMAN28 dan groups di yahoo ataupun facebook. Di website alumni jurusan sosial nantinya para alumni bebas sharing berbagai hal yang bisa memberikan wawasan berarti bagi sesama alumni itu sendiri. Saya berharap apabila website ini akhirnya terealisasi maka harapan akan semakin kuatnya ikatan, hubungan dan persaudaraan antar alumni akan terwujud. Bahkan para alumni nantinya tidak hanya sharing pengalaman dan cerita tetapi bisa memberi tips, info atau bahkan memberikan kesempatan kerja sama dengan para alumni. Inilah harapan saya, sehingga komunitas ini bisa kokoh dan memberdayakan para anggotanya.
Di awal saya katakan bahwa hari Sabtu kemarin adalah hari yang luar biasa bagi saya. Luar biasa karena bukan saja saya bertemu dengan teman-teman setelah berpisah 17 tahun, bukan hanya karena kemeriahan, bukan hanya bisa berkesempatan untuk berfoto bersama, bukan hanya bisa bercanda ria dengan teman lama, namun ada hal lain yang membuat reuni menjadi luar biasa bagi saya. Bagi saya bertemu kawan-kawan lama setelah 17 tahun tidak bertemu merupakan upaya saya memberi makan kepada jiwa saya. Memberi makan kepada jiwa kita sama pentingnya ketika kita mengisi perut kita dengan makanan. Ada dua hal yang menjadikan reuni menjadi luar biasa bagi saya.
Pertama, bagi saya masa lalu telah membentuk siapa diri saya saat ini. Apa yang saya alami di masa lalu merupakan salah satu variabel yang turut menentukan cara berpikir, strategi dan cara bertindak saya. Saya mengetahui bagaimana berhubungan dengan teman, memahami berbagai hal yang disukai maupun tidak sukai teman, mengetahui dan memahami karakter teman, menghadapi situasi senang dan susah bersama-sama, dan banyak lainnya yang saya bisa belajar. Oleh karena itu saya tidak akan melupakan masa lalu, walaupun saya tidak akan membiarkan masa lalu menjadi penghambat keberhasilan saya saat ini. Saya selalu menyisakan tempat dalam diri saya bagi masa lalu karena begitu menyenangkan melihat masa lalu yang telah membentuk masa kini dan masa depan. Masa-masa di SMA adalah bagian dari masa lalu yang telah membentuk diri saya seperti saat ini. Saya telah banyak belajar memahami orang lain dan bagaimana membina hubungan dengan orang lain salah satunya karena berbagai pengalaman dalam berkomunikasi dan membina hubungan baik dengan sesama di masa lalu.
Kedua, bertemu dengan teman-teman di masa lalu bisa begitu menguatkan bagi saya. Ketika apa yang saya alami saat ini juga dialami oleh teman lama saya, maka seperti ada rasa “tidak sendiri”. Kesamaan situasi yang dihadapi oleh saya dan teman lama bagi saya bisa memberikan pertanda bahwa “saya tidak sendiri”. Hal ini membantu saya untuk memberi ketenangan dalam hati dan jiwa. Saya tentu berharap dan bahkan berdoa semoga situasi yang dialami oleh teman lama saya segera berlalu dan ia bisa mencapai apa yang diinginkannya. Sama halnya dengan saya yang juga berharap dan berdoa. Selain itu menyenangkan pula melihat teman-teman lama menjadi orang-orang yang sukses. Saya pun bisa mengetahui dan belajar rahasia keberhasilan dan kesuksesan teman-teman lama saya. Ketika mereka mampu mencapai kesuksesan, saya pun bisa termotivasi dan mengatakan pada diri saya sendiri dengan lantang dan penuh keyakinan,”dengan perilaku, sumber daya internal, strategi dan action yang tepat saya pun bisa berhasil seperti mereka”.
Dua hal utama itulah yang membuat setiap pertemuan dengan orang-orang dimasa lalu yang tidak bertemu dalam jangka waktu yang lama menjadi begitu menyenangkan, memberdayakan dan tentunya menjadi hari yang luar biasa bagi saya.
Orang adalah aset paling berharga yang di miliki oleh suatu organisasi, entah itu organisasi profit maupun non-profit. Tantangan dihadapi oleh organisasi saat dan di masa depan adalah bagaimana mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas baik dan diatas rata-rata agar terus berkinerja baik dan bertahan di organisasi tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan suatu retention strategies yang berkelanjutan untuk mempertahankan karyawan terbaik dari suatu organisasi dan hal ini tidak hanya tugas dari human resources (HR) department tetapi juga Manager dan pimpinan dari atasan bersangkutan.
Dalam hal retention strategies, banyak orang beranggapan bahwa uang dan benda-benda mewah lainnya merupakan alat paling efektif untuk mempertahankan karyawan terbaik. Namun pada kenyataannya tidak! Memang benar organisasi perlu memastikan bahwa karyawan terbaiknya telah di bayar dan diberikan tunjangan yang sesuai dan adil. Banyak riset telah menjelaskan bahwa karyawan atau para profesional akan bertahan pada organisasi apabila mereka memiliki kesempatan untuk berkembang, adanya atasan yang memiliki leadership yang bagus, mendapatkan makna terbaik pada tanggung-jawabnya, mendapatkan tugas-tugas yang menantang, dan berada diantara orang-orang yang bisa bekerja sama.
Selain itu hal-hal lain seperti fleksibilitas waktu kerja, lingkup kerja yang menyenangkan, dan adanya perasaan dihargai bisa menjadi alasan para profesional untuk terus bekerja di suatu organisasi. Sehingga sebelum suatu organisasi memutuskan “uang dan tunjangan fisik” sebagai hal utama dari komponen penghargaan atas kinerja terbaik yang dihasilkan karyawan, periksa terlebih dahulu apakah karyawan terbaik tersebut sudah mendapatkan beberapa atau seluruh alasan yang telah dijelaskan diatas untuk bertahan di organisasi. Apabila belum, HR department bersama-sama dengan atasan bersangkutan mencari tahu mengapa alasan-lasan tersebut belum terpenuhi dan mengimplementasikan alasan-alasan tersebut. Yang juga perlu diketahui bahwa menemukan dan mengimplementasikan cara terbaru untuk memecahkan X dan kemudian memberikan penghargaan Y jelas akan lebih baik bagi karyawan terbaik dibandingkan dengan langsung memberikan kepada mereka tunjangan fisik mahal seperti mobil keluaran terbaru atau rumah mewah.
Ketika karyawan terbaik hendak mengundurkan diri dan kemudian kita melakukan exit interview untuk mengetahui mengapa ia ingin keluar dari organisasi, maka hal ini telah terlambat. Bisa jadi hati dan pikiran karyawan tersebut sudah tidak lagi berada di organisasi. Namun kita tetap harus melakukan exit interview untuk mencari tahu alasan pengunduran diri karyawan.
Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan oleh atasan bersangkutan serta HR department baik dalam exit interview maupun ketika kita ingin mengetahui apakah karyawan terbaik tersebut senang dan tetap berkomitmen dengan organisasi. Kita bisa mengatakan,”Anda begitu penting bagi organisasi dan tim kami. Apa yang bisa kami lakukan untuk tetap mendapatkan komitmen anda untuk terus menghasilkan yang terbaik bagi organisasi dan tim?”. Kita bisa bertanya kembali,”Apa yang terlewatkan dalam lingkup kerja disini maupun dalam tim?”. Hal-hal apa yang ingin anda lakukan melebihi atau kurang apa yang anda lakukan saat ini? Hal-hal apa yang ingin anda dapatkan melebihi atau kurang dari apa yang anda dapatkan saat ini? Apakah yang lebih atau kurang anda dapatkan berkaitan dengan uang dan tunjangan? Atau ada hal-hal lain? Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya?
Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan oleh atasan dari karyawan terbaik bersama-sama dengan HR department untuk menciptakan lingkungan kerja yang menarik dan menyenangkan bagi para karyawan termasuk karyawan terbaik, sebagai berikut :
1#Menetapkan ekspetasi atau harapan yang jelas.
Sama halnya dengan organisasi, karyawan juga membutuhkan fokus yang jelas terlebih ketika berada pada situasi yang tidak menentu yang bisa mengancam pendapatan maupun kelangsungan hidup organisasi. Untuk menghindari kekhawatiran, ketakutan, demotivasi, dan kecemasan yang berlebihan, organisasi perlu teus menerus mengkomunikasikan kepada para karyawan apa yang sesungguhnya terjadi dan rencana-rencana apa yang akan dilakukan organisasi. Kemudian jelaskan apa yang diharapkan organisasi kepada para kayawannya dalam menghadapi situasi ini. Katakan dengan jelas apa yang organisasi inginkan, apa yang telah karyawan lakukan dengan baik yang harus dipertahankan, apa yang anda harapkan dari para karyawan, dan bagaimana anda akan mengukur perkembangan yang terjadi.
2#Tunjukkan bahwa organisasi menghargai karyawannya.
Saat ini kita membutuhkan karyawan bisa berlari secepat mungkin dibandingkan berlari maraton, oleh karena itu organisasi membutuhkan karyawan yang menghasilkan kinerja terbaik dengan segera mungkin melalui proses yang baik. Dengan begitu bisa jadi karyawan tersebut harus menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya antara 8 – 12 jam sehari termasuk hari libur sehingga waktu mereka bagi keluarga semakin kurang. Namun merekapun tidak rela untuk mengorbankan waktu bersama keluarga dan teman-temnanya demi suatu project yang harus menyita waktu keluarga dan sosial mereka. Nah untuk menghargai kehidupan keluarga dan sosial dari karyawan, maka organisasi dapat mempertimbangkan waktu kerja yang fleksibel. Organisasi bisa menyepakati fleksibilitas waktu kerja bersama-sama dengan karyawan. Dengan begitu karyawan merasa dihargai sebagai mahkluk sosial dan apabila mereka dihargai maka mereka akan loyal di masa depan.
3#Buatlah suasana kerja menjadi lebih bermakna.
Pada masa kini karyawan menginginkan lebih dari sekedar pekerjaan atau bekerja. Mereka ingin memberikan kontribusi bagi suatu hal yang besar dan membantu organisasi melewati masa-masa sulit. Oleh karena itu, para pemimpin organisasi dan atasan bersangkutan perlu memberikan tugas-tugas pekerjaan yang menantang dan memiliki makna mendalam untuk menstimulasi hasrat bekerja para karyawan. Ketika karyawan merasa bosan, motivasi mereka bisa menurun dan kehilangan fokus untuk berkontribusi bagi suatu hal yang besar. Berikan atau delegasikan tugas-tugas atau project yang menantang dan memiliki makna yang mendalam sehingga karyawan dapat belajar sesuatu yang baru dan mendapatkan tantangan. Selain itu berikan kesempatan untuk mengembangkan diri secara rutin, seperti mengikuti pelatihan, seminar, dan lainnya.
4#Berikan praise dan recognition yang pantas.
Berikan pujian yang tulus dan rayakan walau hanya pencapaian yang kecil sehingga mampu menginspirasi karyawan untuk meningkatkan produktivitasnya. Karyawan lebih mengapresiasi pujian positif yang spontan dan tulus pada saat itu juga dibandingkan ketika atasan bersangkutan menunda memberikan pujian sampai selesai evaluasi kinerja karyawan. Agar pujian yang diberikan dapat diterima dengan baik dan efektif, kita perlu mengetahui situasi yang diinginkan oleh di penerima pujian. Walaupun pujian bisa menghasilkan motivasi yang tinggi bagi yang mendapatkannya, namun ada sebagian orang yang tidak ingin menerima pujian di hadapan banyak orang dan ada juga orang yang tidak ingin menerima pujian secara khusus tanpa diketahui orang lain. Cara paling sederhana memberikan pujian adalah mengucapkan “terima kasih”. Namun anda tidak cukup selalu memberikan bentuk pujian seperti ini kepada karyawan yang berprestasi.
5#Terus menerus membimbing atau melakukan coaching dan counseling.
Untuk menjaga moral karyawan tetap tinggi, teruslah memberikan bimbingan dan memfasilitasi karyawan setiap hari. Metode “saya perintah anda lakukan” tidak lagi efektif dalam memotivasi dan mempertahankan karyawan. Bimbing dan latihlah karyawan anda dan dorong mereka untuk mencoba sesuatu hal dengan caranya sendiri. Biarkan kesalahan dan kegagalan terjadi karena dari kedua hal ini akan didapatkan suatu pembelajaran terbaik. Ketika karyawan mengetahui bahwa kesalahan dipahami sebagai bagian dari pengalaman yang berharga, maka mereka cenderung akan lebih kreatif dan lebih berani mengambil resiko. Ketika seorang pimpinan atau atasan perlu melakukan koreksi atas tindakan karyawan maka lakukan dengan cara yang konstruktif. Karyawan lebih menyukai apabila feedback atas tindakan mereka dilakukan dengan cara seperti ini.
Bisa dipastikan meningkatkan penjualan produk, meningkatnya pendapatan, bertumbuhnya profit, inovasi produk, layanan yang berkualitas, kecepatan, dan lainnya selalu ditentukan oleh SDM-nya. Melalui ide-ide, pengetahuan, wawasan, keahlian, cara berpikir dan action merekalah setiap perusahaan mampu mencapai apapun tujuan yang ditetapkannya. Mesin danteknologi tidak akan berpengaruh signifikan bagi organisasi perusahaan tanpa kehadiran SDM yang kompeten mengendalikan dan mengoptimalkan mesin dan teknologi tersebut. Oleh karena majulah bersama-sama SDM perusahaan, puaskan mereka dan mereka akan memuaskan perusahaan anda ! Pertahankanlah mereka dan mereka akan mempertahankan perusahaan di jalur kesuksesan !