Perginya si Burung Merak, Selamat Jalan WS Rendra
Pada tanggal 6 Agustus 2009 Indonesia kembali kehilangan seniman besar bernama WS Rendra. Ia dikenal juga dengan sebutan si burung merak. Ia seorang penyair dan pemain teater yang telah
menghasilkan begitu banyak karya berupa sajak, puisi dan pementasan teater.
Sajak-sajak dan puisinya banyak menggambarkan realitas yang terjadi di masyarakat, masalah-masalah sosial, filosofi kehidupan serta kritikannya terhadap pemerintah yang berkuasa. Beberapa dari puisinya pernah saya baca seperti sajak seorang tua untuk istrinya, jangan takut Ibu, mencari Bapak, nyanyian angsa, dan potret pembangunan dalam pusi sangatlah menyentuh hati dan mampu menerawangkan pikiran.
Kata-kata yang digunakan dalam puisi-puisinya begitu mengena, mudah dipahami, tanpa terlalu banyak memakai satir-satir yang membingungkan, dan banyak menggunakan filosofi kehidupan yang mudah dicerna. Ada semacam anti kemapanan dalam konteks ia melihat dan menjalani kehidupan ini.
Ia sangat memahami konteks sosial dan ia menggunakannya sebagai kekuatan dari semangat perlawanannya. Melalui hasil karyanya, ia seakan-seakan sedang menggugat berbagai hal yang ia rasa sebagai ketidak-adilan, penindasan, dan penyakit sosial yang ada di masyarakat. Karya-karyanya tidak hanya dikenal di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Banyak juga karya-karyanya yang telah diterjemahkan ke bahasa asing. Ia juga aktif di festival-festival di luar negeri.
Beberapa dari kata-katanya sarat dengan makna kehidupan. Saya ingat ia pernah mengucapkan kata-kata seperti perjuangan adalah perwujudan dari kata-kata dan sebuah bangsa tidak cukup hanya terdidik tetapi juga harus berbudaya. Bagi saya kata-katanya tersebut memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan dan memberikan motivasi. Kata-katanya mampu merefleksikan apa yang sesungguhnya perlu dilakukan oleh setiap manusia untuk menjalani kehidupan pribadi maupun kehidupan bernegara.
Tidak hanya kata-katanya namun juga pusi-puisinya seakan menggambarkan sosok si burung merak adalah seorang pejuang keras yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri disaat orang lain tidak mampu melakukan hal yang sama. Seorang yang mandiri, penuh kesederhaan dan selalu berpikiran kritis.
Selama orde baru pun ia sering mendapatkan konsekuensi akibat dari sikap kritisnya. Puisi-puisi dan karya teaternya sarat dengan kritik kepada pemerintah sehingga ia pernah dijebloskan ke penjara bahkan pernah dilempar bom Molotov oleh orang tidak dikenal. Namun ia tidak pernah surut sedikitpun. Ada pemikiran dan obsesi bagaimana bangsa ini bisa maju dan sejahtera. Selamat jalan WS Rendra, engkau adalah burung merak yang tak pernah terlupakan!
Categories: Quality of Life Tags: In Memoriam of Great Person