Posts Tagged ‘A Life Transformed’

Balancing Your Life !

Suatu ketika saya pernah terlibat dalam sebuah diskusi menarik dengan seorang mahasiswa sehabis selesai memberikan kuliah. Saya katakan menarik karena saya tidak menyangka ia membahas sebuah topik menarik yang sering dihadapi oleh banyak orang. Uniknya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang menghadapi situasi yang kurang baik dan tanpa makna. Perbincangan saya dengan mahasiswa tersebut sesungguhnya sedang menambah daftar panjang pengalaman banyak orang ketika menghadapi situasi ini. Bahkan saya pun pernah beberapa kali mengalami situasi seperti ini.

 

Perbincangan saya dengan mahasiwa itu berawal ketika saya sedang memberikan mata kuliah leadership. Disetiap mata kuliah ini saya selalu menyisipkan bagaimana leadership bisa diaplikasikan dalam kehidupan bukan hanya pada pekerjaan dan karir kita. Bisa jadi ketika mahasiswa itu mendengar bagaimana aplikasi leadership dalam kehidupan, ia terinspirasi dan muncullah sebuah pertanyaan dalam dirinya. Ketika saya sedang membereskan komputer dan peralatan mengajar lainnya, mahasiswa tersebut menghampiri saya dan bertanya apakah dia bisa mendapatkan waktu saya sebentar. Saya tahu dia ingin berdiskusi dengan saya, karena biasanya mahasiswa yang ingin berdiskusi dengan saya selalu mengatakan hal serupa.  Saya senang berdiskusi dengan siapa saja oleh karena itu saya katakan kepadanya bahwa saya memiliki waktu untuknya.

 

Ia menceritakan dirinya bagaimana ia selalu berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik disetiap mata kuliah yang diikuti. Ketertarikannya dengan teknologi informasi telah mendorongnya untuk terus mencari pengetahuan dan wawasan seputar teknologi informasi dan aplikasinya. Ia menghabiskan waktunya hampir sehari penuh untuk belajar dan memahami apapun yang behubungan dengan bidang pendidikannya. Ilustrasinya seperti ini, pagi-pagi ia sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Hampir setiap hari ia mengikuti tiga mata kuliah yang berarti ia baru selesai kuliah sekitar pukul 2 siang atau 3 sore. Setelah itu terkadang ia masih berada di kampus untuk berdiskusi dengan teman-temannya seputar pelajaran atau berada di laboratorium komputer untuk bereksperimen. Apabila selepas kuliah ia langsung pulang ke rumah, maka ia kembali membuka pelajaran kuliah, membacanya, atau membaca buku-buku yang berhubungan dengan komputer dan terkadang ia mengutak-atik komputernya untuk mencari jawaban atas apa yang ingin ia tahu. Terkadang sesampainya dirumah ia tidur selama 1 jam saja.

 

Kemudian dari sore sampai malam bahkan terkadang sampai tengah malam ia belajar, membaca buku komputer dan apapun yang bisa memberinya pengetahuan. Hari-hari diluar kuliah seperti Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasanya. Hanya belajar, membaca dan utak atik komputer. Saya pun bertanya kepadanya berapa banyak waktu yang ia luangkan untuk kehidupan sosialnya. Jawabnya sangat sedikit. Ia tidak memiliki masalah dengan orang-orang sekitar dan teman-temannya, hanya saja ia tidak tertarik untuk bersosialisasi. Baginya hiburan, berkumpul dengan teman-teman, jalan-jalan bukanlah hal penting baginya. Belajar dan belajar menjadi sangat dominan dalam kehidupannya, sedangkan kehidupan sosial yang juga penting bagi kehidupan manusia menjadi sangat minim dilakukan.

 

Kisah mahasiswa ini mengingatkan pengalaman serupa yang pernah saya alami ketika remaja. Ketika itu saya senang sekali berkumpul dengan teman-teman dan jalan-jalan. Waktu saya banyak dihabiskan dengan bermain bersama teman-teman. Akivitas bermain ini  mendominasi waktu dan hari-hari saya ketimbang belajar. Bahkan seringkali saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman dibandingkan dengan keluarga. Akibatnya nilai-nilai saya menjadi kurang memuaskan bahkan diantaranya mendapat nilai merah. Pada saat itu bermain dan kumpul dengan teman-teman menjadi aktivitas yang dominan bagi saya, sedangkan belajar menjadi sangat minim saya lakukan. Di satu sisi kehidupan sosial saya begitu menyenangkan, kaya dan penuh pengalaman namun di sisi lain pencapaian hasil di sekolah kurang memuaskan.

 

Pengalaman mahasiswa tersebut dan diri saya sendiri sesungguhnya banyak dialami pula oleh banyak orang. Pengalaman banyak orang itu saya dapat dari melihat langsung, mendengar langsung serta membaca dan mendengar dari sumber tertentu. Suatu ketika saya mengenal seorang Manajer sukses yang bekerja disuatu perusahaan swasta asing. Karirnya cukup baik dengan penghasilan yang besar. Ia pun memiliki seorang isteri yang cantik dan dua orang anak yang pintar dan memiliki prestasi akademik yang cukup baik. Ia sudah memiliki rumah dan kendaraan pribadi. Bagi sebagian orang kehidupannya terlihat begitu ideal dan banyak orang yang mengimpikan kehidupan yang dijalaninya.

 

Namun apa yang terlihat oleh sebagian orang bukanlah realitas sesungguhnya. Untuk mencapai, mempertahankan dan meningkatkan prestasi kerja dan jabatannya, ia harus bekerja hingga 11 jam setiap harinya. Ia pun sering bepergian ke luar kota untuk kegiatan bisnis. Bahkan seringkali hari Sabtu dihabiskan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tunda dan yang harus segera diselesaikan. Ia begitu sibuk dan larut dengan pekerjaannya. Namun pencapaian karirnya ini harus dibayar mahal. Kuantitas bertemu dengan isteri dan dua anaknya menjadi sangat terbatas. Keterbatasan waktu untuk keluarga juga mempengaruhu kualitas hubungan antar anggota keluarga. Ia seringkali tidak mengetahui perkembangan yang terjadi pada anak-anaknya. Perhatiannya kepada keluarga menjadi sangat kecil. Pekerjaan dan karir telah menguras waktu dan perhatiannya, sedangkan kuantitas dan kualitas hubungan antar anggota keluarga menjadi sangat rendah.

 

Pengalaman-pengalaman diatas melengkapi berbagai pengalaman nyata lainnya yang kita temui atau alami dalam kehidupan, seperti seseorang yang setiap harinya makan banyak namun tidak pernah berolah raga sehingga mengalami obesitas.

Seseorang yang banyak duduk dalam bekerja, kurang bergerak, makan tidak terkontrol dan tidak pernah berolah raga sehingga kadar kolesterolnya naik dan mengalami hipertensi.

Seseorang yang hanya membaca majalah gosip dan menonton sinetron dan infotainment namun tidak pernah membaca pengetahuan dan wawasan yang berguna sehingga mengalami ketidaktahuan mengenai lingkungan dan perkembangan dunia yang terjadi.

Seseorang yang hanya fokus dan berkutat pada information technology atau finance namun sedikit mengetahui atau bahkan tidak mengetahui sama sekali tentang manajemen dan bisnis bisa jadi situasi ini akan mempengaruhi cara ia berpikir, menentukan strategi, mengambil keputusan dan bertindak.

Seorang anak yang sejak kecil sudah terbiasa menikmati berbagai fasilitas enak dan mendapatkan apapun yang ia minta tanpa diajarkan dan diminta untuk berusaha terlebih dahulu sebelum mendapatkan sesuatu dan diajarkan tentang kesederhanaan sehingga dalam pikirannya tertanam bahwa hidup itu tidak perlu upaya dan perjuangan.

Selain itu  bisa jadi ia akan selalu bergantung pada orang lain. Seseorang yang selalu melihat dirinya selalu benar dan menganggap orang lain pada sisi yang salah sehingga ia sulit mengenal siapa diri dia sebenarnya dan tidak pernah belajar sesuatu yang berharga.

 

Contoh-contoh diatas adalah tentang ketidakseimbangan hidup. Contoh-contoh yang bisa ditemui disekitar kita atau mungkin sesuatu yang kita pernah atau sedang alami di suatu waktu. Hidup membutuhkan keseimbangan. Hidup dalam keseimbangan bisa berarti hidup di garis tengah. Hidup menyediakan dua pilihan jalur yaitu jalur yang memajukan dan jalur yang memundurkan.

 

Uniknya jalur yang memajukan seringkali kurang atau bahkan tidak menarik untuk dilakukan. Walaupun setelah dilakukan berulangkali akan terasa manfaat positifnya. Sedangkan jalur yang memundurkan seringkali begitu enak dan menyenangkan untuk dilakukan, namun apabila mendominasi atau menjadi prioritas utama untuk terus menerus dilakukan maka dampak ke depan tidak memberi manfaat positif, tidak menyenangkan, tidak memberdayakan, tidak menyehatkan, dan lainnya. Karena jalur yang memundurkan seringkali terasa begitu nikmat untuk dilakukan maka manusia baik disadari maupun tanpa disadari memiliki potensi untuk berada di jalur ini. Namun seringkali manusia tidak mengimbanginya dengan melakukan berbagai perilaku dan tindakan pada jalur memajukan. Oleh sebab itu terjadilah ketidakseimbangan hidup.

 

Keseimbangan hidup juga berarti melakukan hal-hal yang menjadi lawan dari hal lainnya. Apabila kita selalu bergembira, maka kita boleh merasakan kesedihan namun kemudian bangkit dan lepas dari kesedihan.

Apabila kita tidak pernah menunjukkan kemarahan, maka pada saat yang tepat kita boleh menunjukkan kemarahan kita dengan cara yang pantas tanpa menyakiti perasaan orang lain.

Apabila kita selalu memiliki kesabaran, maka pada saat yang tepat kita boleh menunjukkan ketergesaan dengan cara yang baik.

Apabila kita selalu berhasil mencapai apa yang kita inginkan, maka suatu saat kita perlu mengalami kegagalan, kesalahan dan menghadapi hambatan sehingga membuat kita belajar menjadi lebih baik lagi.

 

Keseimbangan hidup yang penuh makna adalah ketika apapun yang kita lakukan hanya akan mengarah kepada hal-hal yang positif dan memberdayakan, seperti kesehatan, kemakmuran, kebaikan, prestasi, tujuan tertinggi, dan lainnya. Apabila apapun yang kita lakukan untuk menyeimbangkan hidup kita tidak menyehatkan, memakmurkan, mendekatkan pada tujuan tertinggi, dan lainnya maka apa yang kita lakukan bukanlah untuk menyeimbangkan hidup. Melakukan hal-hal untuk menyeimbangkan hidup berarti membawa kehidupan kita ke tingkat tertinggi dan penuh makna. Hidup menjadi begitu berarti karena begitu banyak pengalaman yang telah dilalui dan seluruh pengalaman itu hanya akan membawa kita ke satu tujuan, hidup yang tidak sia-sia!

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - February 13, 2010 at 3:11 pm

Categories: Quality of Life   Tags:

Sudahkah Anda Memberi Makan Pikiran & Jiwa Anda Hari Ini ?

Banyak diantara kita yang makan 2-3 kali sehari. Ada individu yang makan karena ia merasa lapar, ada juga individu yang walaupun tidak merasa lapar namun tetap mengisi perutnya dengan makanan. Karena kita rutin mengisi perut kita dengan makanan, maka makan sudah menjadi kebiasaan kita untuk memuaskan rasa lapar dan ingin.

 

Namun apakah kita memperlakukan pikiran dan jiwa kita sama halnya ketika kita rutin mengisi perut kita dengan makanan? Pikiran dan jiwa sama pentingnya dengan perut kita. Bahkan untuk situasi tertentu, mengoptimalkan pikiran dan jiwa lebih penting dari perut kita. Apabila kekuatan emosi, mental dan kemampuan anda ingin berkembang dan bertumbuh maka anda harus konsisten untuk memberi makan dan asupan bergizi bagi pikiran dan jiwa anda.

 

Memberi makan pikiran anda

 

Salah satu kunci kesuksesan dan keberhasilan saya selama ini adalah kebiasaan memberi makan pikiran saya setiap harinya. Kebiasaan ini telah saya jalani sejak saya duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kala itu saya suka sekali membaca ensiklopedia, komik dan surat kabar. Dari surat kabarlah saya tahu banyak tentang ibukota negara-negara didunia dan kepala negaranya. Tidak heran ketika SD saya sering menjawab pertanyaan guru saya seputar ibukota Negara didunia berikut kepala negaranya.

 

Sampai kini kebiasaan saya ini terus saya pertahankan. Rutin saya membaca buku-buku seputar kesuksesan, bisnis, manajemen, leadership, NLP, sales, marketing, entrepreneurship, dan lainnya. Beberapa tahun terakhir ini saya suka membaca biography tokoh-tokoh terkenal dan sukses. Melalui biography ini saya bisa belajar bagaimana kiat-kiat sukses mereka dan bilamana mungkin me-model apa yang mereka lakukan dalam upaya saya mencapai tujuan. Ketika saya membaca biography Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple), Howard Schultz (Starbucks), Richard Branson (Virgin), Warren Buffet, dan lainnya saya seperti sedang mengambil dan mengekstrak puluhan tahun pengetahuan, pengalaman, wawasan, kebijaksanaan, dan pengambilan keputusan mereka ke dalam pikiran saya.

 

Salah satu hal yang saya suka ketika membaca biography tokoh-tokoh sukses yaitu saya bisa mempelajari kesalahan, kekeliruan dan kegagalan yang pernah dilakukan dan dialami mereka dan kemudian saya berupaya untuk tidak melakukan hal keliru dan salah yang pernah dilakukan para tokoh sukses tersebut. Saya percaya bahwa pelajaran terbaik tidak selalu berasal dari kekeliruan, kesalahan dan kegagalan yang pernah kita alami, namun juga dari kekeliruan dan kesalahan yang pernah diperbuat oleh orang-orang yang telah lebih dahulu sukses. Sehingga walaupun umur saya saat ini hanya 36 tahun, namun saya bisa dan mampu membuat keputusan besar karena saya merasakan puluhan tahun pengalaman tokoh-tokoh sukses dalam pikiran saya. Saya mengkombinasikan pengalaman pribadi saya dengan pengalaman para tokoh sukses ke dalam strategi, cara dan action saya dalam upaya saya mencapai kesuksesan dan keberhasilan.

 

Saya selalu dan berupaya mencari kesempatan untuk bisa membaca. Saya berusaha untuk membawa buku setiap kali saya bepergian. Seringkali saya membawa buku ketika berangkat ke kantor dan membacanya disaat istirahat atau saat-saat dimana kebiasaan membaca saya tdak menggangu pekerjaan. Ketika berada dirumah, saya selalu menyisihkan waktu untuk membaca buku. Saat menunggu sesuatu, saya pun mengisinya dengan membaca buku. Ada beberapa orang yang menyebut saya kutu buku, namun saya melihatnya dari sudut pandang berbeda. Saya melihat diri saya dan orang-orang yang selalu membaca adalah orang-orang yang terus menerus memberi makan pikirannya karena pikiran pun membutuhkan makanan sama halnya dengan tubuh kita.

 

Perlu diingat bahwa memberi makan pikiran kita juga perlu memperhatikan kualitas makanan yang kita berikan. Makanan seperti apa yang kita berikan kepada pikiran, karena tidak semua makanan berguna dan baik bagi pikiran kita. Ketika anda memakan makanan yang kotor, tidak higienis, atau junk food maka makanan tersebut akan cepat atau lambat akan membawa dampak kurang baik bagi tubuh anda. Kita perlu pastikan bahwa apa yang kita baca akan berguna bagi pikiran dan diri kita. Buku dan majalah seperti apa yang anda baca setiap harinya? Hal-hal apa yang menarik perhatian anda disetiap majalah atau buku yang anda baca? 6 Buku atau majalah seperti apa yang anda baca akhir-akhir ini?

 

Seringkali saya mendengar orang-orang ingin berhasil dan sukses namun tidak pernah membaca informasi dan pengetahuan yang tepat dan berguna bagi pikirannya agar ia bisa mencapai keberhasilan yang diinginkannya. Beberapa mahasiswa saya mengatakan bahwa mereka ingin mendapatkan nilai A dalam mata kuliah yang saya ajar, namun mereka mengatakan jarang membaca materi kuliahnya. Beberapa pemilik usaha mengatakan ingin agar usahanya bisa dikelola dengan baik dan profit meningkat, namun mereka tidak membaca buku-buku manajemen, bisnis dan entrepreunership.

 

Ketika orang mengatakan ingin kaya raya, mereka tidak pernah membaca majalah-majalah seputar investasi, perencanaan keuangan, uang, dan lainnya, bahkan mereka tidak mengikuti program televisi seperti CNN, CNBC, atau website seperti moneycentral.com, cnn.com/money, dan lainnya. Sebaliknya mereka lebih senang membaca tema atau topik-topik yang tidak berhubungan dengan tujuan yang ingin diraih, seperti pos kota, popular, FHM, bola, dan lainnya. Anda boleh-boleh saja membaca majalah seperti ini, tidak ada yang salah dengan itu. Namun membaca hal-hal tersebut tidak akan memberi makan pikiran anda untuk menjadi orang yang kaya raya atau berhasil mengelola bisnis dengan baik. Bacaan seperti itu hanya akan menghibur anda.

 

Memberi makan jiwa anda

 

Agar kita dapat terus menerus termotivasi, terinspirasi, terpenuhkan dan terisi, kita harus selalu memberi makan dan merawat jiwa kita dengan baik. Jiwa kita juga berperan penting bagi tubuh dan pikiran kita. Jiwa yang stabil dan penuh semangat mampu mendorong kita melangkah dengan pasti, penuh kekuatan, dan percaya diri. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam memberi makan bagi jiwa. Sebagian orang berdo’a, ada juga yang bermeditasi, ada yang menulis, membantu sesama, dan lainnya.

 

Bagi saya memberi makan jiwa bisa dilakukan dengan menghabiskan waktu bersama keluarga, membaca buku-buku inspiratif, menulis, berdo’a, dan meluangkan waktu untuk sendiri. Memberi makan pada jiwa setiap hari bisa menghindarkan diri kita dari stress, frustrasi, dan tidak bermakna. Memiliki mental yang kuat serta kekuatan emosi tidak bisa dipisahkan dengan kebiasaan kita memberi makan dan merawat jiwa kita sebaik mungkin setiap harinya.

Apabila anda belum memberi makan pikran dan jiwa anda hari ini, lakukanlah. Sama halnya ketika perut anda kosong dan merasakan lapar yang begitu kuat, maka agar anda kembali bugar dan mampu melakukan aktivitas tentu perut anda harus terisi secukupnya. Sama halnya dengan pikiran dan jiwa anda. Apabila anda tidak memberi pikiran dan jiwa makanan yang dibutuhkannya, maka apapun strategi dan action anda tidak akan pernah efektif dan bernilai tambah.

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - February 9, 2010 at 1:47 pm

Categories: Quality of Life   Tags:

Mengaktifkan “Not-Knowing” State Untuk Kehidupan

rman4716l[1]Suatu ketika di suatu kelas training yang saya ikuti seorang peserta menjawab pertanyaan trainer. Sang trainer bertanya kepada seluruh peserta bagaimana mereka memahami materi dan praktek yang akan diajarkan di kelas training itu. Saat itu kelas training yang saya ikuti merupakan kelanjutan dan pendalaman dari kelas training sebelumnya.

 

Dari sekian peserta yang menjawab pertanyaan sang trainer, ada jawaban dari salah satu peserta yang menarik perhatian saya. Peserta itu menjawab bahwa cara ia mengerti dan memahami pengetahuan dan skills yang akan diajarkan di kelas itu adalah dengan berada kondisi “tidak tahu” atau “not-knowingstate.

 

Jawabannya sungguh membuat saya tertarik, seperti apa persisnya ia berada pada “not-knowingstate? Ketika itu sepertinya saya pernah berada pada situasi “not-knowingstate ini namun saya lupa kapan persisnya saya mengalami itu. Saya perlu waktu untk mengingat kembali pengalaman tersebut selama 36 tahun hidup saya ini. Kelas training yang kita ikuti saat itu adalah kelanjutan dari kelas training sebelumnya sehingga sebagian materi yang disampaikan pada kelas training ini berhubungan dengan materi pada kelas terdahulu. Tentu teman saya itu memiliki pemahaman tentang materi yang akan disampaikan di kelas itu karena ia telah mengikuti kelas sebelumnya pikir saya kala itu. Lalu mengapa teman saya itu berada pada “not-knowingstate di kelas ini? Apakah ia benar-benar tidak memahami apa yang disampaikan di kelas terdahulu sehingga ia berada “not-knowingstate di kelas saat ini?

 

Pertanyaan dalam diri ini akhirnya terjawab setelah saya berdiskusi dengannya. Ia menjelaskan bahwa “not-knowingstate merupakan kondisi yang sengaja ia ciptakan. Ia beranggapan bahwa “not-knowingstate akan memudahkannya menyerap dan memahami berbagai hal baru seperti pengetahuan, cara berpikir,  dan skills tertentu. Ia pun meyakini bahwa banyak hal diluar diri kita yang berguna dan memberikan wawasan baru bagi pengembangan diri kita. Oleh karena itu ia sering dengan sengaja berada pada “not-knowingstate agar ia bisa dengan mudah menyerap berbagai hal positif bagi kemajuan dirinya.

 

Satu hal yang membuat saya kagum dengan teman saya ini adalah usianya yang sudah dipertengahan 50-an tahun. Artinya diusianya yang lebih dari setengah abad, ia begitu mudah mengosongkan segala pengalaman dan pencapaiannya selama ini selama beberapa waktu untuk meyerap sebanyak mungkin pengetahuan dan wawasan yang ia terima dari lingkungannya.

 

Inilah inti dari “not-knowingstate yaitu berada pada kondisi pikiran dimana kita bisa dengan mudah menyerap berbagai pengetahuan, wawasan maupun skills tertentu dalam pikiran kita tanpa kita menahan dan mempertentangkannya di kesempatan pertama. Menahan disini berarti kita dengan sengaja mem-block pengetahuan, wawasan dan skills tertentu yang kita terima hanya karena pengalaman kita yang mencangkup pengetahuan dan wawasan yang dimiliki saat ini lebih baik atau lebih berkualitas. Dengan menahan setiap informasi, pengetahuan dan wawasan yang kita baca, dengar dan lihat maka kita sedang menahan suatu informasi, pengetahuan dan wawasan yang bisa jadi berguna bagi kita saat ini atau di masa mendatang.

 

Sama halnya dengan menahan informasi dan pengetahuan yang ada disekitar kita, mempertentangkan berarti menyanggah setiap infomasi dan pengetahuan yang kita dapat dengan pengetahuan dan wawasan yang kita miliki sekarang ini. Seringkali seseorang mempertentangkan suatu pengetahuan dan wawasan yang ada disekitarnya disebabkan karena ia membandingkan antara pengetahuan dan wawasan dari hasil pengalamannya selama ini dengan pengetahuan dan wawasan yang yang ia baca, dengar dan lihat saat ini. Ia mengganggap bawa pengetahuan dan wawasannya selama ini sudah begitu baik karena mampu memecahkan atau menghindarkan ia dari masalah maka ia menempatkan setiap informasi dan pengetahuan yang ia baca, dengar dan lihat  di tingkatan terbawah dari pengetahuan dan wawasan yang dimilikinya saat ini.

 

Ia berpendapat bahwa pengetahuan dan wawasan yang ia miliki selama ini sudah teruji dan yang paling tepat sehingga apapun pengetahuan dan wawasan yang ia dengar, baca dan lihat saat ini akan ditentang dan diargumentasikan berdasarkan pengetahuan dan wawasan yang dimilikinya. Walau pengetahuan dan wawasan yang ia baca, dengar dan lihat saat ini berkualitas dan efektif namun setelah diargumentasikan dan dibandingkan dengan pengetahuan dan wawasan yang teruji miliknya   maka pengetahuan dan wawasan yang ia dengar, baca dan lihat tersebut menjadi tidak berkualitas dan tidak efektif. Subyektifitas ini terbentuk karena kita mengagungkan pengalaman terbaik di masa lalu, pengetahuan dan wawasan yang kita miliki dan track record selama ini. Kita terlalu mengandalkan dan meyakini bahwa pengetahuan dan wawasan yang didapat di masa lalu adalah yang terbaik dibandingkan dengan pengetahuan dan wawasan yang di baca, didengar dan dilihat saat ini.

 

Hidup dan kehidupan ini sesungguhnya menawarkan beragam informasi, pengetahuan, dan kesempatan kepada kita. Kita yang bisa mengambil, memanfatkan dan mengoptimalkannya akan menjadi manusia yang berkelimpahan. Memanfaatkan dan mengoptimalkan kelimpahan yang ada dalam diri kita dan kelimpahan di luar diri kita akan menjadi kita manusia yang luar biasa berkelimpahan. Hidup dan kehidupan pun selalu berubah, bergerak ke berbagai arah. Itulah sebabnya mengapa informasi, pengetahuan dan peristiwa selalu berganti.

 

Ketika segalanya berubah maka cara-cara dan tindakan pun akan berubah mengikutinya. Pengetahuan dan wawasan masa lalu yang membentuk cara dan tindakan di masa lalu bisa sangat tepat pada situasi di masa lalu. Namun ketika situasi berubah sehingga pengetahuan dan wawasan pun ikut berubah, apakah cara dan tindakan kita masih tetap sama? Tentu akan lebih baik dan lebih tepat tentunya, apabila cara dan tindakan kita berubah ketika informasi, pengetahuan, situasi dan tingkat masalah berubah. Seberapapun hebatnya pengetahuan, wawasan, dan cara kita dimasa lalu hanya akan terlihat hebat dimasa lalu. Ketika segala sesuatunya berubah, belum ada jaminan yang pasti bahwa yang tepat di masa lalu akan tepat pula di masa kini.

 

Dengan mengaktifkan “not-knowingstate kita menempatkan pikiran kita dalam kondisi “menerima” dengan mudah segala informasi, pengetahuan, wawasan, dan skills dan kemudian mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna bagi diri kita.  Dengan berada pada “not-knowingstate kita tidak lagi berupaya menahan atau mempertentangkan segala informasi, pengetahuan, dan skills yang kita dapatkan. Setiap informasi, pengetahuan dan skills yang baca, dengar dan lihat akan dengan mudah mengalir dari seluruh panca indera kita ke dalam pikiran kita. Biarkan informasi, pengetahuan, dan skills yang baru kita dapatkan menjadi satu dengan pengetahuan, wawasan dan skills yang lebih dahulu ada dalam diri kita. Biarkan keduanya – pengetahuan dan wawasan lama dan baru – berintegasi menjadi suatu kekuatan dan sumber daya berharga pada diri kita.

 

Bagaimana mengaktifkan “not-knowingstate setiap saat dimanapun kita berada? Cara mudah dan sederhana adalah dengan memiliki belief system bahwa “not-knowingstate itu menyenangkan. Mengapa menyenangkan? Anda bisa menciptakan 1001 alasan menyenangkan dan memberdayakan menurut anda ketika mengaktifkan “not-knowingstate. Akan lebih baik lagi apabila begitu menyenangkannya mengaktifkan “not-knowingstate bisa anda gambarkan, rasakan dan dengarkan dengan begitu jelas dan kuat di pikiran anda. Selamat mencoba dan gunakan “not-knowingstate untuk mencapai keberhasilan di 2010 nanti !

  • Share/Bookmark

1 comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - December 28, 2009 at 7:56 am

Categories: Quality of Life   Tags:

Tetapkan & Wujudkan Tujuan Anda Sekarang Juga Atau Orang Lain Yang Akan Melakukannya Untuk Anda!

Tulisan ini dibuat setelah saya berada pada “puncak” keinginan untuk merangkum serangkaian pengalaman ketika berada di suatu keadaan atau situasi dimana situasi tersebut bukan yang saya inginkan untuk terjadi. Sama halnya dengan banyak orang lainnya, saya tentu ingin berada pada situasi dimana saya menginginkan berada didalamnya. Situasi yang kita inginkan tentu akan membawa konsekuensi yang kita inginkan pula.

 

Manusia memiliki naluri untuk mengejar situasi yang diinginkan karena membawa konsekuensi logis yang diinginkannya pula, seperti senang, bahagia, nyaman, tertawa, dan lainnya. Tentu dengan berada di situasi yang tidak diinginkan, konsekuensi logisnya tentu bukan yang kita inginkan. Naluri manusia juga memiliki keinginan untuk menghindar dari perasaan tidak nyaman, tidak bahagia, sedih, dan lainnya.

 

Situasi yang kita inginkan terjadi hanyalah akibat atau konsekuensi dari terwujudnya suatu tujuan. Dengan begitu ketika suatu tujuan dapat kita raih maka hal ini akan menimbulkan konsekuensi pada terjadinya situasi yang kita inginkan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menetapkan terlebih dahulu tujuan seperti apa yang ingin kita capai. Baru kemudian mewujudkan tujuan tersebut agar situasi atau keadaan yang kita inginkan dapat terjadi.

 

Kembali ke serangkaian pengalaman yang tidak saya inginkan untuk terjadi namun ternyata terjadi juga. Berikut adalah pengalaman saya tentang rutinitas kemacetan di Tangerang dan Jakarta. Pada sekitar pukul 6.30 pagi daerah disekitar tempat tinggal saya sudah mulai timbul kemacetan. Semakin siang semakin bertambah pula kemacetan yang memanjang hingga berjarak 10 km. Saya lebih memilih berangkat pagi-pagi sekali ketika suasana jalan masih lenggang dan kendaraan belum banyak yang berlalu lalang.

 

Saya terbiasa berangkat pukul 5.30 atau 5.45 pada pagi hari dan sampai di kantor pukul 6.40 sampai 7.00 pagi. Saya mendapatkan situasi yang menyenangkan ketika saya tidak terjebak kemacetan yang panjang. Jelas disini tujuan saya adalah perjalanan pagi yang menyenangkan dan lepas dari kemacetan. Namun suatu ketika saya pernah tergoda untuk berangkat lebih siang dari biasanya, sekitar pukul 6.30 sampai pukul 7.00 dengan tujuan yang tetap yaitu mendapatkan perjalanan yang menyenangkan dan bebas dari kemacetan yang panjang. Yang saya dapatkan justru situasi yang tidak menyenangkan bagi saya ketika sudah begitu banyak kendaran bermotor yang berlalu lalang tanpa sesukanya, bertambahnya jumlah angkutan umum yang berhenti seenaknya dan kemacetan yang panjang. Tujuan saya mendapatkan perjalanan yang menyenangkan bebas macet tidak saya dapatkan.

 

Ketika sinar matahari di pagi hari semakin naik keatas, semakin banyak orang-orang yang berangkat beraktivitas. Tidak semua orang yang berangkat beraktivitas ketika matahari semakin naik ke atas adalah orang-orang terlambat bangun sehingga terlambat pula berangkat beraktivitas. Saya yakin banyak sekali diantara orang-orang ini yang sengaja berangkat lebih siang karena menyesuaikan dengan tujuannya, seperti melakukan aktivitas pagi dirumah, menonton dan membaca berita pagi terlebih dahulu, mengantarkan anggota keluarga, jam kerja yang lebih siang, dan lainnya. Sebaliknya, semakin siang saya berangkat beraktivitas maka semakin dalam saya terjebak di antara berbagai tujuan orang yang berangkat beraktivitas pada saat itu. Bukannya mendapatkan apa yang saya inginkan dari tujuan saya, namun justru orang yang menentapkan tujuan bagi saya.

 

Ada lagi pengalaman saya lainnya, ketika saya menjalankan usaha penjualan video dan game.  Pertama kali membuka toko ini, saya belum memiliki pengalaman sama sekali dalam berbisnis. Ketika itu tujuan saya begitu sederhana yaitu mendapatkan kembali modal awal dalam waktu cepat. Itulah yang menjadi fokus utama saat itu. Begitu fokusnya dengan tujuan tersebut, saya lupa untuk fokus pada proses penjualan dan stok. Singkat cerita, karyawan yang toko saya melakukan penyimpangan stok dan penjualan yang menguntungkan diri sendiri dan hal ini ternyata berjalan lama.

 

Saya sadar bahwa menetapkan tujuan lain selain mendapatkan modal awal dalam waktu cepat sungguh hal yang penting. Seharusnya saya menetapkan tujuan lain seperti pengelolaan sistem manajemen yang efektif, sistem pengawasan dan pelaporan stok yang terpadu dan lainnya.

 

Jelas sekali tindakan karyawan tersebut mempengaruhi nilai penjualan dan keuntungan sehingga menjauhkan saya dengan tujuan untuk mendapatkan pengembalian modal awal dengan cepat. Alih-alih menetapkan tujuan lain, saya justru terjebak ke dalam tujuan orang lain yang justru merugikan bisnis. Alih-alih berada di situasi yang diinginkan, justru saya berada pada situasi yang tidak saya inginkan.

 

Segeralah menetapkan tujuan dan wujudkan tujuan tersebut sebelum orang lain melakukannya bagi anda. Apabila anda menetapkan tujuan anda sendiri dan memastikan tujuan tersebut tercapai maka anda bisa memastikan bahwa konsekuensinya adalah situasi yang anda inginkan.

Sebaliknya apabila anda tidak menetapkan tujuan dan membiarkan orang lain menetapkan tujuan bagi anda maka anda sedang menyerahkan situasi yang tidak anda inginkan terjadi untuk terwujud melalui andil orang lain. Agar hidup kita selalu diisi oleh situasi-situasi yang diinginkan, pastikan untuk menetapkan dan berupa mewujudkannya sebelum orang menetapkan tujuan bagi anda.

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - October 10, 2009 at 5:15 am

Categories: Quality of Life   Tags:

17 Juli 2009 Duka Kembali Terjadi

AH9BCSVCA312XSACAMH8OMPCAHYZESECAR3Q10MCAYY9MI7CAC9P20RCAFIK1COCAGZJ41CCA9UU4C8CA2LRLIOCAP54VGJCA75DVFACAETH0H5CAH1U6EYCA3PJ6Z0CAXYBUIGCAG71Q9DCAKSJOGLCAJP3QFIBanyak orang tak pernah menyangka termasuk saya bahwa peristiwa bom akan terjadi kembali di Indonesia. Peristiwa bom terakhir yang memilukan terjadi 4 tahun yang lalu tepatnya di Bali yang dikenal sebagai bom Bali II. Dua tahun sesudahnya pada tahun 2004 terjadi peristiwa bom di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Peristiwa bom pertama kali terjadi di Indonesia pada tahun 2002 yang terkenal dengan peristiwa bom Bali I. Rakyat Indonesia dan dunia sangat dikejutkan dengan peristiwa bom terdahsyat pertama di Indonesia bila dilihat dari jumlah korban dan jumlah kerusakan yang dialami. Berselang setahun sesudah peristiwa bom Bali I kembali terjadi peristiwa bom kedua di Indonesia tepatnya di Jakarta. Bom meledak di hotel JW Marriot yang menewaskan 12 orang.

 

Enam tahun berselang setelah peledakan di JW Marriot, rakyat Indonesia dan dunia dikejutkan kembali oleh peristiwa peledakan bom di tempat yang sama yaitu di JW Marriot serta hotel Ritz-Carlton di Mega Kuningan Jakarta. Sampai saat ini sudah ada 9 korban tewas dan puluhan korban luka. Saya mengutuk peristiwa ini dan mengucapkan bela sungkawa yang sebesar-besarnya atas korban tragedi kemanusiaan ini. Saya sangat sedih mengetahui bahwa peristiwa bom mematikan kembali terjadi di tanah air kita. Semua orang termasuk saya seakan tidak percaya dengan kenyataan ini dan sangat berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama pelaku dan otak dibalik terror bom ini bisa ditangkap dan diganjar hukuman setimpal.

 

Peristiwa bom telah terjadi, bagaimanapun waktu telah berlalu. Manusia tidak punya mesin pemutar waktu yang bisa memutar waktu ke masa lalu dan mengubah suatu peristiwa yang akan terjadi menjadi peristiwa yang diinginkannya. Selain mengusut tuntas dalang dibalik teror bom Marriot II dan Ritz-Carlton, saat ini yang bisa kita lakukan adalah menata masa depan dengan lebih baik lagi dan menatap masa depan dengan keyakinan yang tinggi. Bagi para korban dan keluarga korban tragedi bom Marriot II dan Ritz-Carlton ada masa-masa dimana mereka membutuhkan waktu untuk me-recovery diri mereka atas pengalaman yang mereka alami. Suatu tragedi yang mengerikan seringkali tidak mudah dilalui oleh sebagian orang. Ada orang-orang ketika mengalami peristiwa mengerikan mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk bangkit kembali.

 

Ada 3 tipe manusia ketika ia mengalami suatu peristiwa mengerikan dalam hidupnya. Orang yang membutuhkan waktu – seringkali butuh waktu lama – untuk melupakan trauma masa lalu yang buruk, orang yang segera bangkit namun seringkali mengalami trauma tertentu ketika mereka berada pada situasi yang mengingatkan pada peristiwa mengerikan yang pernah dialami, dan terakhir orang-orang yang segera bangkit, melupakan masa lalu namun mengambil pelajaran penting dari peristiwa yang dialaminya.

 

Orang-orang yang cepat bangkit dari peristiwa buruk maupun kegagalan adalah orang-orang yang mampu menggunakan emosi yang berkaitan dengan peristiwa buruk yang terjadi menjadi sesuatu yang membangkitkan dan memajukan dirinya. Sebaliknya orang-orang yang terpuruk dan membutuhkan waktu sangat lama untuk keluar dari trauma masa lalu adalah orang-orang yang menggunakan emosinya untuk memperkuat kekecewaan, kemarahan dan ketidakberdayaan akibat dari situasi buruk yang dialaminya.

 

Orang yang membutuhkan waktu untuk keluar dari trauma atau bayangan mengerikan dari peristiwa yang dialaminya bisa memiliki alasan yang berbeda mengapa mereka masih saja berada pada kondisi traumatis. Mengasosiasikan peristiwa yang dialaminya sebagai sesuatu yang sangat buruk, sengaja untuk menutup diri dari lingkungan sekitar, sampai kurangnya dukungan moril dari orang-orang terdekat seringkali menjadi alasan mengapa seseorang membutuhkan waktu lama untuk keluar dari trauma.

 

Sebaliknya orang yang cepat keluar dari bayangan peristiwa buruk yang menimpanya akan berupaya untuk melupakan peristiwa tersebut, benar-benar memutus hubungan antara situasi saat ini dengan situasi masa lalu dan yang terpenting juga mereka mengasosiasikan peristiwa buruk yang pernah menimpanya sebagai suatu pembelajaran bukan sebagai sesuatu yang sangat buruk atau menakutkan. Walaupun orang-orang yang cepat bangkit ini tidak mendapat dukungan moriil yang selayaknya dari orang-orang di sekitarnya tetapi mereka tetap mampu bangkit. Mereka tidak bergantung dengan orang-orang disekitarnya, mereka lebih fokus untuk “berdamai dengan diri mereka sendiri”.  

 

Orang-orang yang membutuhkan waktu untuk bangkit dari suatu trauma dengan orang-orang yang mampu segera bangkit dari trauma atau keterpurukan tidak dibatasi oleh jenis kelamin, umur, latar belakang keluarga, tingkat pendidikan, tingkat pengalaman, dan lainnya. Siapapun bisa menjadi pribadi yang mampu segera bangkit dari suatu pengalaman buruk dan siapapun bisa berpotensi menjadi pribadi yang membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka dan traumanya.

 

Life goes on! Hidup tidak pernah bergerak ke belakang. Ia selalu melangkah maju. Masa lalu hanya mengingatkan sesuatu yang sudah lampau. Hanya ada satu hal yang bisa digunakan dari masa lalu yaitu sebagai media pembelajaran. Selebihnya masa lalu harus bisa dimaafkan, dilupakan, dan ditinggalkan. Berada di bawah bayang-bayang masa lalu yang buruk akan lebih banyak menghambat langkah-langkah kita dalam menjalani hidup. Sedangkan hidup bergerak maju dan terkadang membutuhkan langkah yang penuh keyakinan, tegas, cepat, efektif dan mencapai sasaran.

 

Langkah-langkah kita akan terasa penuh beban dan berat apabila selalu dibayangi dengan masa lalu yang buruk. Salah satu variabel yang mempengaruhi seberapa baik dan seringnya kita mencapai tujuan kita – naik jabatan, menjadi entrepreuner sukses, memiliki kebebasan finansial, menikmati gaya hidup yang kita inginkan dan banyak lainnya – adalah bagaimana kita melupakan masa lalu yang buruk, memaafkannya, mengambil pelajaran dari situasi buruk yang pernah dialami, melakukan langkah perbaikan, dan dengan ringan melangkah maju mencapai tujuan dengan serangkaian action.

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - September 10, 2009 at 4:12 am

Categories: Quality of Life   Tags: