Posts Tagged ‘Ways to Get Success’

Mengapa Kita Harus Menjual Diri?

Secara sederhana menjual bisa diartikan sebagai proses menawarkan sesuatu agar orang lain bersedia menggunakan dan membelinya. Lalu apa perbedaan antara memasarkan dan menjual? Secara sederhana memasarkan merupakan sebuah proses memperkenalkan, menyebarluaskan suatu informasi berharga untuk mempengaruhi orang lain agar mau menggunakan atau membeli sesuatu yang kita tawarkan. Melalui aktivitas ini kita bisa mengetahui dan memahami karakteristik, spesifikasi, benefit, kualitas, harga, dan lainnya dari suatu produk. Melalui aktivitas pemasaran diharapkan terbentuk persepsi positif yang tentang produk dan mengangkat citranya sehingga konsumen tergerak untuk membelinya. Aktivitas menjual adalah bagian dari aktivitas pemasaran. Ketika aktivitas pemasaran berjalan dengan baik dan efektif maka hal ini mampu meningkatkan penjualan.

 

Selama ini mungkin kita lebih memperhatikan aktivitas penjualan yang dilakukan oleh perusahaan dalam bisnis mereka. Mereka memasarkan produk dan menjualnya melalui saluran distribusi yang tersedia dan masyarakat membelinya sesuai kebutuhan dan keinginannya. Namun aktivitas penjualan sesungguhnya bukan hanya dilakukan oleh institusi bisnis agar produknya dibeli oleh masyarakat. Aktivitas penjualan juga harus dilakukan oleh setiap individu, apapun profesi yang dijalaninya, apapun latar belakangnya, baik dalam karir maupun kehidupan sosial mereka. Sama halnya dengan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya, aktivitas pemasaran dan penjualan adalah bagian penting dalam upaya kita mencapai tujuan dan kesuksesan.

 

Dalam konteks memasarkan diri, bagaimana agar diri kita dikenal oleh orang-orang dan pihak yang kita ingin mereka mengetahui siapa diri kita. Bagaimana orang-orang dan pihak-pihak tersebut mengetahui seperti apa pemikiran kita, ide-ide, pengetahuan, skills, nilai-nilai diri kita, dan track record kita. Menyebarluaskan informasi tentang siapa diri kita sesungguhnya dan membentuk persepsi yang tepat sesuai yang kita inginkan dalam diri audiens kita. Selain itu kita juga perlu menentukan saluran-saluran yang tepat untuk memperkenalkan dan menunjukkan kualitas dan potensi diri kita sesungguhnya agar audiens mengetahui siapa diri kita sesungguhnya. Strategi dan taktik berikut implementasinya banyak berperan ketika anda berupaya memasarkan diri anda dihadapan audiens.

 

Potensi dan kualitas diri kita harus dapat di implementasikan dengan baik melalui action yang tepat dan efektif. Take action inilah inti dari aktivitas menjual diri kita. Akan sangat berbeda ketika kita berupaya menjual potensi dan kualitas diri kita dengan menjual produk. Dalam menjual produk, kita dapat menawarkan langsung kepada calon pembeli dan meminta mereka untuk membeli. Kita dapat menjelaskan kualitas dan keunggulan dari produk dan manfaat bisa akan didapat dari calon pembeli apabila menggunakan produk tersebut. Kita bisa memuji dan mengklaim bahwa produk kita adalah yang terbaik – akan lebih baik mengatakan pula kelebihan dan kelemahannya. Namun lain halnya ketika kita berupaya menjual diri kita dihadapan orang-orang dan pihak yang kita tuju. Kurang tepat apabila kita menjual diri kita dengan cara seperti ketika kita menjual produk. Pendekatannya sangat berbeda.

 

Aktivitas menjual diri kita harus difokuskan melalui kinerja kita, pencapaian tujuan, implementasi kemampuan dan pengetahuan, implementasi nilai-nilai diri, dan lainnya. Ketika seorang salesman mampu mencapai target penjualan untuk suatu periode yang ditetapkan maka ia sedang menjual dirinya. Ketika seorang pembawa acara membawa acara dengan sangat baik, menarik, dan mempesona audiensnya maka ia sedang menjual dirinya. Ketika seorang dokter mampu melaksanakan operasi kepada pasiennya dengan baik dan akhirnya membawa kesembuhan bagi pasien tersebut maka ia sedang menjual dirinya. Ketika anda memberikan ide-ide kreatif kepada atasan anda, anak buah anda atau bahkan kepada teman-teman anda maka anda sedang menjual diri anda. Ketika anda mengedepankan kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab maka anda sedang menjual diri anda. Inti dari menjual diri kita adalah action communication. Dalam buku saya SUKSES JUAL DIRI: Re-Thinking Personal Branding Through 12 Elements of Personal Competitive Advantages, saya menjelaskan bahwa menjual diri kita harus mengutamakan aktivitas action communication.

 

Lalu mengapa kita harus menjual diri? Secara sederhana, ada 2 alasan mendasar mengapa kita menjual diri kita. Pertama, agar orang lain percaya kepada diri kita. Persisnya percaya akan kemampuan kita, pengetahuan kita, kinerja kita, dan potensi diri kita. Sebagai contoh anda ingin dipercaya oleh atasan anda sebagai seorang profesional yang dapat diandalkan. Agar atasan anda percaya kepada anda, maka anda harus menjual diri anda dengan serangkaian action communication yang tepat. Seperti mampu mencapai target pekerjaan yang diberikan, meraih kinerja yang diharapkan, mengatasi dan mengatisipasi masalah dengan baik, memberikan ide-ide, dan lainnya. Kedua, untuk mencapai tujuan kita. Mencapai tujuan membutuhkan upaya. Action communication adalah fokus utama dari aktivitas menjual diri kita. Action communication adalah upaya untuk mencapai tujuan kita.

 

Sebagai contoh seorang penyanyi pemula ingin agar ia sering mendapatkan tawaran bernyanyi di berbagai acara. Untuk mencapai tujuannya ini, ia harus melakukan action communication yang merupakan bagian terpenting dari aktivitas menjual diri. Ia bisa meningkatkan kualitas suaranya, menampilkan atraksi panggung yang mengesankan, berkomunikasi dengan baik dengan audiens, sangat menghibur, lagu-lagu yang dibawakan sangat bervariasi, dan lainnya. Contoh lainnya, seorang pembicara publik ingin mendapatkan 1 milyar pertamanya dari profesinya ini. Tentu ia harus menampilkan action communication yang efektif dan bernilai tambah. Ia bisa menyampaikan materi pelatihan dengan baik dan sangat jelas, mampu tampil sebagai entertainer sehingga audiensnya terhibur, memberikan banyak contoh aplikatif dalam penyampaian materinya, menggunakan multimedia sebagai pelengkap penyampaian materi, memberikan perhatian lebih kepada sebanyak mungkin audiensnya, melakukan tehnik improvisasi agar tidak membosakan audiens, dan lainnya.

 

Mulailah dengan menjual diri anda ke sebanyak mungkin orang saat ini juga. Buatlah apapun yang anda katakan dan apapun yang anda lakukan, haruslah dalam kerangka sedang menjual diri anda. Jualah diri anda ke banyak orang tanpa orang lain menyadari bahwa anda sedang menjual diri anda. Raihlah banyak kesempatan berharga dan hasil yang anda inginkan bahkan hasil yang tidak anda duga-duga dari aktivitas action communication anda. Sukses jual diri, sukses tanpa batas!

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - April 5, 2010 at 3:10 pm

Categories: Personal Success   Tags:

New Year, New Resolution & Achieving Your Goals

happy_2010_new_years_2010_greeting_cards-p137059697326968539q6k5_400[1]Tahun 2010 telah kita masuki. Lebih dari 2 minggu  sudah kita jalani kehidupan di 2010 atau 21 halaman telah kita selesaikan dari 365 halaman buku kehidupan tahun 2010. Masih ada 344 halaman yang bisa kita isi dengan sesuatu yang berharga dan penuh makna bagi kita, orang-orang yang kita cintai, dan orang-orang sekitar kita.

 

Biasanya setiap memasuki tahun baru, kita mengawali segala sesuatunya dengan awal yang baru. Ada sebuah harapan baru, semangat baru dan pembelajaran baru. Tentunya setiap tahun baru akan diikuti dengan serangkaian resolusi dan tujuan-tujuan yang ingin kita capai. 

 

Berbicara resolusi, tentu akan lebih baik apabila kita menyertainya dengan sebuah tujuan. Seringkali resolusi hanya menjelaskan sesuatu yang ingin kita lakukan namun secara garis besar saja. Sedangkan sebuah tujuan merupakan sesuatu yang ingin kita capai di suatu kerangka waktu tertentu. Resolusi adalah bagian dari sebuah tujuan yang ingin diraih. Di tahun 2010 ini mungkin anda memiliki tujuan yang ingin diraih, seperti “lulus kuliah”, “mendapatkan pasangan baru”, “menikah”, “memiliki berat badan ideal”, “mendirikan bisnis”, “meningkatkan jumlah klien”, “peningkatan penjualan dan keuntungan”, “melunasi tagihan kartu kredit”, dan banyak lainnya.

 

Ketika anda memiliki tujuan yang ingin dicapai di tahun 2010, itu merupakan sebuah awal yang bagus. Karena tidak semua individu bersedia menetapkan sebuah tujuan yang ingin diraih di tahun yang akan datang. Namun ketika memiliki sebuah tujuan yang ingin diraih, seberapa sering anda bisa mencapainya? Apakah anda selalu bisa mencapai tujuan di setiap tahun yang dijalani?

 

Saya sering mendengar langsung dari orang-orang yang saya temui maupun mendengar cerita dari orang lain bahwa seringkali sebuah tujuan yang telah ditetapkan untuk diraih ditahun yang berjalan seringkali tidak dapat dicapai atau seringkali meleset dari apa yang diinginkan. Mengapa sebuah tujuan menjadi sulit untuk diraih? Mengapa banyak orang tidak bisa meraih tujuan yang telah ditetapkannya untuk diraih? Mengapa ada sebagian orang yang mampu meraih tujuan-tujuannya? Berikut ini ada beberapa hal yang seringkali menjadi penghambat bagi seseorang dalam mencapai tujuan-tujuannya.

 

Pertama # samar-samar, tujuan yang tidak jelas.

Yang perlu dilakukan : tetapkan tujuan yang jelas dan terukur.

 

Seringkali kita membuat tujuan-tujuan yang tidak jelas, tujuan yang tidak spesifik  yang tidak menjelaskan hasil-hasil spesifik seperti apa yang harus dicapai. Sebagai contoh, ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tujuan seperti ini sangat mengambang dan membingungkan. Persisnya menjadi “lebih baik” seperti apa yang kita inginkan. Contoh lainnya seperti “saya ingin atasan saya berhenti mengkritik saya” atau “pegawai kepercayaan saya mengundurkan diri dan saya ingin kembali”. Tujuan-tujuan seperti ini berada diluar kontrol anda. Suatu tujuan haruslah sesuatu yang anda sendiri ingin capai bukan apa yang harus orang lain capai. Lebih baik apabila tujuan kita menjadi “bekerja lebih baik lagi sesuai yang ditetapkan oleh atasan”.

 

Kedua # kurang fokus.

Yang perlu dilakukan : menempatkan fokus kita setiap hari.

 

Kita memiliki tujuan atau sesuatu yang ingin kita raih namun kita kurang atau tidak memberikan perhatian yang besar dalam proses mencapainya. Menempatkan fokus kita pada pencapaian tujuan merupakan hal yang mendasar dan penting sehingga setiap hal dan situasi yang kita hadapi tidak luput dari pengamatan dan perhatian kita. Dengan fokus dan memberikan perhatian sangat besar pada proses pencapaian tujuan, kita akan selalu menjaga dan mengelola pikiran kita yang akan menggerakkan tindakan kita untuk mengendalikan proses agar tujuan kita semakin dekat dan akhirnya dapat kita raih.   

Ketiga #  lazyness dan ignorances.

Yang perlu dilakukan : memiliki komitmen untuk menyingkirkan hambatan.

 

Lazyness dan ignorances adalah musuh terbesar manusia. Kita semua memiliki potensi lazyness dan ignorances dalam diri. Saya katakan potensi karena keduanya bisa muncul mengganggu dan menghantui setiap pikiran, perilaku dan tindakan kita. Dengan komitmen yang tinggi kita bisa menyingkirkan lazyness dan ignorances sebelum keduanya menghalangi dan mengganggu proses kita mencapai tujuan. Melalui komitmen yang tinggi kita bisa mengatakan tidak kepada kemalasan dan mengenyampingkan sesuatu yang harus dikerjakan. Komitmen yang tinggi merupakan salah satu variabel dari personal power yang harus kita miliki dalam diri kita.

 

Keempat #  menggunakan cara yang keliru atau biasa-biasa saja.

Yang perlu dilakukan : pilih dan lakukan dengan cara yang tepat untuk meraih tujuan.

 

Seringkali tujuan yang tidak tercapai terjadi karena kita menggunakan cara-cara yang keliru atau cara-cara yang biasa-biasa saja. Ketika kita ingin meningkatkan hasil yang ingin dicapai maka kita harus meningkatkan lagi cara-cara kita mencapainya. Hasil yang biasa membutuhkan cara yang biasa, sedangkan hasil yang luar biasa tentu membutuhkan cara-cara yang lebih baik dari sekedar cara-cara untuk mencapai hasil yang biasa-biasa saja. Kita bisa mengetahui cara yang kita lakukan biasa-biasa saja adalah dengan memperhatikan apakah dengan cara-cara tersebut tujuan kita kita semakin dekat atau semakin jauh.

 

Dengan memperhatikan hal-hal yang dapat menghambat kita mencapai tujuan dan mulai melakukan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mematikan hambatan yang akan timbul, maka kita sedang memperbesar peluang dan semakin mendekatkan kita ke pencapaian tujuan. Semoga di tahun 2010 ini, kita berada di dunia baru, awal yang baru, hari yang baru, rencana yang baru, dan akhirnya setiap tujuan yang ingin kita capai di tahun 2010 ini dapat kita raih.

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - January 21, 2010 at 12:41 am

Categories: Personal Success   Tags:

Rencanakan Untuk Yang Terburuk, Berharap Untuk Yang Terbaik

Sudah merupakan sesuatu yang lumrah apabila manusia selalu ingin berada pada situasi yang diinginkannya. Situasi yang diinginkan seringkali merupakan situasi yang menyenangkannya, membahagiakan, atau mungkin situasi yang paling sedikit membawa kerugian dan ketidaknyamanan. Seperti misalnya mendapatkan pasangan hidup yang saling mencintai, mendapat promosi jabatan, mendapat nilai bagus, berhasil mencapai tujuan yang ditetapkan, dan lainnya.

 

Sebaliknya, manusia selalu berupaya untuk menghindar dari situasi yang tidak diinginkannya. Situasi yang tidak diinginkan umumnya situasi yang tidak menyenangkan, membawa banyak kerugian, dan lainnya, seperti ditipu oleh orang, bertengkar, belum mendapatkan pekerjaan, tidak naik kelas, overweight, dan lainnya. Sama halnya dengan manusia, organisasi pun selalu berupaya untuk berada pada situasi yang diinginkannya, seperti produk yang dijual dicari dan dibeli oleh pelanggan, mencapai target penjualan, kepuasan dan loyalitas pelanggan, meraih profit, mencapai kenaikan profit, dan lainnya. Situasi-situasi seperti produk yang tidak laku, penjualan yang tidak mencapai target yang ditetapkan, mengalami kerugian, dan lainnya adalah beberapa situasi yang dihindari oleh banyak organisasi.

 

Situasi yang diinginkan tidak selalu datang dengan sendirinya. Dibutuhkan suatu upaya tertentu untuk mendapatkan situasi tersebut. Situasi yang menyenangkan dan membahagiakan harus diperjuangkan dan diusahakan seoptimal mungkin. Bukan hanya mengandalkan action namun juga harus disertai dengan do’a untuk meraihnya. Situasi yang diinginkan haruslah layak untuk diperjuangkan karena terkandung makna mendalam bagi kehidupan.

 

Namun dalam kehidupan ini selalu ada saja hambatan dan tantangan yang selalu siap menghadang setiap upaya manusia dan organisasi untuk meraih situasi yang mereka inginkan. Meraih yang terbaik seringkali bukan hanya meletakkan fokus pada proses pencapaiannya namun lebih dari itu yaitu melangkah menembus setiap hambatan dan tantangan yang siap menghadang. Seringkali kita bisa memprediksi hambatan dan tantangan yang mungkin terjadi, namun seringkali hambatan dan tantangan itu terjadi tanpa mampu diprediksi sebelumnya. Bahkan banyak diantara kita yang mampu memprediksi apa yang mungkin terjadi tetapi tidak diikuti dengan serangkaian action untuk mencegah jangan sampai hambatan dan tantangan itu menghambat dan membawa kerugian bagi proses pencapaian tujuan kita.

 

Setiap upaya pencapaian tujuan harus diawali dengan mengetahui dan memahami situasi yang terjadi saat ini dan kemudian berangkat dari apa yang terjadi dimasa kini maka kita berusaha melihat, mengetahui dan memahami situasi-situasi seperti apa yang mungkin akan terjadi dimasa depan yang akan menjadi hambatan maupun tantangan bagi langkah kita mencapai tujuan. Menggabungkan berbagai macam informasi dan pengetahuan akan menjadi input yang luar biasa powerful untuk melihat, mengamati, dan memahami seperti apa masa depan itu serta berbagai hambatan dan tantangan yang menyertainya. Miliki input luar biasa ini utuk mencapai apapun yang kita inginkan. Gunakan input luar biasa ini terus melangkah mencapai apa yang kita inginkan walaupun hambatan dan tantangan terus menghadang.     

 

Dengan mengetahui dan memahami seperti apa masa depan mungkin terjadi  serta hambatan dan tantangan yang menghadang maka kita bisa menentukan action seperti apa yang harus dilakukan baik saat ini maupun dimasa depan yang akan menghindarkan kita dari kerugian akibat hambatan dan tantangan yang dihadapi. Ini yang biasa disebut sebagai perencanaan. Pengetahuan dan pemahaman kita akan masa depan berikut hambatan dan tantangan yang mungkin dihadapi harus dimanfaatkan sebagai input untuk merencanakan serangkaian action.

 

Banyak diantara kita termasuk yang pernah saya alami dimasa lalu seringkali melakukan hal-hal yang kontraproduktif, seperti menyepelekan masa depan, mengganggap hambatan dan tantangan masa depan belum tentu terjadi, berharap nasib baik akan menggelayuti diri kita sehingga dengan sendirinya terhindar dari hambatan, sampai malas merencanakan tindakan. Sejujurnya, saya pernah mengalami semua hal-hal kontraproduktif tersebut.

 

Saya akan menceritakan pengalaman saya mengenai dampak yang saya alami karena tidak merencanakan sesuatu hal. Saya pernah kaget luar biasa ketika sesuatu hal terjadi tanpa diduga. Setelah saya renungin ternyata diwaktu lampau saya bisa mempersiapkan diri saya lebih baik lagi untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi di masa kini. Saya pun pernah menyesali kecerobohan saya karena mengganggap sepele suatu hal yang pernah saya prediksi mungkin akan terjadi. Ternyata hal tersebut benar-benar terjadi sehingga saya membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi hambatan walau deadline mencapai tujuan semakin dekat. Serangkaian pengalaman  itulah yang mendorong saya untuk sebisa mungkin merencanakan sebaik mungkin tindakan-tindakan yang mungkin akan saya lakukan apabila suatu situasi yang tidak diinginkan terjadi.

 

Langkah singkat namun powerful : tetapkan tujuan yang ingin dicapai, kenali dan pahami situasi saat ini, himpun sebanyak mungkin informasi dan pengetahuan tentang masa kini. Kemudian kenali dan pahami situasi masa depan yang mungkin terjadi dan situasi yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi, perkuat dengan serangkaian informasi dan pengetahuan tentang masa depan. Dengan berpegang pada informasi dan pengetahuan akan masa depan yang mungkin terjadi maka susunlah serangkaian action untuk menghadapi situasi yang tidak diinginkan. Perjelas action-nya, pikirkan dan pahami sumber daya apa yang dibutuhkan untuk melakukan action tersebut. Apakah sumber daya tersebut sudah kita miliki sekarang? Atau belum? Apabila belum, kapan kita harus memilikinya?

 

Mulailah untuk memperkirakan hal-hal terburuk yang bisa saja terjadi dimasa depan. Pisahkan hal terburuk yang belum tentu terjadi itu dengan keinginan dan keyakinan kita untuk mencapai suatu tujuan. Jangan sampai hal terburuk yang belum tentu terjadi menghambat langkah kita untuk maju. Rencanakan berbagai action untuk mengatasi hal terburuk yang mungkin terjadi. Setelah rencana disusun dengan sebaik-baiknya dan proses pencapai tujuan dijalankan dengan sebaik-baiknya pula maka kita pantas untuk berharap yang terbaik!

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - November 12, 2009 at 2:56 pm

Categories: Personal Success   Tags:

Cara Paling Efektif Menghindari Kegagalan : Tidak Pernah Berusaha Mengejar Sukses & Tetap Berada di Situasi Sekarang !

Mengapa manusia lebih menginginkan berhasil ketimbang gagal? Mengapa manusia takut gagal? Sebetulnya sangat mudah kita menjawab dua pertanyaan ini. Manusia menginginkan keberhasilan karena keberhasilan membuat mereka senang, gembira, bahagia dan puas. Sedangkan manusia takut mengalami kegagalan karena menjadi manusia gagal lebih banyak tidak enaknya ketimbang enaknya.

 

Kalau gagal biasanya kita mengalami kekecewaan, kekesalan, kemarahan, dan kesedihan. Efek-efek ini sangat tidak enak dibandingkan kalau kita mengalami keceriaan, kepuasan, dan kenikmatan. Oleh sebab itu hampir setiap manusia pasti menginginkan keberhasilan walaupun untuk menjadi senang, gembira dan bahagia kita bisa mencapainya kapan saja.

 

Mengetahui dan mambayangkan konsekuensi logis dari suatu keberhasilan biasanya mampu membangkitkan emosi yang memberdayakan. Artinya ketika membayangkan kenikmatan yang didapat ketika berhasil mencapai tujuan kita tentu ada semacam emosi yang mendorong kita untuk menginginkan tercapainya tujuan tersebut. Tentu kita semua tidak akan melewatkan situasi-situasi dimana kita berhasil naik kelas, berhasil berlibur ditempat yang kita inginkan, berhasil pulang kampung untuk berlebaran dengan keluarga, berhasil mendapat promosi jabatan, berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan, dan banyak lainnya.

 

Sebaliknya ketika mengetahui dan membayangkan konsekuensi logis dari kegagalan seperti tidak berada pada situasi yang kita inginkan, harus mengulang kembali proses untuk mencapai tujuan dari awal, mendapat teguran dan beberapa konsekuensi lainnya maka hal ini mampu membangkitkan emosi yang melemahkan diri kita. Artinya ketika kita merasakan secara langsung ketidaknikmatan yang diakibatkan oleh kegagalan kita mencapai suatu tujuan maka emosi seperti kekecewaan, kekesalahan, kemarahan, ketidakbahagiaan sampai trauma berpotensi untuk timbul dan sangat melemahkan diri kita.

 

Seringkali saya memperhatikan bahwa suatu keberhasilan dan kegagalan bisa membentuk 2 tipe manusia. Kesimpulan ini terbentuk dari hasil pengamatan saya terhadap lingkungan sekitar serta berbagai cerita yang saya dengar selama ini. 2 tipe manusia ini muncul dengan asumsi bahwa setiap orang pasti menginginkan suatu keberhasilan atas dan sebaliknya setiap orang pasti ingin menghindari kegagalan.

 

Tipe pertama, setiap orang akan mengupayakan dan mengoptimalkan seluruh sumber daya, strategi dan action yang dibutuhkan untuk mencapai tujuannya. Ketika mereka mencapai suatu tujuan maka saat itulah mereka berada pada situasi keberhasilan. Termasuk pada tipe ini adalah orang-orang yang berorientasi untuk menghindari kegagalan. Orang-orang tipe ini tidak selalu fokus untuk mengejar tujuan yang baru namun mereka terkadang fokus untuk mempertahankan apa yang mereka telah dapatkan saat ini.

 

Mereka sadar bahwa untuk meraih dan mempertahankan suatu situasi yang diinginkannya mereka harus mengambil resiko dengan mengoptimalkan sumber daya, strategi, action yang dibutuhkan untuk meraih atau mempertahankan situasi tersebut.

 

Tipe kedua, orang-orang yang berorientasi untuk menghindari kegagalan namun mereka tidak seperti orang-orang pada tipe pertama. Orang-orang pada tipe ini justru lebih memilih bersikap pasif. Bagi mereka cara efektif untuk menghindari kegagalan adalah dengan tidak pernah berusaha mengejar tujuannya hingga sukses dan tetap tinggal di situasinya sekarang.

 

Mereka memiliki tujuan dan ingin berhasil mencapai tujuannya namun mereka takut gagal sehingga mereka lebih suka dan nyaman untuk sekedar menyimpan suatu tujuan dalam dirinya dan mengimpikan keberhasilan.

 

Mereka cenderung stagnan, tahun berganti mereka masih tetap seperti dahulu. Bukan karena mereka tidak memiliki skills, knowledge, dan pengalaman untuk berhasil namun karena mental blocks mereka jauh lebih dominan dibandingkan keinginan kuat untuk mencapai tujuannya.

 

Umumnya mereka tidak terlalu puas dengan situasi yang mereka capai saat ini dan menginginkan perubahan situasi ke arah kemajuan namun mereka memiliki mental blocks yang sangat kuat dan tidak berani mengambil resiko. Sehingga bagi mereka bertahan di situasi saat ini merupakan suatu langkah efektif.

 

Setiap orang berpotensi untuk memiliki 2 tipe manusia yang berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan. Jadi disatu sisi mereka fokus untuk mencapai suatu tujuan sampai mereka berhasil mencapainya dan disatu sisi untuk tujuan tertentu mereka takut gagal sehingga mereka rela tidak take action dan berusaha puas berada disituasi mereka saat ini.

 

Mengapa manusia bisa memiliki 2 tipe sekaligus disaat bersamaan? Hal ini terjadi sesungguhnya karena manusia memiliki banyak keinginan dan tujuan dalam hidupnya. Untuk keinginan dan tujuan tertentu beberapa orang bertekad untuk mencapainya dan bersedia untuk take action dan mengambil resiko terus menerus. Namun disaat bersamaan ada keinginan atau tujuan tertentu dimana mereka tidak ingin mengambil resiko dan takut untuk gagal sehingga mereka hanya berdiam diri dan berharap keinginan dan tujuannya tersebut dapat tercapai tanpa harus mereka take action untuk meraihnya.

 

Sekali lagi tidak ada keinginan maupun tujuan yang dapat dicapai tanpa membutuhkan strategi dan action untuk mencapainya. Semakin sering kita berhasil mencapai keinginan dan tujuan kita maka hal ini mampu meruntuhkan mental blocks kita atas keinginan atau tujuan dimana kita enggan untuk take action. Semakin sering kita berhasil mencapai keinginan dan tujuan kita, maka semakin mungkin kita untuk bergerak mengejar sukses dan bertekad meninggalkan situasi saat ini.

 

Saya sendiri pernah merasakan menjadi pribadi dengan 2 tipe manusia berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan ini. Bahkan saya pun pernah lebih banyak menghindari keberhasilan karena takut gagal ketimbang berusaha untuk mencapai keberhasilan dan mengambil resiko untuk gagal. Bagaimana dengan anda?

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - October 1, 2009 at 1:04 am

Categories: Personal Success   Tags:

Terinspirasi & Take Action Dengan Berkumpul Dengan Orang-Orang Yang “Lebih” Dari Kita

Jangan pernah meremehkan efek magnet dari sebuah hubungan sosial antar teman serta keterdekatan atau keterikatan pada sebuah komunitas sosial.

 

Sama halnya dengan magnet yang mampu menarik benda-benda yang memiliki unsur logam untuk “mendekat” atau “menempel” dengan benda-benda lain yang memiliki unsur yang sama. Teman atau komunitas sosial bisa sangat mempengaruhi bahkan mengubah sikap, perilaku dan tindakan kita.

 

Berubah menjadi lebih baik tentu bukanlah sebuah persoalan. Namun apabila yang terjadi justru sebaliknya, berubah menjadi pribadi dengan sikap, perilaku maupun tindakan yang buruk, tidak sepantasnya, tidak beretika dan tidak bernilai tambah. Perubahan seorang individu bisa sangat dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya.

 

Saya pun pernah memiliki pengalaman seperti ini. Ketika remaja, memiliki teman-teman yang cool, “asyik”, dan memiliki kesamaan cara bermain merupakan daya tarik bagi saya dan mungkin oleh banyak orang. Ketika saya menemukan beberapa teman yang menurut saya mengasyikkan bagi saya, maka otomatis ada semacam magnet yang menyeret saya untuk lebih dekat lagi dengan mereka.

 

Kedekatan ini yang kemudian mempengaruhi sikap, perilaku dan kebiasaan saya. Saya menjadi perokok, menggampangkan dan menyepelekan pelajaran, suka bermain, mendahulukan teman dibandingkan keluarga dan sering pulang larut malam. Pengaruh ini lama kelamaan saya rasakan hingga mampu mampu merubah sikap, perilaku dan kebiasaan saya. Saya bersyukur sikap, perilaku dan kebiasaan pada masa remaja tersebut akhirnya hilang seiring dengan berjalannya waktu dan kesadaran akan masa depan saya.

 

Orang-orang disekitar kita memiliki magnet yang luar biasa kuat untuk menyeret kita ke arah yang buruk, ke arah kemunduran atau ke arah yang baik menuju pencapaian prestasi.

 

Setelah beberapa lama saya bekerja disuatu perusahaan, saya ingin sekali menjadi seorang entrepreuner. Selain karena ingin memiliki tantangan baru, juga karena ingin memiliki income tambahan dan merealisasikan potensi dalam diri saya yang menurut saya perlu disalurkan. Namun saya punya mental block untuk menjadi seorang entrepreuner.

 

Beberapa alasan yang membuat saya sulit untuk menjadi entrepreuner – walau saya sangat ingin sekali – seperti takut rugi, takut ditipu orang, takut barang yang dijual tidak laku, dan banyak lainnya. Untuk beberapa saat saya hanya bisa menyimpan keinginan sampai suatu saat bertemulah saya dengan seorang teman yang kebetulan menjadi entrepreuner yang lumayan sukses. Dibanyak kesempatan ia sering menceritakan pengalamannya dalam berbisnis. Sebaliknya saya juga memanfaatkan kesempatan ini untuk banyak bertanya dan belajar tentang bisnis serta menjadi entrepreuner yang sukses. Terlebih saya juga mendapat keuntungan berikutnya yaitu mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan beberapa kawan dari teman entrepreuner saya tersebut.

 

Di beberapa kesempatan saya sering diundang untuk sekedar mengobrol dengan para entrepreuner tersebut. Lagi-lagi saya gunakan kesempatan ini untuk banyak bertanya dan meminta mereka untuk menceritakan lebih banyak lagi pengalaman dan tips dalam merintis bisnis. Saya juga menjelaskan kepada mereka tentang impian saya menjadi entrepreuner dan memiliki kebebasan finansial. Lagi-lagi seperti magnet yang menarik sesuatu mendekat kepadanya.

 

Ibarat kekuatan maha dahsyat yang datang tanpa diduga, saya tiba-tiba langsung terinspirasi dan bersemangat. Cara berpikir, keyakinan, optimisme, dan siap menghadapi resiko muncul dalam diri saya. Mental blocks lama-lama berangsur berkurang dan kemudian hilang. Yang muncul kemudian adalah tekad, keinginan yang kuat dan keharusan untuk menjadi entrepreuner. Yang lebih hebat lagi, saya tidak hanya terinspirasi namun juga mulai take action.

 

Pengalaman saya ini tentu juga banyak dialami oleh banyak orang di berbagai belahan dunia. Terinspirasi, menyingkarkan mental blocks dan kemudian take action bisa terjadi karena kita berkumpul dengan sekelompok orang atau komunitas yang memiliki kesamaan minat dan tujuan. Energi positif yang memberdayakan pada kelompok atau komunitas tersebut akan mengalir ke dalam pikiran dan hati kita sehingga timbul kekuatan dahsyat untuk menyingkirkan semua mental blocks.

 

Mungkin terlihat sederhana karena hanya dengan berinteraksi secara intens dan mengambil pelajaran berharga dari orang-orang yang sudah lebih dahulu sukses maka kita pun bisa bangkit dari kondisi saat ini dan mencapai apa yang sesungguhnya kita inginkan dan yang seharusnya kita lakukan.

 

 Kesamaan minat, tujuan dan core belief bisa membuat sekumpulan orang berkumpul dan saling berinteraksi. Seseorang dengan mental blocks namun memiliki minat dan tujuan yang sama dengan beberapa orang yang telah sukses bisa menyingkirkan blocks tersebut dan take action. Jadi jangan pernah menyepelekan peran seorang atau beberapa teman atau komunitas. Mereka bisa sangat mempengaruhi anda, hanya tinggal apakah pengaruh tersebut hanya akan membuat kita menjadi buruk atau menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik dan berani untuk take action.

 

  • Share/Bookmark

Be the first to comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - September 25, 2009 at 6:55 am

Categories: Personal Success   Tags:

2 Langkah Menuju Keberhasilan & 4 Jenis Keberhasilan

images[1]Kegagalan dan keberhasilan adalah 2 hal yang selalu dipersandingkan. Keduanya merupakan suatu konsekuensi bukan sebuah tujuan. Konsekuensi dari apakah kita mampu mencapai apa yang menjadi suatu tujuan atau tidak. Apabila kita mampu mencapai tujuan maka kita berhasil, sedangkan bila tidak bisa mencapai tujuan maka kita sedang mengalami kegagalan.

 

Efek yang ditimbulkan dari suatu keberhasilan biasanya sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan kita. Sebaliknya kegagalan biasanya membawa kekecewaan, kekesalan, kemarahan dan ketakutan melakukan hal yang sama bagi sebagian orang. Oleh karena membahagiakan dan menyenangkan, setiap orang pasti ingin mencapai keberhasilan. Hampir dipastikan pula bahwa setiap orang akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari kegagalan.

 

Fakta universal telah membuktikan bahwa orang-orang yang hebat dan mencapai keberhasilan puncak adalah orang-orang yang lebih banyak mencapai kegagalan daripada keberhasilan. Bahkan orang-orang yang biasa-biasa saja juga lebih banyak mencapai kegagalan dibanding keberhasilan. Dengan begitu kita dapat menyimpulkan bahwa setiap orang pasti akan lebih banyak mencapai kegagalan daripada keberhasilan dalam hidupnya. Namun nyata-nyatanya banyak juga orang berhasil dan sukses walaupun tidak dikenal luas atau bukan seorang public figure yang harus mencapai sekian banyak kegagalan sebelum akhirnya berhasil mencapai tujuannya.

 

Walaupun untuk meraih keberhasilan dan mengalami kegagalan selalu memiliki peluang yang sama besarnya tetapi lebih mudah bagi kita untuk mengalami kegagalan dibanding mencapai keberhasilan. Dengan berpotensi mendapatkan kegagalan lebih banyak daripada keberhasilan berarti setiap orang harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan take action yang terbaik untuk mencapai keberhasilan.

 

Orang-orang yang berhasil selalu melakukan 2 langkah tepat dan bernilai. Langkah pertama adalah memastikan bahwa strategi dan action yang mereka lakukan tidak mengarah pada kegagalan. Langkah kedua mengoptimalkan semua strategi dan action untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan sesuai sasaran waktu. Walaupun harus melewati 2 Langkah, namun benefit dan kenikmatan yang didapat ketika kita mampu mencapai keberhasilan adalah setimpal bahkan mampu melebihi seluruh upaya dan pengorbanan yang telah dilakukan untuk mencapainya. Kesenangan, kebahagiaan, kegembiraan dan kenikmatan yang didapatkan ketika kita berhasil berhasil mencapai tujuan kita merupakan reward terindah. Oleh karena itu secara universal semua manusia tidak pernah jera untuk terus berupaya mencapai keberhasilan. Keberhasilan itu sendiri ada 4 jenis, pertama merubah kegagalan menjadi keberhasilan, mempertahankan apa yang sudah dicapai, mengembangkan atau memperbaiki sesuatu yang telah dicapai, dan terakhir mencapai sesuatu yang belum pernah dicapai.

 

Dari 4 jenis keberhasilan, saya sudah mengalami dan mencapai seluruh jenis keberhasilan tersebut. Merubah kegagalan menjadi keberhasilan dan mengembangkan atau memperbaiki sesuatu yang telah dicapai adalah yang paling banyak saya lakukan dalam hidup saya selama ini. Bagaimana dengan anda?

  • Share/Bookmark

1 comment - What do you think?  Posted by Rezi Arlansyah Soripada - September 24, 2009 at 2:18 am

Categories: Personal Success   Tags: