Posts Tagged ‘Get The Life You Want’

Fear Attracts Like Energy!

Saya yakin tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak pernah takut dan tidak merasakan ketakutan dalam dirinya. Semua orang tanpa terkecuali pasti pernah merasakan ketakutan dalam hidupnya. Takut dan ketakutan adalah bagian hidup tak terpisahkan dalam diri setiap manusia. Tepatnya tiada pikiran manusia yang tidak terisi oleh rasa takut dan ketakutan akan hal tertentu. Jadi rasa takut adalah sesuatu yang wajar ditemui dalam diri setiap manusia.

 

Ibarat mata uang logam, rasa takut itu itu memiliki dua sisi yang berbeda. Sisi pertama, rasa takut bisa melumpuhkan. Sisi kedua, rasa takut itu bisa membangkitkan.

Rasa takut itu melumpuhkan apabila perasaan ini menjadikan kita memiliki keyakinan yang membatasi. Ketakutan yang melumpuhkan juga bisa mendorong kita berperilaku dan bertindak negatif. Rasa takut ini bisa bermetamorfosis menjadi trauma dan phobia.

Sedangkan rasa takut yang membangkitkan itu akan membuat diri kita lebih berdaya. Kita bisa mempergunakan sedemikian rupa rasa takut akan hal tertentu untuk mendorong dan mendekatkan diri mencapai tujuan-tujuan kita.

Uniknya, rasa takut yang melumpuhkan maupun yang membangkitkan sesungguhnya merupakan upaya untuk menghindar. Kemampuan menghindar merupakan kemampuan alamiah manusia yang telah menjadi semacam naluri untuk bertahan hidup maupun mencapai sebuah tujuan.

 

Ketika kecil saya takut sekali mendapat nilai rendah dalam rapor karena dengan mendapat nilai jelek membuat saya tidak mendapatkan hadiah yang diiming-imingi orang tua saya. Rasa takut saya ini telah membuat saya berupaya belajar dengan baik agar terhindar dari mendapatkan nilai jelek. Berkaitan dengan penolakan, tidak ada manusia yang tidak pernah mendapatkan penolakan entah dari orang tua, saudara, atasan, calon pelanggan, dan lainnya.

 

Saya teringat ketika sewaktu kuliah dulu atau sekitar 15 tahun yang lalu saya pernah menjadi salesman sebuah café dan meeting facility. Saya tidak memiliki pengalaman sebagai salesman sebelumnya. Melalui learning by doing saya menjalaninya dengan fun saja. Begitu banyak penolakan dari calon pelanggan yang saya dapatkan ketika itu. Banyak hal yang menjadi pembelajaran saya ketika itu sehingga saya terus belajar kemudian praktek langsung. Namun situasi tidak juga berubah. Penolakan terus terjadi. Ada beberapa calon pelanggan yang membuka diri bahkan masuk ke tahap negosiasi lanjutan namun akhirnya kandas pula. Ketika itu saya berpikir sulit juga ya menjadi salesman. Mental saya menjadi down karena mengalami serangkaian penolakan. Hal yang tadinya saya anggap sebagai bagian dari pekerjaan kemudian menjadi hal serius dalam diri saya. Diri saya tidak menerima banyaknya penolakan yang saya alami. Diri saya tidak mengizinkan saya mengalami penolakan lagi. Ketidakinginan mengalami penolakan akhirnya menjadi rasa takut mengalami penolakan dan menjalani profesi sebagai salesman. Ibarat tsunami yang menghempas apa saja yang menghadangnya, rasa takut saya mengalahkan segala logika penjualan dan pemasaran yang ada maupun kesempatan yang terbuka dihadapan saya. Rasa takut akan penolakan telah melumpuhkan saya. Rasa takut ini telah membuat saya menghindar dari segala aktifitas maupun profesi yang ujung-ujungnya menjual. Bahkan saat itu dalam kehidupan sosial saya rasa takut akan penolakan juga menghantui pikiran saya. Sehingga lebih sering menahan diri untuk meminta bantuan teman karena takut ditolak. Luar biasa bukan efek dari rasa takut yang melumpuhkan diri kita.

 

Rasa takut yang memberdayakan diri kita bisa berwujud pada perilaku dan tindakan positif, seperti keinginan yang kuat, ulet, pantang menyerah, komitmen, konsisten, dan lainnya. Sedangkan rasa takut yang tidak memberdayakan bisa bewujud pada perilaku dan tidakan negatif, seperti merusak, menyakiti, menghancurkan, menyerang, melakukan kebohongan, dan lainnya. Tujuan Thomas Alfa Edison menemukan dan menciptakan bola lampu adalah karena ingin menerangi dunia. Bisa jadi Thomas Alfa Edison memiliki ketakutan apabila dunia gelap dan penerangan hanya mengandalkan api dan petromax. Wright bersaudara berupaya keras menciptakan alat transportasi lewat udara. Upaya mereka berhasil dengan ditemukannya pesawat terbang. Bisa jadi mereka takut apabila selamanya manusia hanya memiliki 2 (dua) pilihan alat transportasi saja untuk mencapai suatu tujuan dan itupun memakan waktu lama. Beberapa negara sepakat untuk mengadakan pertemuan tingkat dunia membahas pemanasan global dan perubahan iklim dunia. Pertemuan ini berupaya melahirkan peraturan yang mengikat negara-negara di dunia untuk mulai mengurangi pemakaian emisi, efek rumah kaca dan lainnya demi menyelamatkan bumi. Pertemuan ini intens dilakukan dan telah menjadi perhatian khusus di banyak sekali negara. Ketakutan akan rusaknya alam, pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem telah mendorong banyak Negara untuk bertindak menyelamatkan bumi.

 

Sebaliknya George W. Bush mantan Presiden Amerika Serikat ketika memimpin negara tersebut mengambil keputusan untuk menggulingkan rezim Saddam Hussein dan menguasai Irak dengan alasan menyelamatkan Irak dari rezim yang otoriter. Namun menurut laporan yang dirilis oleh media Amerika dan Inggris, bahwa sesungguhnya alasan utama Amerika Serikat menyerang Irak adalah minyak bumi. Amerika Serikat (AS) membutuhkan banyak energi untuk menumbuh perekonomian menyaingi China sehingga AS berupaya mengamankan persediaan minyaknya di Negara-negara Timur Tengah. Ketakutan Amerika Serikat akan kekurangan penguasaan minyak bumi sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dan hegemoni AS atas Timur Tengah telah mendorong negara tersebut tega untuk menguasai dan merusak suatu negara. Suatu ketakutan yang sangat merusak.

Adolf Hitler, Kanselir dan penguasa Jerman yang paling ditakuti di masanya juga dikendalikan oleh ketakutannya. Obsesinya “untuk mempertahankan hidup manusia harus bertarung” serta “perbaikan” ras manusia yang disebut ras arya telah mendorong Kanslir Jerman ini menyerang Negara-negara Eropa dan “memusnahkan” orang-orang berpenyakit dan cacat. Ketakutannya akan “ketidakmurnian” rakyat Jerman dan dikuasainya Jerman oleh ras non-Eropa yang ia sebut sebagai kera yang membuat Adolf Hitler tidak segan-segan menghabisi siapa saja yang bertentangan dengan konsep hidupnya dan Nazi.

Banyak koruptor di dunia apabila ditanya motif mereka melakukan korupsi, umumnya mereka mengatakan untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidupnya. Mereka takut tidak bisa memenuhi standar hidup yang mereka tetapkan. Bahkan menjalani hidup melebihi apa yang mampu mereka hasilkan. Ketakutan ini membuat mereka mengambil jalan pintas yaitu mengambil uang yang bukan haknya alias korupsi.

 

Rasa takut dan ketakutan akan sesuatu hal memiliki energi yang luar biasa. Energi yang mampu menarik sebuah pemikiran dan ide yang memberdayakan dan bermanfaat atau sebaliknya pemikiran dan ide yang merusak dan tidak bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Ketika pikiran dikuasai dan didominasi oleh sebuah ide dan pemikiran tertentu, maka cepat atau lambat akan tercermin dalam sikap, perilaku dan tindakan kita. Terlebih ketika sebuah perasaan takut begitu dominan dalam diri kita sehingga naluri menghindar juga terus menguat. Sikap, perilaku dan tindakan kita akan mengikuti naluri menghindar tadi, yaitu menghindar dari situasi dan kondisi yang kita takut untuk terjadi. Bahkan manusia bisa bersikap, berperilaku maupun bertindak apapun apabila ia sudah dikendalikan oleh ketakutannya sendiri.

 

Oleh karena itu, pergunakanlah ketakutan anda hanya untuk hal-hal yang memberdayakan diri anda dan orang lain. Bersikaplah bersahabat dengan ketakutan, karena rasa takut bisa sangat membantu dan mendorong kita meraih tujuan-tujuan yang bermanfaat baik!

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - April 29, 2010 at 6:37 am

Categories: Quality of Life   Tags:

Selamat Tinggal Buku Kehidupan 2009!

The Years Gone By - Something You Know Nothing About [2009][1]Menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari dan bulan berganti bulan, tidak terasa tahun 2009 akan segera berlalu. Sebentar lagi tahun 2009 akan genap 365 hari. Apabila tahun bisa kita ibaratkan sebagai buku dan setiap halaman dari buku ini adalah hari, maka dua hari lagi kita akan menyelesaikan buku kehidupan 2009 sebanyak 365 halaman.

 

Buku kehidupan 2009 layaknya buku kehidupan setiap tahun dimana pada awalnya merupakan sebuah buku kehidupan yang kosong. Maksudnya pada awalnya setiap halaman dari buku ini adalah kosong, tidak ada sama sekali tulisan maupun gambar apapun. Kitalah yang mengisi setiap halaman buku kehidupan itu, sesuai yang kebutuhan, keinginan dan harapan kita masing-masing. Oleh karena itu buku kehidupan setiap orang tentu berlainan isinya karena setiap orang mengisinya dengan cara yang berbeda-beda. Kita semua tentu sudah mengisi buku kehidupan 2009 dan tinggal menyisakan 2 halaman untuk kita isi sebelum kita menamatkan 365 halaman buku kehidupan 2009.

 

Bagaimana buku kehidupan anda? Apakah setiap halaman telah diisi dengan tulisan dan gambar yang indah dan bagus? Atau mungkin ada halaman-halaman yang isinya terkesan biasa-biasa saja? Bahkan mungkin ada halaman-halaman yang isinya sungguh diluar keinginan dan harapan anda sehingga anda pun tidak ingin mengingat ataupun melihat lagi halaman itu. Setiap isi halaman dalam buku kehidupan kita mencerminkan siapa diri kita sesungguhnya.

 

Apakah kita seorang achiever? Apakah kita under achiever? Apakah kita seorang pribadi penuh komitmen? Apakah kita pribadi yang pantang menyerah? Banyak tipe dan karakteristik pribadi yang bisa kita ketahui pada diri kita selama kita mengisi 365 halaman buku kehidupan 2009. Bahkan menjelang tutup buku kehidupan ini, kita bisa kembali lagi ke belakang ke awal tahun buku kehidupan dan mulai melihat setiap halaman buku untuk mengetahui seperti apa sesungguhnya tipe dan karakteristik pribadi kita.

 

Menjelang tahun 2010 ini selain kita mempersiapkan diri untuk meraih apapun tujuan kita di tahun depan, kita perlu juga kembali ke belakang selama 12 bulan yang telah di lalui di tahun 2009. Ketika melihat ke belakang saya jadi teringat pepatah yang mengatakan, “past only remain just that, the past”. Sesuatu yang telah menjadi masa lalu tidak akan pernah bisa diubah lagi. Manusia tidak akan pernah memiliki mesin waktu di mana ia bisa mengulang segala sesuatunya persis sama namun kali ini dengan cara yang lebih baik tentunya. Yang kita miliki dan berada di bawah kontrol kita hanyalah masa kini.

 

Segala hal di masa lalu yang berada diluar keinginan dan harapan baik itu cara berpikir, perilaku, tindakan dan apapun itu akan menjadi input yang luar biasa berguna untuk menghidari kita dari kesalahan maupun kegagalan yang sama. Itulah mengapa saya tidak pernah setuju atas pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa masa lalu harus dilupakan, jangan pernah mengingat lagi masa lalu.

 

Masa lalu jelas penting untuk kita lihat kembali. Kita bisa memeriksa kembali masa-masa indah dan sesuai keinginan dan harapan serta juga memeriksa masa-masa penuh kekecewaan dan diluar keinginan dan harapan kita. Kedua masa itulah bisa luar biasa memberdayakan kita. Kita tentu setuju apabila masa-masa indah dan penuh keberhasilan dimasa lalu bisa menjadi pendorong dan pemberi keyakinan bahwa kita bisa dan akan meraih sukses seperti sebelumnya. Namun kegagalan dan kesalahan yang di lakukan di masa lalu seringkali membuat sebagian orang menghindar dari mengingat maupun memeriksa kembali masa lalunya itu.

 

Menjelang tutup buku kehidupan 2009 ini, kita bisa melihat dan memeriksa kembali halaman per halaman atau masa-masa dimana kita mengalami kegagalan atau berbuat kesalahan. Bukan untuk mendapatkan belief system yang negatif atau tidak memberdayakan, namun menemukan letak kesalahan atau penyebab dari kegagalan. Menemukan letak kesalahan dan penyebab dari kegagalan adalah penting karena dengan begitu kita bisa mengetahui dan memahami apa yang persisnya perlu kita lakukan dan yang perlu dihindari agar kesalahan dan kegagalan di masa lalu tidak terulang kembali. Setelah itu kita bisa menyusun serangkaian tindakan agar di buku kehidupan 2010 nanti kesalahan dan kegagalan yang pernah dialami di buku kehidupan 2009 tidak terulang.

 

Agar kita bisa dengan mudah menemukan titik waktu penting yang ingin dihindari untuk terjadi di buku kehidupan 2010, kita bisa membuat garis waktu (time-line). Garis waktu (time-line) tidak hanya berguna bagi masa depan namun juga bagi masa lalu terutama dalam menemukan titik waktu terpenting yang ingin kita hindari untuk terulang kembali. Tentu anda harus memunculkan sebuah garis dalam pikiran anda. Kembalilah ke masa lalu atau 12 bulan ke belakang. Mulai dari bulan Januari sampai Desember. Periksa dengan seksama situasi-situasi apa yang membuat anda bahagia dan yang membuat anda kecewa. Taruh setiap situasi yang anda temui pada garis waktu anda.

 

Ketika garis waktu anda sudah terisi oleh titik waktu terpenting maka angkat garis waktu itu dan taruh di hadapan anda selayaknya anda sedang menaruh sesuatu dihadapan anda. Kemudian lihat kembali garis waktu di hadapan tersebut dengan seksama, begitu jelas dan kuat. Rasakan kegembiraan di titik waktu penuh bahagia dan rasakan kekecewaan pada titik waktu kegagalan dan kesalahan. Katakan dihadapan garis waktu anda bahwa gambaran, perasaan, dan suara penuh kegembiraan akan terulang lagi di tahun depan dan anda akan memelihara cara-cara yang berhasil membuat anda berhasil untuk diimplementasikan di buku kehidupan 2010.

 

Katakan pula bahwa gambaran, perasaan, dan suara kekecewaan dan ketidakbahagiaan tidak akan terulang lagi karena setelah anda kembali ke masa itu gambaran, rasa, dan suaranya bukan yang anda inginkan dan harapkan untuk terjadi lagi di buku kehidupan 2010. Anda mencari tahu penyebab dari kegagalan dan kesalahan di titik waktu tersebut, ketahui cara-cara yang harus dihindari dan cara-cara yang harus dilakukan, dan bawa cara-cara yang harus dilakukan tersebut ke masa kini dan masa depan. Perlakukan garis waktu di hadapan anda dengan penuh hati-hati karena bagaimanapun garis waktu itu mencerminkan kehidupan masa lalu anda. Bagaimanapun itulah hidup dan kehidupan kita, dengan menghargainya berarti kita telah menaruh landasan memberdayakan untuk mencapai tujuan masa depan. SELAMAT TINGGAL BUKU KEHIDUPAN 2009! SEMOGA KEHIDUPAN MASA LALU MERUPAKAN AWAL BAGI KITA UNTUK MERAIH APAPUN YANG KITA INGINKAN DAN ITU 1000% AKAN TERJADI DENGAN SUMBER DAYA, STRATEGI DAN ACTION YANG TEPAT TENTUNYA!

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - December 31, 2009 at 2:33 am

Categories: Quality of Life   Tags:

Sang Pemimpi Yang Bukan Sekedar Bermimpi

Sang_Pemimpi_(film)[1]Beberapa minggu yang lalu saya sudah membulatkan tekad saya untuk menonton film Sang Pemimpi. Walaupun sampai saat ini saya belum berkesempatan menonton film Laskar Pelangi namun entah kenapa saya ingin sekali menonton film Sang Pemimpi. Akhirnya di hari kedua penayangannya di bioskop, saya berkesempatan menonton film Sang Pemimpi. Tanpa bermaksud untuk mempromosikan film ini, namun saya dengan jujur menilai film ini sungguh luar biasa. Film ini sarat pesan moral bagi siapapun. Pesan moral yang disungguhkan dalam film ini mampu menyentuh emosi penonton terutama saya pribadi.

 

Apa yang ditampilkan pada Sang Pemimpi didasarkan dua realitas yang ada di kehidupan kita. Pertama, realitas tentang variabel-variabel untuk meraih apa yang paling kita inginkan dalam kehidupan ini. Kedua, realitas tentang perjuangan manusia untuk meraih apa yang ia cita-citakan melalui berbagai proses pasang surut hingga akhirnya mereka sampai pada suatu persinggahannya yaitu pencapaian keinginannya yang terdalam.

 

Film ini sendiri berkisah tentang tiga sahabat yaitu Ikal, Aray dan Jimbron yang merantau ke Manggar, kota pelabuhan yang berjarak puluhan kilometer dari Gantong, Belitung. Mereka menjalani masa-masa sulit dan penuh tantangan. Ikal dan Aray sendiri adalah siswa yang pandai namun sekaligus bengal. Namun mereka memiliki kesamaan cita-cita, yaitu ingin kuliah di Perancis dan keliling Eropa.

 

Cita-cita ini terinspirasi dari guru muda di sekolah mereka yaitu pak Julian. Guru ini mengajarkan kepada para muridnya untuk berani bermimpi, tetapkan cita-cita setinggi langit, imajinasikan mimpi-mimpi tersebut dan wujudkan. Sebetulnya apa yang disampaikan pak Julian adalah bagaimana mewujudkan suatu impian terlebih dahulu dalam pikiran kita dengan gambaran yang sangat jelas, perasaan yang begitu kuat dan suara-suara yang membangkitkan semangat. Ketika mimpi-mimpi itu begitu nyata, jelas dan sangat kuat dalam pikiran maka kita akan terberdayakan untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan.

 

Dalam film ini pak Julian juga mendorong para muridnya untuk memilih pola bahasa dan kata-kata yang menguatkan dan memberdayakan diri kita. Ada satu kalimat yang menyentuh emosi saya,”yang terpenting, bukan seberapa besar mimpi kalian, melainkan seberapa besar upaya kalian mewujudkan mimpi itu”. Luar biasa sekali kata-kata sang guru ini.

 

Tiga pemuda ini Ikal, Aray dan Jimbron memiliki mimpi dan cita-cita yang mereka yakini akan mampu mereka capai. Walaupun ada situasi dimana Ikal diuji tingkat komitmennya untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya namun tiga pemuda ini benar-benar bekerja keras dan berkomitmen tinggi untuk mencari uang, menabung, belajar dengan giat, dan berprestasi agar impian mereka dapat tercapai. Adegan lain yang membuat saya terkesan adalah ketika Arai membuka peta dunia dan menggambar rencana mewujudkan mimpi itu, Belitung, Jakarta, Paris dan Eropa. Mereka bukan hanya bermimpi tetapi juga merencanakannya dengan baik dan kemudian take action untuk mewujudkannya.

 

Film ini sebetulnya berupaya mengangkat suatu realitas yang terjadi bahwa ada sebagian orang di belahan dunia manapun yang dare to dream and make it real. Orang-orang tersebut menyadari bahwa mengubah jalan hidup mereka bisa dicapai dengan meraih impian mereka. Mereka hidup dengan impian mereka. Dengan kata lain yang membuat mereka bertahan hidup adalah impian-impian mereka akan sesuatu yang mereka idam-idamkan. Setiap tarikan nafas mereka, setiap langkah kaki mereka, dan setiap jengkal pikiran mereka selalu diisi dengan impian yang harus terwujud. Mereka tidak pernah merisaukan kegagalan, karena sesungguhnya kegagalan hanyalah pertanda bahwa mereka semakin dekat dengan impian mereka.

 

Impian inilah yang membuat Thomas Alfa Edison memimpikan akan menerangi dunia. Melalui impiannya untuk terbang Wright bersaudara berhasil membuat pesawat terbang. Dengan impiannya melihat Indonesia merdeka dan lepas dari penjajahan, Soekarno dan Hatta terus berjuang melawan penjajah dan memproklamirkan Negara Republik Indonesia. Jadi banyak orang-orang yang hidup dengan impiannya dan take action untuk impiannya tersebut. Kita bisa me-model mereka. Melakukan persis yang mereka lakukan pada proses pencapaiannya.

 

Realitas berikutnya menjelaskan bahwa impian itu harus diperjuangkan. Impian tidak datang menghampiri kita, sebaliknya kita yang harus menghampiri impian itu. Impian hanyalah sekedar impian apabila perilaku dan tindakan kita tidak terhubung dengan impian itu. Kita bisa dengan mudah memiliki mimpi-mimpi dan ketika mimpi-mimpi tersebut hanya menghiasi pikiran anda maka kita sedang menciptakan impian yang semu. Semakin banyak kita memiliki mimpi-mimpi semu maka hidup kita pun akan semakin semu.

 

Inilah yang membedakan 2 karakter manusia, yang pertama tipe nice to have dream dan tipe lainnya adalah dream catcher. Pada tipe pertama jelas bahwa impian dibuat untuk memperindah hidup, untuk menghibur diri dan menghiasi pikiran saja. Apa yang kita lakukan justru menjauhkan diri kita dari terwujudnya impian. Sedangkan tipe kedua adalah manusia penangkap impian atau dream catcher. Tipe ini memiliki mimpi-mimpi dan mereka menangkap mimpi-mimpi itu, menggemgamnya dengan sangat erat. Kemudian impian  dalam genggamannya itu kemudian disimpan dalam pikirannya dan mereka memastikan bahwa impian tidak akan pernah keluar dari pikirannya. Ketika impiannya itu masuk dalam pikiran, mereka mengaktifkan sumber daya pikiran untuk mengolah impian tersebut. Hasilnya akan terwujud melalui strategi dan action kita yang nanti akan menjadikan impian itu menjadi kenyataan. Inilah realitas sesungguhnya dari tipe pribadi dream catcher.

 

Marilah bermimpi dan milikilah keyakinan bahwa kita cukup besar untuk mimpi-mimpi tersebut. Kita terlalu besar untuk membuang mimpi-mimpi itu. Kita terlalu besar untuk tidak melakukan beberapa langkah untuk mewujudkan mimpi tersebut. Kita begitu besar sehingga kita akan begitu mudah untuk menambah langkah-langkah kecil dan bahkan melipatgandakan langkah-langkah tersebut untuk mewujudkan mimpi itu.

 

Tiada satupun mimpi yang membuat kita begitu kecil. Kita hanya cukup melepaskan hal-hal besar dalam diri kita dan kemudian menjadikan mimpi-mimpi kita sebagai media untuk menunjukkan kebesaran kita. Kita tuangkan tindakan-tindakan dan strategi kita dalam media itu, nikmati prosesnya, miliki keyakinan memberdayakan, dan nantikan media itu menjadi suatu kenyataan yang anda nanti-nantikan selama ini!

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - December 23, 2009 at 11:22 pm

Categories: Quality of Life   Tags: